
Ekspektasi itu ibarat tetangga yang suka pinjam panci tapi tidak pernah mengembalikan: datang bawa angin segar, pergi meninggalkan rasa pening. Kita sering menyusun skenario hidup seindah drama romantis, tapi Gusti Allah malah menyutradarai hidup kita pakai genre komedi absurd ala Srimulat. Begitu ekspektasi menampar kenyataan, bunyinya bukan cuma plak!, tapi ada bonus gema nyut-nyut di hati yang bertahan sampai tiga hari tiga malam.
Coba bayangkan Kang Romli. Niat hati ingin liburan aesthetic ke Bromo demi bikin konten video puitis. Ekspektasinya: berdiri di tepi kawah pakai jaket tebal, menatap matahari terbit sambil menyeruput kopi hangat, diiringi lagu indie yang syahdu. Realitanya? Sampai di lokasi jam tiga pagi, kabut tebalnya mengalahkan tebalnya dosa-dosa masa lalu, suhunya bikin giginya gemetaran mirip bunyi mesin jahit, dan jip yang dia tumpangi mogok di jalan tanjakan. Bukannya dapat foto estetik, Kang Romli malah sibuk dorong mobil sambil disembur asap knalpot, lalu pulang-pulang cuma dapat kenang-kenangan berupa masuk angin level stadium akhir dan jidat yang penuh tempelan koyo.
Atau kisah Kang Marzuki sewaktu datang ke kondangan teman lamanya di gedung mewah. Dari rumah dia sengaja puasa makan siang demi mengosongkan lambung. Ekspektasinya mau membantai menu kambing guling, Zuppa Soup, dan es krim tiga rasa. Amplop sudah diisi Rp100.000 dengan senyum penuh keyakinan. Sampai di lokasi jam satu siang, ternyata antrean makanan sudah bak pendaftaran bansos. Begitu giliran Kang Marzuki tiba di depan meja prasmanan, kambing gulingnya tinggal tulang belulang, es krimnya sudah berubah jadi air kobokan manis, dan yang tersisa cuma nasi putih hangat plus kerupuk kaleng yang sudah agak lempem. Mau minta kembalian isi amplop ya tidak mungkin, mau protes ke katering nanti dikira tidak tawadhu. Akhirnya dia cuma bisa makan nasi uduk siram kuah sop sisa sambil mengelus dada.
Penyakit utama kita saat dihantam kenyataan itu sebenarnya cuma satu: kebanyakan "tapi".
"Aku sih ikhlas hasilnya begini, TAPIIII kok ya tega banget sih?"
Nah, kata "tapi" inilah yang bikin jiwa kita rewel bak balita minta es krim di tengah malam. Dalam khazanah kepasrahan ala santri, ada seni tingkat tinggi yang dinamakan Menerima Tanpa Tapi. Ini adalah maqam tertinggi dari sikap khusnuzon.
Begitu realita menampar pipi kanan, kita tidak usah balik menampar pakai emosi. Cukup elus pipinya, senyum tipis, lalu bilang: "Nggih, Gusti. Skenario-Mu memang agak di luar prediksi BMKG, tapi kulo derek (saya ikut)."
Menerima kenyataan tanpa syarat itu bukan berarti kita menyerah atau kalah, melainkan bentuk kecerdasan emosional agar kepala tidak makin botak karena kebanyakan mikir. Lagipula, kalau semua ekspektasi kita selalu terwujud 100%, dunia ini bakal membosankan. Tidak ada lagi cerita kocak buat bahan obrolan di teras masjid atau pos ronda sambil main catur.
Jadi, kalau besok-besok ekspektasimu ditampar kenyataan lagi, jangan buru-buru bikin status galau dengan lagu melankolis di media sosial. Tarik napas, seduh kopi hitam, lalu katakan pada diri sendiri: "Realitanya memang begini, mau bilang apa lagi? Yang penting masih bisa bernapas dan makan kerupuk!"
Your email address will not be published. Required fields are marked *