
Halo sobat pejuang hustle culture dan kaum rebahan yang budiman! Pernah nggak sih kamu lagi bengong di kamar kosan terus tiba-tiba overthinking, "Aduh, umur segini tabungan masih UMR mepet, belum bisa ngasih jatah bulanan gede ke orang tua. Durhaka nggak ya gue?"
Tarik napas panjang... dan chill, bestie! Emang sih, hidup di era di mana feed media sosial isinya orang-orang pamer beliin Alphard buat ibunya di umur 20 tahun itu bikin insecure. Tapi percayalah, berbakti kepada orang tua itu nggak melulu soal seberapa panjang digit nol di resi transferan M-Banking kamu.
Sama kayak kita yang kalau pacaran punya Love Language (entah itu maunya dipuji-puji atau maunya dibayarin makan), orang tua kita juga punya Love Language lho! Bedanya, bahasa cinta kearifan lokal ini kadang bentuknya agak... random, gengsian, dan bikin kita senyum-senyum sendiri.
Yuk, kita bedah love language orang tua kita biar kamu bisa dapet "Poin Anak Berbakti" tanpa harus nunggu jadi CEO dulu!
1. Acts of Service: Sekte Buah Potong dan Hal Gaib di Rumah
Kalau di film Hollywood, orang tua yang peduli bakal meluk anaknya sambil nangis. Di Indonesia? Jangan harap! Kalau kamu lagi kelihatan stres, banyak pikiran, atau habis nangis, tiba-tiba di mejamu bakal muncul sepiring buah potong (biasanya apel, pepaya, atau mangga).
Mereka nggak bakal nanya, "Are you okay, sweetheart?" Nggak, nggak gitu konsepnya. Mereka cuma taruh piringnya, lalu pergi. Itu adalah terjemahan langsung dari kalimat: "Mama/Papa peduli sama kamu, tolong jangan sedih lagi, makan nih buah biar sehat." Cara bales baktinya: Makan buahnya sampai habis, balikin piringnya ke dapur, trus cuci sekalian. Gitu doang mereka udah terharu!
2. Words of Affirmation: Roasting Berkedok Perhatian
Orang tua Asia itu alergi banget bilang "I love you" atau "I'm proud of you". Kalau dipaksa ngomong gitu, bisa-bisa suasana rumah langsung canggung tingkat dewa. Sebagai gantinya, afirmasi mereka datang dalam bentuk omelan atau pertanyaan retoris.
"Tumben jam segini udah bangun, kesambet apa kamu?" (Artinya: Wah, rajin banget anakku hari ini, bangga deh!)
"Makanya, dibilangin jangan tidur malem-malem sambil main HP!" (Artinya: Aku khawatir sama kesehatanmu, Nak.)
"Udah makan belum?" (Ini adalah puncak dari segala bentuk kata-kata cinta).
Cara bales baktinya: Jangan baper kalau di-roasting. Jawab aja dengan ceria, "Udah bangun dong, kan mau jadi orang kaya! Btw, masak apa Mak hari ini?" Dijamin hidungnya kembang kempis nahan senyum.
3. Receiving Gifts: Tolak Angin dan Omongan "Ngapain Sih Beli Ginian!"
Pernah nggak sih nabung mati-matian buat beliin bapakmu sepatu bagus atau beliin ibumu tas, terus pas dikasih reaksinya malah: "Aduh, ngapain sih buang-buang duit? Mending disimpen aja uangnya!" Eits, jangan sakit hati dulu! Coba cek minggu depannya. Tas atau sepatu itu pasti dipakai ke kondangan, ke arisan, bahkan ke pasar, sambil mereka humble brag ke temen-temennya: "Iya nih, dibeliin sama anak saya kemarin, padahal saya udah bilang nggak usah repot-repot." (Padahal dalam hati kegirangan).
Hadiah dari mereka ke kita juga unik. Biasanya berupa ngirimin paketan rendang sekarung, Tupperware isi bekal, atau tiba-tiba naro Tolak Angin sama koyo di tas ransel kita.
Cara bales baktinya: Puji masakan bekalnya, pakai bajunya (walau kadang warnanya nabrak), dan iya-iyain aja omongannya pas ngasih kado.
4. Quality Time: Menjadi Customer Service Gadget Pribadi
Nah, ini nih ujian kesabaran level abdi dalem. Quality time bagi orang tua zaman now bukan jalan-jalan ke mall atau deep talk di cafe estetik. Quality time mereka adalah: Nyuruh kamu benerin WiFi yang sebenernya cuma kepencet Mode Pesawat.
Atau, dengerin mereka curhat soal berita hoaks di grup WhatsApp keluarga ("Ini katanya kalau makan durian dicampur soda bisa meledak perutnya lho, Nak!").
Cara bales baktinya: Duduk di sebelah mereka. Jangan di-gas atau diketawain. Ajarin cara pakai Shopee atau cara nge-blokir nomor spam dengan sabar. Nemenin mereka nonton sinetron azab sambil sesekali ikut emosi sama karakter antagonisnya juga udah bikin mereka ngerasa bonding banget sama kamu.
5. Physical Touch: Ritual Cabut Uban dan Kerokan
Pelukan? Cium pipi? Waduh, bagi sebagian besar keluarga kita, itu bisa bikin merinding disko karena saking canggungnya. Physical touch di keluarga lokal itu sangat praktikal dan menguntungkan kedua belah pihak.
Apa itu? Cabut uban dan kerokan.
Nggak ada momen yang lebih intim selain duduk di teras sore-sore, nyariin uban bapakmu pakai pinset, dan dibayar Rp 1.000 per lembar. Atau ngerokin punggung ibumu pakai koin pecahan Rp 500 dan balsem cap elang sampai pola garis-garis merahnya simetris dan paripurna.
Cara bales baktinya: Tawarkan diri sebelum diminta! "Pak, keliatannya udah banyak ubannya tuh, mau dicabutin nggak?" Percayalah, tawaran ini lebih romantis bagi mereka daripada diajak candle light dinner.
Kesimpulannya, Berbakti di zaman sekarang tuh nggak harus selalu nunggu kamu sukses punya rumah gedongan atau jadi sultan. Hal-hal receh kayak bales cepet chat mereka di grup keluarga (jangan di-read doang ya, tolong!), ngabisin makanan yang udah mereka masak, atau sekadar sabar ngajarin mereka main HP, itu udah jadi bentuk bakti yang bikin hati mereka anget.
Ternyata love language orang tua kita sederhana banget, kan? Nggak melulu soal uang. Ya... walaupun kalau bulan depan kamu tiba-tiba transfer 5 juta ke rekening mereka, mereka pasti bakal sujud syukur juga sih.
Yuk, sapa orang tua kamu hari ini! Kalau mereka nanya tumben, bilang aja "Abis baca artikel blog nih, tiba-tiba kepikiran."
Your email address will not be published. Required fields are marked *