
Pernah nggak sih kamu scroll Instagram atau TikTok, terus ngelihat sekumpulan orang pakai baju warna senada, ketawa-ketiwi estetik di kafe sambil pegang kopi seharga beras lima kilo? Di bawahnya ada caption gede banget: #SquadGoals.
Wah, kelihatannya sempurna banget, ya? Tapi jujur-jujuran aja deh, di dunia nyata, persahabatan itu nggak selalu sewangi latte art. Kadang baunya lebih mirip koyo cabe dan mie instan rebus di akhir bulan.
Di sinilah filosofi "Squad Goals ala Winatra" masuk. Kita nggak butuh teman yang cuma buat menuh-menuhin feed Instagram, tapi kita butuh teman yang nggak mendadak punya kekuatan menghilang saat kita lagi susah.
Mari kita bahas anatomi pertemanan zaman now!
1. Spesies Teman "Sensor Traktiran"
Kamu pasti punya satu atau dua teman tipe ini. Mereka punya indra keenam yang hanya aktif saat ada kata kunci: "Gaji", "Bonus", atau "Traktir".
Pas kamu bilang: "Eh, gue baru cair nih bonusan!"
Respons mereka (dalam 0,001 detik): "Wihhh! Gasss makan daging! Gue yang booking tempatnya, lo yang gesek ya, Bestie!"
Tapi coba deh balik situasinya.
Pas kamu bilang: "Bro, motor gue mogok di jalan gelap nih, ban bocor. Bisa tolongin nggak?"
Respons mereka: Centang satu. Mendadak WhatsApp-nya error, sinyalnya hilang ditelan bumi, atau besoknya baru balas, "Waduh sorry banget bro, semalem gue ketiduran sambil kayang."
2. Ujian Kelayakan Teman: "Pindahan Kosan"
Kata orang, kamu nggak akan tahu siapa teman sejatimu sampai kamu minta tolong mereka bantu pindahan kosan atau kontrakan. Ini adalah ujian mental dan fisik paling valid.
Teman yang fake akan mendadak sibuk bantuin kucingnya ngerjain PR matematika. Tapi "Squad Goals" yang beneran bakal datang pakai celana pendek belel, keringetan ngangkutin kasur palembang dan kardus Indomie isi baju kotormu, sambil terus-terusan ngomel, "Lo ngapain sih nyimpen galon bocor segala?! Buang aja napa!"
Mereka ngomel? Jelas. Tapi mereka tetap bantu angkat sampai selesai. Itu namanya cinta (yang dibalut emosi).
3. Nggak Mengadili Muka Jelekmu
Teman yang cuma ada pas senang biasanya bakal ngejaga image banget. Kalau foto bareng, filternya lapis tujuh.
Kalau teman sejati ala Winatra? Boro-boro. Pas kamu lagi nangis sesenggukan gara-gara patah hati, muka udah merah, ingus meler, dan curhat panjang lebar... teman sejati malah diam-diam ngefoto muka jelekmu. Buat apa? Buat dijadikan stiker WhatsApp.
Kurang ajar? Banget. Tapi setelah puas ngetawain kamu, mereka bakal beliin kamu es krim atau ngajak makan nasi padang pakai dua lauk supaya kamu berhenti menangis. Hangat, kan?
Kesimpulannya: Lingkaran Kecil Tapi Solid
Gini ya, teman-teman. Punya circle pertemanan yang isinya 30 orang itu capek. Bayangin aja kalau semuanya ulang tahun, habis berapa gaji kamu buat patungan beli kue?
Nggak perlu sedih kalau temanmu cuma dua atau tiga orang. Asalkan mereka adalah tipe orang yang kalau kamu bilang, "Gue lagi nggak punya duit nih," mereka bakal jawab, "Sama. Ya udah yuk nongkrong di teras aja, gue bawa kacang atom."
Squad goals yang sebenarnya bukanlah tentang seberapa sering kalian liburan ke Bali bareng. Squad goals adalah tentang seberapa kuat kalian bertahan mendengarkan curhatan yang diulang-ulang, menertawakan hal bodoh yang sama, dan tetap ada meski Wi-Fi lagi mati.
Jadi, coba cek lagi kontakmu. Siapa orang pertama yang bakal kamu telepon kalau kamu tiba-tiba dikejar soang di gang buntu? Nah, merekalah squad sejatimu. Pegang erat-erat, jangan sampai lepas (dan jangan lupa traktir mereka sesekali kalau lagi ada rezeki!).
Your email address will not be published. Required fields are marked *