
Pernah nggak sih kamu lagi asyik rebahan, ngemil seblak, sambil scroll beranda sosmed, terus tiba-tiba ngerasa jadi orang paling up-to-date sedunia?
Dari mulai tahu gosip seleb A yang selingkuh, lihat temen lama upload foto liburan ke Cappadocia (its my dream, Mas!), sampai baca thread viral yang isinya hujat-hujatan. Kita ngerasa santai aja, toh kita cuma rebahan di kamar. Nggak ngerugiin siapa-siapa, kan?
Eits, tunggu dulu, bestie. Jangan-jangan, tanpa sadar kita lagi masuk ke dalam "Jebakan Batman" era digital.
Zaman now, dosa-dosa kecil itu udah glow up. Mereka udah ganti skin, ganti packaging, dan punya PR (Public Relations) yang jago banget nge-rebranding kesalahan jadi sesuatu yang kelihatan wajar, lucu, dan kekinian. Mari kita absen satu-satu jebakannya, siapa tahu kamu (atau aku) diam-diam udah jadi member VIP-nya!
1. Julid Berkedok "Spill The Tea" atau "Sharing"
Dulu, yang namanya ghibah itu nongkrong di pos ronda atau tukang sayur. Sekarang? Ghibah udah go digital dan ganti nama jadi "Spill the Tea" atau "Sekadar Sharing".
Formatnya biasanya gini: "Eh, aku bukannya mau ngomongin dia ya, TAPI..." (Nah, kata "tapi" ini adalah gerbang menuju alam ghibah).
Atau pas lagi chat di grup, kita nge-forward aib orang terus bilang, "Kasihan ya dia, makanya kita jangan gitu." Padahal dalem hati aslinya lagi menikmati bahan obrolan. Hati-hati, Ghibah 4.0 ini jejak digitalnya abadi. Sekali di-screenshot, dosanya jalan terus kayak MLM tapi nggak bikin kaya.
2. Pamer Berkedok "Motivasi" (Alias Flexing Terselubung)
Yang ini sering banget lewat di FYP. Fotonya sih lagi pegang setir mobil Eropa (logonya harus kelihatan jelas), atau foto boarding pass first class, tapi caption-nya: "Jangan pernah menyerah pada mimpimu. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian."
Jujur aja ngab, hubungannya setir mobil sama berakit-rakit di mana?!
Ini namanya flexing syariah atau pamer berkedok motivasi. Niat awalnya mungkin emang mau pamer, tapi biar nggak kelihatan sombong, dibungkuslah pakai quotes bijak. Padahal, kalau niatnya cuma buat cari validasi dan bikin netizen lain insecure sambil nangis di pojokan kamar, ya sama aja bohong.
3. Ngehina Berkedok "Dark Jokes" atau "Candaan"
"Baperan amat sih, kan cuma bercanda!" Familiar dengan kalimat sakti ini? Biasanya ini jurus pamungkas yang dikeluarin orang habis ngatain fisik, ngerendahin pilihan hidup orang, atau ninggalin komen super pedas di lapak orang lain.
Banyak yang berlindung di balik tameng "kebebasan berekspresi" atau "dark jokes". Padahal kata-kata kasar yang keluar dari jari manis kita itu tetep aja nyakitin. Malaikat Atid (yang nyatet amal buruk) kayaknya sampe bingung, "Ini masukin kategori dosa menghina atau stand-up comedy ya?"
4. Stalking Mantan Berkedok "Cuma Kepo"
Berawal dari "cuma pengen tau aja dia udah move on belum", berakhir dengan ngebongkar silsilah keluarga pacar barunya, nyari tau alamat rumahnya, sampai tahu zodiak kucing peliharaannya.
Kita mikirnya ini cuma kepo receh. Padahal, mata dan pikiran yang terus-terusan diisi sama hal yang nggak ada manfaatnya, lama-lama bikin hati gampang gelisah, gampang iri, dan overthinking nggak karuan. Lagian, ngapain sih nyari penyakit ngelihatin orang yang udah bahagia tanpa kita? Uhuk.
Kenapa Kita Gampang Banget Kena Jebakan Ini?
Alasan paling ultimate yang bikin kita ngerasa aman adalah: "Yaelah, semua orang juga gitu kali."
Nah, ini dia sumber masalahnya! Saking banyaknya orang yang ngelakuin, dosa itu jadi terasa wajar. Kita jadi lupa nanya ke diri sendiri, "Ini bener atau salah ya?" karena pikiran kita udah otomatis mikir, "Ini normal kok, lagi ngetren."
Ibarat katak yang direbus pelan-pelan di dalam panci. Karena airnya hangat dan nyaman, si katak nggak sadar kalau dia lagi direbus sampai akhirnya matang. Sama kayak hati kita. Kalau terlalu sering memaklumi dosa-dosa kecil yang dibungkus rapi ini, lama-lama sensor sensitivitas hati kita jadi soak. Yang tadinya bikin malu, sekarang malah dibanggain.
Jadi, Gimana Dong?
Nggak perlu langsung puasa sosmed atau pindah ke gua juga kok! Kita cuma perlu sedikit nge-upgrade sistem keamanan hati kita. Sebelum jempol ini ngetik komen, sebelum nge-klik "Share", atau sebelum nge-post sesuatu, coba pause 3 detik dan tanya:
"Ini beneran manfaat nggak ya?"
"Niat asliku nge-post ini apa ya? Beneran murni sharing, atau ada sedikit pengen dipuji?"
Zaman sekarang emang susah ngebedain mana yang dosa mana yang tren. Tapi, gapapa dibilang kurang update atau kurang gaul, asalkan hati kita tetap sehat dan waras di tengah dunia digital yang makin sinting ini.
Semangat menjaga kewarasan jempol dan hati, ya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *