
Pernah nggak sih kamu bangun pagi, nyawa belum kumpul sempurna, mata masih setengah lengket, tapi jempol udah otomatis buka Instagram? Di detik pertama, kamu disambut Story teman Si A yang lagi flexing buket bunga isi uang pecahan seratus ribu dari pacarnya. Di detik kedua, kamu ngeklik Story Si B yang isinya layar hitam legam dengan caption: "Emang ya, ekspektasi itu membunuh. Hancur banget."
Baru lima menit melek, emosimu udah diajak naik roller coaster ngelewatin Dufan, Universal Studio, sampai Disneyland. Capek, kan?
Selama ini, kita sering banget denger nasehat "Jangan oversharing, nanti privasimu keganggu!" Nah, kali ini mari kita bahas dari angle yang beda. Kenapa sih mendingan kita simpan aja selebrasi dan tangisan kita? Bukan cuma soal privasi, bestie, tapi ini soal hukum ekonomi dan mentalitet tukang popcorn di dunia maya!
Mari kita bedah kenapa ngunci rapat-rapat luka dan bahagia itu aslinya asyik banget.
Sama kayak uang, momen hidup kita itu bisa kena inflasi kalau terlalu sering diedarkan.
Coba bayangin. Kalau kamu sebulan sekali nge-post foto makan malam romantis di tempat yang lampunya remang-remang, followers-mu bakal bereaksi: "Wah, so sweet banget, goals abis!" Tapi, kalau T-I-A-P H-A-R-I kamu nge-post kegiatan bareng pacar—mulai dari nyuapin seblak, nemenin nyuci motor, sampai screenshot video call jam 3 pagi pas kalian lagi ketiduran ngiler—percayalah, nilainya bakal anjlok. Netizen nggak lagi ngerasa itu sweet, yang ada mereka ngebatin, "Ini orang berdua kagak punya kegiatan lain apa ya selain pacaran? Nggak kerja bakti RT gitu?"
Kebahagiaan yang terlalu sering diumbar itu lama-lama kehilangan magic-nya. Eksklusivitasnya hilang. Kayak barang limited edition yang mendadak dijual obral di pasar malam.
Pas kita lagi hancur-hancurnya (misal: habis diputusin, dimarahin bos, atau ketipu online shop beli iPad yang datang batu bata), insting kita adalah mencari simpati. Kita mikir, "Kalau gue bikin status galau, pasti banyak yang nge-DM ngasih semangat."
Faktanya? Dari 100 orang yang lihat status galau kamu:
5 orang beneran peduli dan nanya "Are you okay?"
15 orang skip cepet karena lagi sibuk nyari info diskonan.
80 orang sisanya langsung siap-siap nyari popcorn.
Yep, di dunia nyata, nggak semua orang yang nanya "Kenapa, Kak?" itu beneran peduli. Banyak dari mereka yang nanyanya pakai nada empati, padahal di dalam hati lagi gelar tiker nungguin spill kelanjutan dramanya. Kesedihan yang diumbar ke publik itu rentan banget berubah fungsi jadi hiburan gratis buat orang lain. Sayang kan, air mata mahalmu cuma jadi rating buat "sinetron" timeline mereka?
Ini adalah rahasia umum yang sering dilupakan. Setiap kali kamu mengumumkan kebahagiaan paripurna ke dunia, selalu ada "pajak" yang siap menanti.
Pajak Finansial: Baru aja posting foto di bandara mau liburan, tiba-tiba masuk WA: "Wuih, jalan-jalan terus nih bos. Jangan lupa oleh-olehnya ya! Eh iya, sekalian, pinjam seratus dong, besok diganti."
Pajak Julid: Posting pencapaian berhasil beli mobil pakai jerih payah sendiri. Komentar tetangga/saudara di grup keluarga: "Alhamdulillah ya. Itu beneran murni nabung atau ambil cicilan yang bunganya mencekik leher? Hati-hati lho..." (Niatnya pamer prestasi, malah disuruh istighfar).
Pajak Penyakit 'Ain: Buat yang percaya, memamerkan kebahagiaan berlebihan itu bisa ngundang energi negatif dari rasa iri orang lain. Habis posting kemesraan tiada tara, besoknya tiba-tiba berantem hebat cuma gara-gara rebutan remote TV.
Tahu nggak apa yang lebih enak dari validasi netizen? Punya dunia kecil rahasia yang cuma kamu dan orang-orang tersayangmu yang tahu.
Makan ayam geprek terenak sekecamatan pas lagi kelaparan tingkat dewa, dan kamu langsung memakannya saat itu juga tanpa disuruh nunggu sesi foto. Mengalami momen lucu bareng keluarga sampai ngakak sakit perut, dan momen itu murni tersimpan di otak, bukan di memori HP.
Ketika kamu berhenti ngerasa punya kewajiban untuk "melaporkan" hidupmu ke dunia, kamu bakal sadar kalau hidupmu itu aslinya udah utuh. Kamu nggak butuh likes buat ngebuktiin kalau kamu bahagia, dan kamu nggak butuh belas kasihan followers untuk nyembuhin lukamu.
Jadi, mulai sekarang, kalau kamu nemu kafe hidden gem yang kopinya enak banget dan suasananya sepi, nikmati aja. Nggak usah di-Viral-in di sosmed. Nanti kalau rame, kamu sendiri yang ngomel karena nggak kebagian tempat duduk.
Biarkan dunia terus berputar, biarkan netizen sibuk menebak-nebak, dan biarkan hidupmu jadi misteri yang indah!
Your email address will not be published. Required fields are marked *