
Coba deh bayangin, suatu hari kamu nemu teko ajaib di pasar loak. Pas digosok, keluar jin botak yang ngasih satu permintaan. Karena kamu takut banget ninggalin dunia ini, kamu teriak, "Jin, gue minta mulai detik ini gak ada lagi kematian di bumi!"
Cling! Permintaan dikabulkan. Semua manusia jadi immortal alias abadi. Nggak ada yang bisa game over. Awalnya terdengar asyik, kan? Bisa rebahan selamanya tanpa takut umur habis.
Tapi mari kita pakai logika receh sebentar. Mengutip kata orang bijak: "Sesuatu disebut hidup karena ada yang bisa disebut mati." Kalau kematian itu dihapus, yakin hidup ini masih seru? Atau jangan-jangan malah jadi komedi putar yang bikin mual?
Coba cek simulasi kehidupan abadi yang super absurd ini:
1. Antrean Beli Seblak Jadi Simulasi Padang Mahsyar
Bayangin, kalau gak ada yang meninggal, tapi bayi lahir terus tiap detik. Populasi bumi bakal meledak luar biasa. Efek dominonya? Mau ngantre beli Seblak Prasmanan aja panjangnya bisa dari Jakarta Selatan nyambung sampai ke Zimbabwe!
Kamu pesan Seblak level 5 hari ini, baru dipanggil abangnya 80 tahun kemudian. Pas seblaknya udah di tangan, kerupuknya udah berevolusi jadi fosil. Kehidupan tanpa akhir itu nggak asyik kalau mau beli es teh manis aja harus war ngalahin 50 miliar umat manusia.
2. Pertanyaan "Kapan Nikah?" dari Leluhur Era Majapahit
Momen kumpul keluarga pas Lebaran adalah ujian mental. Biasanya kamu cuma ditanya "Kapan nikah? Kapan lulus?" sama tante atau bude.
Nah, di dunia tanpa kematian, leluhur kamu masih pada hidup semua! Pas silaturahmi, kamu harus sungkem dan ngejawab pertanyaan "Kapan nikah?" dari kakek buyut generasi ke-17 yang lahir di zaman Kerajaan Majapahit. "Nduk, kapan kowe rabi? Eyang wis nunggu 700 tahun iki lho." Kebayang nggak stresnya?
3. Pocong, Kuntilanak, dkk Kena PHK Massal (Film Horor Punah)
Kematian itu adalah bahan bakar utama industri hiburan, lho. Kalau manusia gak bisa mati, berarti gak ada arwah penasaran. Otomatis, demit-demit lokal kayak pocong, kuntilanak, sampai tuyul bakal kena PHK massal. Mereka resign karena udah nggak ada regenerasi hantu baru.
Dampaknya? Bioskop nggak akan pernah lagi nayangin film horor. Nggak ada lagi acara uji nyali di TV. Mau nakut-nakutin teman pakai cerita hantu? Temanmu malah jawab, "Hantu apaan? Mbah gue yang umurnya 400 tahun aja masih asyik main Mobile Legends di pos ronda." Hidup jadi datar banget tanpa sensasi merinding-merinding sedap.
4. Pelajaran Sejarah Anak Sekolah Tebalnya Ngalahin Candi
Kasihan anak sekolahan di masa depan. Kalau orang-orang penting nggak pernah tiada, buku Sejarah bakal tebalnya beribu-ribu halaman. Anak SD harus menghafal nama 15.000 mantan presiden. Ujian akhir sekolah (try out) baru bisa kelar dikerjain setelah 3 tahun berturut-turut saking banyaknya materi. Otak keburu ngebul duluan!
Kesimpulan: Ternyata, Kita Butuh "Tombol Exit"
Nah, sekarang kerasa kan betapa kacaunya dunia kalau kematian itu beneran ditiadakan?
Balik lagi ke kutipan deep di awal tadi: Orang sering terlena dengan kehidupan sampai nolak banget sama yang namanya kematian, kecuali pas lagi putus asa. Padahal, kematian itu ibarat tombol "Save & Quit" di game.
Coba main game yang nggak ada tamatnya, nggak ada bos akhirnya, dan nyawa kamu nggak bisa habis. Awalnya seru, tapi sejam kemudian pasti kamu bosan setengah mati dan milih matiin konsolnya.
Batas waktu itulah yang bikin seporsi Indomie pas ujan terasa nikmat. Batas waktu itu yang bikin hangout bareng teman jadi berharga. Kematian ngasih warna, ngasih "bumbu" biar kita nggak menyia-nyiakan waktu.
Jadi, berhentilah pura-pura abadi. Nggak usah musuhan sama konsep kematian. Mumpung timer hidup kita masih jalan, yuk lakuin hal-hal kocak, makan enak, ketawa yang kencang, dan jangan lupa bahagia.
Karena hidup ini cuma sekali, kalau berkali-kali nanti namanya franchise Marvel.
Salam Receh, dan selamat menikmati hidup!
Your email address will not be published. Required fields are marked *