
Coba bayangkan zaman nenek moyang kita dulu. Kalau mereka mau tahu kenapa langit warna biru, mereka harus jalan kaki menembus hutan, nyari pertapa di puncak gunung, lalu menunggu petunjuk lewat mimpi. Prosesnya lama, berdarah-darah, dan melelahkan.
Bandingkan dengan kita sekarang. Bangun tidur, mata belum merem-melek sempurna, tangan sudah refleks meraba HP. Belum juga cuci muka, otak kita sudah disuapi 500 informasi sekaligus: dari mulai harga minyak goreng di pasar, kabar artis selingkuh, dan tips menyembuhkan masuk angin pakai rendaman bawang bombai.
Tapi anehnya, makin melimpah informasi yang masuk, kok rasanya makin banyak perilaku ajaib yang bikin mengelus dada? Inilah paradoks manusia modern: kenyang informasi, tapi lapar akal sehat.
Otak Overload, Logika Auto-Off
Dulu orang bertindak konyol karena memang akses informasinya terbatas. Sekarang? Informasi luber sampai lubang telinga, tapi kenyataannya banyak orang yang justru “mabuk” karena kebanyakan menelan info tanpa dikunyah.
Fenomena paling kocak yang sering kita jumpai sehari-hari di antaranya:
Kena penyakit self-diagnosis: Pusing sedikit gara-gara belum minum air putih, langsung searching di internet. Bukannya minum, malah panik sendiri karena menyimpulkan kena penyakit langka dari abad pertengahan.
Membaca judul, emosi duluan: Ada artikel berjudul “Peneliti Menemukan Bahwa Makan Nasi Goreng Jam dua Pagi Bisa Menyebabkan Bahaya”. Padahal isinya cuma imbauan agar tidak kegemukan, tapi di kolom komentar sudah heboh debat politik dan konspirasi dunia.
Guru besar alumni TikTok: Lebih percaya sama influencer umur 19 tahun yang bilang “air kelapa dicampur kecap bisa mendetoks racun tubuh” dibanding nasihat puluhan dokter spesialis yang sekolahnya belasan tahun.
Ibarat perut yang diisi makanan sampah 24 jam nonstop, otak kita juga mengalami “diare informasi”. Semuanya dimasukin, tidak ada yang disaring, akhirnya yang keluar cuma emosi dan kepanikan tanpa alasan.
Grup WhatsApp Keluarga: Pusat Riset Tanpa Uji Klinis
Nggak lengkap rasanya membahas kebodohan modern tanpa menyebut laboratorium informasi terbesar di Indonesia: Grup WA Keluarga.
Di sana, akal sehat sering kali ditukar dengan tombol forward. Tante atau paman kita dengan santainya menyebarkan tulisan berformat ketikan rapi dengan judul gertakan: “SEBARKAN SEBELUM DIHAPUS PEMERINTAH!”.
Isinya beraneka ragam: dari bahaya radiasi HP yang bisa bikin otak meledak, teori konspirasi mi instan buatan alien, dan obat herbal ajaib pencabut segala penyakit. Dan gilanya, banyak yang percaya! Padahal kalau ditanya balik, “Dapat sumbernya dari mana, Paman?”, jawabannya simpel: “Ya dari WA, kan ada tulisannya!”
Informasi zaman sekarang itu mirip air bah. Kalau kita tidak bisa berenang, bukannya segar malah tenggelam.
Gimana Bikin Akal Sehat Kita "Kenyang" Lagi?
Biar otak kita tidak terus-terusan mengunyah trash food berupa hoaks dan konten receh yang menyesatkan, coba terapkan resep sederhana ini:
Aturan pause tiga detik: Sebelum kamu membagikan broadcast heboh atau kepancing emosi sama video pendek, berhenti dulu tiga detik. Tanyakan ke diri sendiri: “Ini masuk akal gak, ya? Atau cuma rekayasa demi likes?”
Mute grup yang bikin emosi: Kalau ada grup yang isi beritanya lebih menyeramkan dari film horor tanpa data yang jelas, matikan notifikasinya selamanya. Kedamaian pikiran itu mahal harganya.
Ingat rumus media sosial: Algoritma media sosial itu dirancang bukan untuk bikin kamu makin pintar, tapi bikin kamu betah scrolling. Jadi, jangan anggap semua yang lewat di FYP adalah wahyu Ilahi.
Dunia digital memang bikin semuanya jadi serba instan. Tapi ingat, kecerdasan dan kemampuan berpikir kritis tidak pernah ada versi instannya. Jangan sampai HP kita sudah Smart, tapi pemiliknya malah makin Unguided.
Your email address will not be published. Required fields are marked *