
Pernah nggak sih kamu tiba-tiba bangun pagi, ngeliat kaca, terus mikir: “Bentar, bentar… jepitan rambut ungu neon, celana kulot gombrang, sama kopi susu literan di tangan gue ini… beneran karena gue suka, atau karena algoritma TikTok yang nyuruh?” Selamat datang di abad ke-21. Abad di mana batas antara “keinginan pribadi” dan “korban fomo” itu setipis tisu dibagi dua.
Sering kali kita ngerasa udah jadi diri sendiri, padahal aslinya kita cuma bagian dari kerumunan yang kebetulan bajunya seragaman. Kalau kata pepatah kerennya: kita sering kehilangan identitas. Kalau kata kasarnya: kita cuma ikut-ikutan biar nggak dibilang ndeso.
Mari kita bedah fenomena kocak ini yang pastinya dekat (dan menampar) kehidupan kita sehari-hari.
Tragedi "Ih, Lagi Viral Nih!"
Coba kita absen beberapa kelakuan kita yang kalau dipikir-pikir agak absurd:
Kasus Kuliner: Rela antre dua jam demi sebuah kue yang namanya susah dieja, pas dimakan ternyata rasanya mirip terigu dikasih gula doang. Tapi demi apa? Demi Insta-story dengan takarir, “Worth the hype! Padahal dalam hati menangis meratapi saldo m-banking.
Kasus Hobi Dadakan: Waktu pandemi, semua orang mendadak jadi atlet sepeda. Jalanan penuh orang pakai baju ketat warna-warni. Sekarang? Itu sepeda seharga motor matic udah berubah fungsi jadi jemuran handuk di sudut kamar.
Kasus FOMO Konser: Nggak tahu lagunya, cuma hafal bagian reff-nya yang 15 detik di Reels, tapi ikut war tiket sampai berantem sama netizen. Pas konser? Cuma berdiri planga-plongo sambil ngerekam orang lain sing-along.
Kenapa kita kayak gini? Ya karena manusia itu makhluk sosial. Kita punya ketakutan purba bernama Fear of Missing Out (FOMO). Kita takut kalau nggak ikut, kita bakal diusir dari pergaulan dan berakhir ngobrol sama kecoak di pojokan kamar.
Seni Menemukan Diri (Biar Nggak Jadi "Fotokopian")
Menjadi diri sendiri di tengah kerumunan itu emang susah. Kayak nyari udel di dalam karung. Tapi bukan berarti nggak bisa. Nih, ada beberapa tips ringan biar kamu nggak gampang hanyut dalam arus hype yang fana ini:
1. Terapkan "Aturan 3 Hari" Sebelum Beli Tren
Kalau lagi viral baju atau gadget baru, jangan langsung checkout. Endapkan dulu di keranjang belanjaan selama 3 hari. Kalau setelah 3 hari kamu udah nggak kepikiran, berarti kamu cuma laper mata karena efek FYP.
2. Berani Bilang, "Gue Nggak Suka, dan Itu Nggak Apa-apa"
Temen-temen kamu pada suka nonton film dokumenter kriminal yang bikin pusing? Kalau kamu cuma suka nonton kartun anak-anak biar otak nggak jenuh, ya udah akui aja! Nggak usah maksain diri biar kelihatan "intelek". Nonton kartun nggak bikin kamu masuk neraka kok.
3. Cari Tahu "Warna" Aslimu
Coba deh bikin daftar hal-hal yang beneran bikin kamu bahagia tanpa perlu kamu pamerin di media sosial. Kalau kamu bahagia cuma karena makan bakso gerobakan sambil dengerin lagu lawas, congrats! Itulah diri kamu yang asli. Sederhana, tanpa filter, dan tanpa beban.
Catatan Pinggir: Ikut tren itu nggak dosa, kok. Seru malah! Yang melelahkan itu kalau kamu maksain ikut semua tren sampai dompet kering dan jiwamu kosong.
Dunia ini udah kebanyakan orang yang "sama". Jangan sampai kamu cuma jadi butiran debu di dalam kerumunan yang bergerak tanpa arah. Mulai hari ini, yuk pelan-pelan kenalan lagi sama diri sendiri.
Jadi, gimana? Kopi estetik yang kamu beli kemarin sore itu beneran enak, atau cuma karena gelasnya lucu buat difoto? Jawab jujur di dalam hati aja, nggak usah bikin klarifikasi!
Your email address will not be published. Required fields are marked *