
Dalam perayaan Satu Abad NU, Menteri Agama RI (yang juga Syuriah PBNU) melemparkan sebuah kalimat sakti. Kalimatnya terdengar seperti teka-teki silang, tapi kalau direnungkan sambil nyeruput kopi, rasanya mak nyess di hati.
Beliau dawuh:
"NU tidak menyamakan sesuatu yang memang sesungguhnya berbeda, dan tidak membedakan sesuatu yang memang sesungguhnya sama."
Waduh, bacanya jangan sambil kening berkerut, Bestie. Mari kita bedah kalimat ini dengan logika warung kopi biar nggak sepaneng.
1. Jangan Menyamakan yang Beda (Anti-Gado-Gado Teologis)
Poin pertama ini penting biar kita nggak halu. NU mengajarkan kita untuk realistis.
Contoh paling gampang: Soto Lamongan dan Rawon Surabaya. Dua-duanya enak, dua-duanya makanan Jawa Timur. Tapi, jangan pernah memaksa bilang bahwa "Soto adalah Rawon". Kalau kamu maksa nuangin kuah rawon (kluwek hitam) ke mangkok soto, rasanya bakal ambyar.
Begitu juga dalam beragama dan berbangsa. Islam ya Islam, Kristen ya Kristen, Hindu ya Hindu. NU sangat toleran, tapi NU tidak akan mencampuradukkan akidah (sinkretisme). Kita nggak perlu bilang "Semua agama sama" hanya untuk terlihat toleran.
Biarkan Islam dengan syariatnya, biarkan saudara Kristen dengan ajarannya. Kita tetap bisa makan satu meja, ketawa bareng, dan gotong royong benerin genteng bocor tanpa harus "mengoplos" keyakinan. Itu namanya menghargai perbedaan, bukan memaksakan persamaan.
Simpelnya: Jangan paksa kucing buat menggonggong. Biarkan dia mengeong, dan mari kita elus bareng-bareng.
2. Jangan Membedakan yang Sama (Stop Drama Fur’iyah)
Nah, poin kedua ini adalah kritik pedas buat kita yang hobinya ribut soal hal remeh-temeh.
Kadang kita ini lucu. Sama-sama manusia, sama-sama makan nasi, sama-sama warga Indonesia, sama-sama nyembah Allah, sama-sama Nabi-nya Muhammad SAW, eh... ribut cuma gara-gara yang satu pakai Qunut, yang satu enggak.
Atau ribut gara-gara yang satu sholat tarawihnya 23 rakaat (tipe ngebut), yang satu 11 rakaat (tipe santai). Padahal intinya kan sama-sama sholat!
Pesan Prof. Kyai Menag ini jelas: Kalau intinya sama, jangan cari-cari perbedaannya buat bahan berantem. Jangan membesar-besarkan perbedaan kecil (khilafiyah) sampai lupa kalau kita ini bersaudara.
Ibarat tim Bubur Diaduk vs Bubur Tidak Diaduk. Caranya beda, tapi kan sama-sama makan bubur! Jangan sampai gara-gara beda cara makan, kita jadi musuhan dan nggak mau saling sapa. Kan ra mashook, Bos!
NU: Titik Temu Akal Sehat
Inilah wajah NU di abad kedua. NU hadir sebagai "Juru Parkir" peradaban yang menata logika umat.
Kalau ada yang beda, NU bilang: "Monggo, silakan berbeda, yang penting rukun."
Kalau ada yang sama, NU bilang: "Alhamdulillah, mari kita kerjasama."
Sikap ini yang bikin NU itu asyik. Nggak kaku, nggak baperan, dan nggak gampang ngafir-ngafirin orang. NU paham kapan harus tegas menjaga prinsip (aqidah), dan kapan harus luwes menjaga persaudaraan (ukhuwah).
Penutup: Waras Beragama
Jadi, mari kita rayakan 100 tahun NU ini dengan otak yang waras dan hati yang luas.
Ingat rumus saktinya:
Jangan samakan pacar orang dengan pacar sendiri (itu bahaya).
Jangan bedakan teman NU dan teman Muhammadiyah (itu perpecahan).
Mari kita jaga Indonesia dengan logika yang lurus: Beda tapi mesra, Sama dan bekerjasama.
Selamat Satu Abad NU! Tetaplah menjadi ormas yang chill, santuy, tapi berbobot.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Tharieq.
(Semoga Allah menuntun kita ke jalan yang lurus—dan menjauhkan kita dari debat kusir di grup WhatsApp).
Your email address will not be published. Required fields are marked *