
Setiap tanggal 1 Oktober, linimasa media sosial penuh dengan ucapan Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Ada gambar garuda emas yang gagah, kutipan-kutipan patriotik, hingga foto pejabat senyum simetris di papan reklame pinggir jalan. Tapi mari kita jujur sebentar, kalau pertanyaan "Apa arti sakti di era modern?" dilemparkan ke barisan budak korporat yang matanya udah mirip panda akibat deadline, jawabannya pasti bukan kebal senjata tajam atau bisa terbang. Kesaktian masa kini itu sederhana: sanggup bertahan hidup di tengah kepungan chat Slack jam 10 malam tanpa kena serangan panik.
Bicara soal Pancasila, sila kelima—Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia—sering kali terasa muluk-muluk dan cuma ada di dalam buku teks PPKn SMP. Padahal, keadilan sosial itu nggak cuma urusan bagi-bagi bansos atau pembangunan jalan tol. Keadilan sosial yang paling riil, paling terasa, dan paling sering bikin elus dada justru dimulai dari hal yang sangat personal: meja kerja tempat kamu menaruh laptop, botol minum tupperware, dan sisa-sisa harapan hidupmu setiap hari dari jam sembilan sampai jam lima (yang prakteknya sering molor sampai jam sembilan malam).
Coba bayangkan skenario ini: kamu kerja dengan performa luar biasa, menyelesaikan target lebih cepat dari tenggat waktu. Bukannya dapat bonus atau tepuk tangan, hadiah dari atasan atas efisiensimu adalah... limpahan pekerjaan dari rekan tim lain yang hobi procrastinating! Ini adalah sebuah anomali sosial. Di manakah letak keadilan sosial kalau orang yang kerja cepat malah dihukum dengan beban kerja dua kali lipat, sementara yang santai-santai tetap dapat gaji yang sama? Dalam teologi dunia kerja modern, ini namanya "Siksaan Orang Kompeten". Keadilan sosial di meja kerja artinya apresiasi itu harus sebanding dengan kontribusi, bukan menjadikan karyawan teladan sebagai tumbal proyek.
Lalu ada mantra legendaris dari pihak manajemen atau HRD yang bunyinya begini: "Kita di sini kan udah kayak keluarga ya..."
Tolong catat baik-baik. Keluarga yang sehat itu kalau kamu sakit diurusin, kalau kamu butuh bantuan dirangkul, dan kalau ada rezeki dibagi rata. Tapi "keluarga" versi perusahaan sering kali berarti: kamu wajib loyal tanpa batas, siap lembur di hari Minggu demi kepuasan 'orang tua' (baca: bos), tapi begitu kamu minta penyesuaian gaji karena inflasi melonjak, reaksi mereka langsung seperti ibu tiri di sinetron 90-an. Keadilan sosial berarti menghormati batas profesional. Perusahaan adalah tempat transaksi pertukaran jasa dan finansial yang saling menguntungkan, bukan panti asuhan tempat kamu membarter masa muda dan kesehatan mentalmu demi e-certificate karyawan terbaik bulan ini.
Di sinilah Work-Life Balance menjelma menjadi wujud 'kesaktian' yang sejati. Bayangkan betapa sakti dan mewahnya seorang pekerja yang bisa mematikan notifikasi email kerjaan tepat di akhir jam kantor tanpa dibayangi rasa bersalah. Bisa melihat sinar matahari sore secara langsung—bukan dari balik kaca gedung yang terdistorsi AC dingin—adalah sebuah pencapaian spiritual di abad ini. Work-life balance bukan berarti kita malas atau enggan berjuang. Work-life balance adalah hak paling mendasar dari sila kemanusiaan dan keadilan: bahwa manusia diciptakan untuk hidup, bernapas, berkeluarga, dan menikmati hobinya, bukan cuma diinstal untuk jadi komponen mesin pencetak profit perusahaan.
Satu hal lagi yang tak kalah sakti: gaji yang layak. Mari kita hentikan romanticizing kalimat "Yang penting pengalamannya dulu, uang nomor sekian". Pengalaman memang mahal, tapi sayangnya kasir minimarket dan bapak kos nggak mau menerima pembayaran menggunakan insight atau networking. Mereka cuma terima rupiah. Gaji layak bukan berarti karyawan menuntut bisa beli helikopter pribadi dari hasil mengetik dokumen Word. Gaji layak adalah ketika pendapatanmu sanggup membayar kebutuhan pokok, memberikan tabungan masa depan, dan masih menyisakan sedikit dana untuk hiburan tanpa harus menghitung kembalian uang parkir dengan cucuran keringat dingin di tanggal 20.
Memanusiakan pekerja dengan gaji yang masuk akal dan waktu istirahat yang cukup adalah bentuk pengamalan Pancasila paling konkret di era kapitalisme modern. Jika suatu bangsa ingin benar-benar sakti, kesaktian itu harus tercermin dari kesejahteraan rakyatnya yang paling sibuk menopang roda ekonomi tiap hari.
Jadi, di Hari Kesaktian Pancasila ini, selain mendoakan keselamatan bangsa, tak ada salahnya kita mendoakan meja kerja kita masing-masing. Semoga atasan kita dibukakan pintu hatinya untuk membalas email izin cuti tanpa drama, semoga jobdesk kita tetap berada di jalur yang benar, dan semoga gaji yang masuk ke rekening setiap bulan benar-benar mencerminkan keadilan yang seadil-adilnya. Karena kalau meja kerja saja sudah adil dan beradab, percaya deh, Indonesia Emas bukan cuma sekadar wacana di slide presentasi PowerPoint.
Your email address will not be published. Required fields are marked *