
Jam menunjukkan pukul 02:13 dini hari.
Langit gelap, sunyi senyap, AC berdengung pelan.
Harusnya, ini waktu untuk tidur. Mengistirahatkan raga agar esok bisa bangun pagi dan menyambut dunia dengan senyuman (atau setidaknya tidak telat absen).
Tapi tidak. Otak saya malah memilih jam ini untuk mengadakan Talkshow Eksklusif dengan tema:
"Evaluasi Kebodohan Diri Sendiri Sepanjang Hayat."
Tiba-tiba, mata saya melek total. Plafon kamar terlihat sangat menarik untuk ditatap. Dan satu pertanyaan besar muncul di kepala, menggema seperti sound system hajatan:
"Kenapa sih, aku begini?"
Momen "Kenapa Aku Begini"
Pertanyaan ini biasanya muncul dipicu oleh kejadian-kejadian yang membuat IQ kita terasa turun drastis ke angka satu digit.
Coba ngaku, siapa yang pernah:
Berantem sama Pintu:
Tulisan di kaca jelas-jelas "DORONG". Font-nya Arial Black, ukuran 72, warna merah. Tapi apa yang kita lakukan? Kita TARIK sekuat tenaga sampai urat leher keluar.
Pas pintunya nggak gerak, kita malah marah, "Ih, macet ya?"
Mbak-mbak kasir di dalam cuma bisa menatap nanar sambil membatin, "Sabar, ujian."
Di situ kita mikir: Kenapa aku begini? Kenapa motorikku berkhianat?
Balasan Otomatis yang Salah Server:
Pelayan restoran mengantar makanan dan bilang, "Selamat menikmati, Kak!"
Dengan penuh percaya diri dan senyum manis, kita jawab:
"Iya, Mas. Kamu juga ya!"
Hening 3 detik. Si Mas-nya bingung (dia kan lagi kerja, bukan lagi makan). Kita pengen menghilang ditelan bumi atau minimal berubah jadi sendok garpu.
Kenapa aku begini? Kenapa mulutku lebih cepat dari otakku?
Mencari Benda yang Dipegang:
Panik keliling rumah. "HP mana?! Ya ampun HP-ku hilang! Woi, ada yang liat HP-ku nggak?!" teriak kita sambil menelepon orang rumah... PAKE HP YANG KITA CARI ITU.
Ini bukan pikun, ini error system.
Pertanyaan Tidak Penting Lainnya (Yang Tiba-tiba Jadi Penting)
Setelah sesi menyalahkan diri sendiri selesai, otak kita nggak berhenti di situ. Dia mulai loading pertanyaan-pertanyaan sampah yang nggak ada jawabannya di buku pelajaran sekolah, tapi bikin penasaran setengah mati.
Kenapa hal-hal ini kita lakukan?
Misteri Volume Radio Saat Parkir
Kenapa kalau kita lagi nyari alamat atau mau parkir mundur, hal pertama yang kita lakukan adalah mengecilkan volume radio?
Apakah mata kita terhubung sama telinga? Emangnya kalau lagunya Sheila On 7 berhenti, tiang listrik di belakang mobil jadi kelihatan lebih jelas?
Secara sains nggak masuk akal, tapi secara naluri, itu wajib.
Tekanan Tombol Remote
Kenapa kalau baterai remote TV habis, kita bukannya ganti baterai, tapi malah memencet tombolnya lebih keras?
Emangnya baterainya bakal mikir, "Waduh, si Bos marah nih, ayo keluarkan sisa tenaga terakhir!"? Nggak gitu konsepnya, Bambang.
Paradoks Mie Instan
Kenapa mie instan buatan orang lain (terutama warkop/burjo) rasanya 100x lebih enak daripada buatan sendiri? Padahal mereknya sama, airnya sama, pancinya sama.
Apakah abang warkop punya bumbu rahasia berupa keringat perjuangan? Atau karena mie itu rasanya lebih enak kalau bukan kita yang capek masaknya?
Panggilan Alam Semesta
Kenapa rasa gatal di punggung selalu berada di titik yang paling tidak bisa dijangkau oleh tangan kita sendiri? Ini konspirasi tubuh atau gimana? Kita jadi kayak orang joget-joget sendiri ngegesek punggung ke tembok.
Jawabannya Adalah...
Sebenarnya, jawabannya sederhana.
Kenapa kita begini? Kenapa kita melakukan hal-hal konyol, absurd, dan nggak penting itu?
Karena kita manusia, Bestie. Bukan robot AI yang sempurna (ehem).
Kita didesain dengan fitur bug dan glitch yang namanya "kecerobohan" dan "kemalasan". Justru hal-hal receh inilah yang bikin hidup kita berwarna. Bayangkan kalau hidup kita lurus-lurus aja, serius terus, sempurna terus. Nggak ada cerita lucu buat diketawain pas nongkrong. Nggak ada kenangan malu-maluin yang bikin kita senyum sendiri sebelum tidur.
Kebodohan-kebodohan kecil itulah yang membuat kita "relatable". Itu yang bikin kita hangat.
Jadi, kalau besok kamu salah narik pintu lagi, atau nyari kacamata padahal lagi dipake di kepala, jangan sedih.
Tarik napas, senyum, dan bilang sama diri sendiri:
"Ah, emang dasar aku. Lucu banget sih gue."
Terimalah sisi "receh" dirimu. Karena kalau kamu nggak menertawakan diri sendiri, siapa lagi? (Eh, banyak sih, temen-temen kamu pasti ketawa paling kenceng).
Selamat menjadi manusia yang nggak sempurna tapi tetep asik!
Your email address will not be published. Required fields are marked *