
Jujur deh, skenario ini pasti pernah kejadian: Lagi enak-enak ngopi sore, iseng buka HP, niatnya cuma mau ngecek kabar dunia. Tiba-tiba di timeline muncul teman SD yang baru aja beli rumah cluster dua lantai. Scroll lagi, teman kuliah lagi pamer sertifikat S2 di luar negeri. Scroll lagi, ada anak umur 19 tahun udah jadi Founder Startup.
Duar! Kopi yang tadinya manis mendadak pahit. Dada rasanya sesak. Muncul suara jahat di kepala yang ngebisikin: "Lihat tuh orang lain udah lari kencang. Lah elo? Masih gini-gini aja. Ngapain aja sih lo hidup?"
Tenang, Bro/Sist. Tarik napas dulu. Perasaan itu valid banget. Itu manusiawi. Tapi, mari kita bedah ini pakai kacamata Compassionate Management. Kita belajar me-manage perasaan ini bukan dengan hukuman, tapi dengan pengertian.
Coba bayangin kalau lu punya bos di kantor. Tiap kali lu lagi istirahat sebentar, bos ini teriak, "Eh, si A udah selesai kerjaan, kok kamu masih duduk?! Dasar pemalas!" Sakit hati kan punya bos kayak gitu?
Nah, sadar nggak sadar, kita sering jadi manajer yang jahat buat diri sendiri. Saat kita lihat pencapaian orang di medsos, "Manajer Jahat" di otak kita langsung ngeluarin surat peringatan (SP). Dia membandingkan chapter 1 kita yang masih berantakan, sama chapter 20 orang lain yang sudah diedit rapi.
Dalam Compassionate Management, kita diajak buat mecata tuh si Manajer Jahat. Ganti sama Manajer yang Welas Asih. Pas lu merasa tertinggal, Manajer yang baik bakal bilang: "Hei, nggak apa-apa kok belum sampai sana. Kamu juga udah berjuang, kan? Istirahat dulu gih, napas dulu."
Ingat ini: Orang memposting momen bahagia bukan berarti hidup mereka tanpa masalah.
Foto liburan estetik di Bali? Mungkin di balik itu dia lagi pusing mikirin cuti yang mau habis.
Foto makanan mewah? Mungkin sebelumnya dia makan mie instan seminggu demi foto itu.
Kita sering lupa memberi compassion (kasih sayang) ke fakta bahwa semua orang berjuang. Si sukses di Instagram itu juga manusia, dia juga punya rasa takut, dia juga pernah nangis di kamar mandi. Jadi, berhenti membandingkan "bloopers" (kesalahan/kekurangan) hidupmu dengan "trailer film" terbaik mereka. Itu perbandingan yang nggak apple-to-apple, Bro.
Selama ini kita dihantui FOMO (Fear of Missing Out). Takut ketinggalan tren, takut nggak update. Coba deh kita ganti mindset-nya jadi JOMO (Joy of Missing Out). Nikmatnya ketinggalan.
Lho, kok nikmat? Iya. Ada kedamaian luar biasa saat kita sadar bahwa kita nggak harus ada di semua tempat dan nggak harus jadi segalanya.
Temanmu sukses di bisnis kopi? Keren, kita tepuk tangan. Itu jalan dia.
Kamu belum punya bisnis dan masih nyaman jadi karyawan? Keren juga. Itu jalan kamu.
Menjadi compassionate berarti menghargai bahwa setiap bunga mekar di waktu yang beda. Ada yang mekar pagi, ada yang mekar malam (kayak bunga Wijaya Kusuma). Kalau kamu belum mekar sekarang, bukan berarti kamu gagal. Kamu cuma lagi proses kuncup. Dan kuncup itu juga indah, kok.
Ini tes paling gampang. Kalau sahabat baikmu datang ke kamu sambil nangis dan bilang, "Aku merasa gagal karena temanku lebih sukses," apa yang bakal kamu katakan?
Apa kamu bakal bilang: "Iya sih, lo emang payah banget!" Pasti enggak, kan? Kamu pasti bakal meluk dia dan bilang: "Hei, kamu udah hebat banget bertahan sampai hari ini. Jalanmu masih panjang."
Nah, kenapa giliran ke diri sendiri, kita malah jahat? Mulai sekarang, coba bicara ke diri sendiri dengan nada lembut yang sama kayak waktu kamu ngomong ke sahabatmu. Itu inti dari Compassionate Management.
Merasa tertinggal itu sinyal kalau kamu peduli sama masa depanmu. Itu bagus. Tapi jangan biarkan sinyal itu membakar rumahmu sendiri.
Jadikan pencapaian orang lain sebagai inspirasi, bukan intimidasi. Tutup sebentar aplikasinya. Lihat sekeliling. Ada atap yang menaungimu, ada napas yang masih berhembus. Kamu baik-baik saja. Kamu cukup.
Yuk, lanjutin hidup dengan lebih santai. Dunia nggak bakal kiamat cuma karena kamu nggak posting story hari ini.
Your email address will not be published. Required fields are marked *