
Mari kita jujur satu hal: hidup di era sekarang itu melelahkan. Tekanan sosial bikin kita ngerasa kalau umur 25 tahun belum punya saham di bursa efek atau minimal jadi Co-Founder perusahaan startup yang nama kantornya pakai bahasa senja, kita dianggap gagal total.
Fenomena "kebelet sukses" ini akhirnya melahirkan spesies manusia baru: Kaum Sikut Kanan-Kiri. Mereka adalah orang-orang yang kalau jalan menuju kesuksesan, spionnya dipatahin. Gak mau lihat belakang, gak mau lihat samping, pokoknya gas pol walau harus nabrak temen sendiri.
Tapi, pernah gak kita bedah pakai kacamata spiritual yang agak mendalam tapi tetep bikin nyengir? Yuk, kita bahas kenapa aksi sikut-menyikut ini sebenarnya adalah tanda kalau kita lagi "krisis identitas" di hadapan Tuhan.
Analogi Tikus dan Keju: Kenapa Kita Suka Sikut-Sikutan?
Dalam dunia psikologi industri, ada istilah Rat Race (balapan tikus). Bayangkan sekelompok tikus di dalam labirin yang berebut satu potong keju. Mereka bakal saling cakar, saling gigit, dan saling injak demi dapet keju itu.
Nah, sadar atau gak, banyak dari kita yang memperlakukan dunia ini kayak labirin tikus tadi.
Ø Di dunia kerja: Ada proyek bagus, langsung pasang strategi "gembosi ban serep" temen satu tim. Biar pas presentasi, cuma kita yang kelihatan bersinar kayak lampu petromak.
Ø Di dunia bisnis: Lihat tetangga sebelah jualan seblak laris, bukannya inovasi rasa, kita malah sibuk bikin spanduk tandingan yang isinya menjatuhkan, atau minimal nge-gosipin pakai isu "pake penglaris ya?".
Kenapa ini bisa terjadi? Karena kita menderita sindrom Scarcity Mindset (mentalitas kekurangan). Kita merasa kalau orang lain dapet rezeki atau jabatan, berarti jatah kita berkurang. Ini persis kayak emak-emak rebutan minyak goreng murah di supermarket: kalau gak brutal, gak kebagian!
Sisi Kritis: Ketika Doa Dijadikan "Pelicin" Dosa
Ini bagian yang agak menampar tapi nyata. Banyak di antara kita yang egonya setinggi langit, sampai-sampai berani mendikte Tuhan. Kita pengen sukses, tapi kita juga yang bikin aturan mainnya.
Coba perhatikan kontradiksi komedi ini:
Di sepertiga malam kita nangis-nangis di atas sajadah, minta dimudahkan rezeki dan jabatan. Tapi jam 9 pagi di kantor, kita dengan tenang bikin laporan fiktif, potong anggaran konsumsi, atau nge-WA bos sambil nge-jelekkin rekan kerja yang kerjanya lebih rajin.
Secara gak sadar, kita lagi mempraktikkan "sekularisme terselubung". Agama cuma dipakai pas lagi butuh ketenangan batin, tapi pas nyari duit? Pakai hukum rimba! Kita lupa kalau esensi dari tauhid itu bukan cuma percaya Tuhan itu ada satu, tapi juga percaya kalau Tuhan gak butuh bantuan cara-cara haram kita buat bikin kita kaya.
Kalau kita harus mengorbankan kejujuran demi dapet sebuah posisi, itu bukan "pencapaian", itu namanya kita lagi beli tiket VIP menuju panggung sandiwara yang bikin stres seumur hidup. Tiap hari waswas, takut boroknya ketahuan.
Mengubah Paradigma: Dari "Sikut" Jadi "Sambut"
Kalau dibedah secara mendalam, konsep rezeki dalam Islam itu kayak jaringan Wi-Fi omnidirectional. Gak bakal lemot cuma karena tetangga sebelah lagi download film biru (eh, maksudnya film dokumenter). Kuotanya tak terbatas!
Jadi, daripada encok gara-gara keseringan nyikut kanan-kiri, mending kita ubah polanya pakai Abundance Mindset (mentalitas kelimpahan) yang berbasis Tauhid:
Rezeki Itu Bukan Kue Tart: Kalau kue tart dipotong delapan, kamu ambil satu, sisa tujuh. Rezeki gak gitu. Orang lain sukses besar gak akan mengurangi miliaran peluang yang udah disiapin buat kamu. Jadi, santai aja pas lihat temen naik jabatan. Ucapin selamat, siapa tahu dapet traktiran kopi gratis.
Sukses Tanpa Tumbal Itu Lebih Nyenyak: Gak ada gunanya punya slip gaji digit dua atau tiga tapi tiap malam harus minum obat tidur karena kepikiran taktik licik apa lagi yang harus dimainkan besok pagi. Sukses yang berkah itu bikin tidurmu merem seketika begitu kepala nempel bantal, bahkan tanpa perlu dengerin musik lo-fi.
Fokus pada "Value", Bukan "Volume": Daripada sibuk mikirin gimana cara menjatuhkan saingan, mending sibuk naikin kapasitas diri. Kalau kamu emang se-berkualitas itu, gak usah cari muka pun, mukamu bakal dicari sama orang yang butuh keahlianmu.
Kesimpulan Ringan
Kebelet sukses itu manusiawi banget, gak usah ngerasa bersalah kalau punya ambisi. Yang gak boleh itu kalau ambisinya bikin kita kehilangan akal sehat dan harga diri.
Dunia ini luas, bro dan sist. Lapangannya masih lebar buat kita lari bareng-bareng tanpa harus saling sleding kayak pemain bola tarkam. Lagian, apa gak capek hidup penuh intrik kayak karakter antagonis di sinetron?
Mulai besok, yuk simpan sikutnya baik-baik. Gunakan tangan kita buat kerja yang bener, bersalaman dengan jujur, dan menengadah minta rezeki yang berkah. Sukses dapet, pahala dapet, warasnya juga tetep terjaga!
Your email address will not be published. Required fields are marked *