
Mantra paling populer di kalangan masyarakat modern saat ini bukan lagi kata-kata bijak para filsuf, melainkan frasa ajaib bernama self-reward. Sedikit-sedikit apresiasi diri, sedikit-sedikit butuh healing. Niat aslinya memang bagus untuk menjaga kesehatan mental, tapi kalau tiap kali kena kerepotan sepele kita langsung menagih hadiah, itu bukan apresiasi diri lagi namanya—melainkan penipuan terencana terhadap masa depan sendiri.
Fenomena self-reward kebablasan ini sudah menjangkiti kehidupan sehari-hari masyarakat urban lintas generasi:
Masyarakat Urban & Pekerja Kantoran: Baru membalas dua email rutin dari atasan, tangannya sudah gatal membuka aplikasi pesan antar makanan. Pembenarannya selalu terdengar mulia: "Kerja hari ini berat banget, butuh self-reward kopi susu artisan biar mental tetep terjaga." Dalam sebulan, uang gaji yang harusnya disimpan buat masa depan malah menguap jadi tumpukan gelas plastik di meja kerja hanya demi memanjakan rasa malas.
Kaum Emak-Emak: Lelah menghadapi kehebohan rumah tangga memang nyata, tapi begitu menjadikan checkout keranjang belanjaan sebagai ajang self-reward harian, dompet keluarga langsung menjerit. Niatnya mengapresiasi diri karena sudah sabar seharian, tapi yang dibeli justru teflon warna pastel, daster lima warna, dan rak bumbu melayang yang akhirnya cuma menumpuk di pojok dapur tanpa pernah tersentuh.
Kaum Bapak-Bapak: Mengaku butuh self-reward karena stres menghadapi tekanan pekerjaan seminggu penuh. Hadiah untuk diri sendiri tidak tanggung-tanggung: membeli sepeda atau seperangkat alat pancing baru yang harganya setara cicilan motor. Setelah barangnya sampai, sepedanya cuma dipakai satu kali buat foto di media sosial hari Minggu pagi, sisanya berbulan-bulan cuma jadi tempat menyangkutkan jemuran baju di garasi.
Remaja & Gen Z: Paling ajaib kalau soal hitung-hitungan matematika apresiasi diri. Baru membaca satu lembar materi pelajaran atau mengetik dua kalimat tugas kelompok, mereka merasa sudah berjuang mati-matian di medan perang. Self-reward-nya? Maraton nonton serial tiga episode atau rebahan sambil scrolling media sosial selama empat jam penuh. Rasio antara kerja keras dan hadiahnya sama sekali tidak seimbang.
Apresiasi diri itu baru terasa nikmat dan bermakna kalau kita benar-benar sudah menyelesaikan sebuah pencapaian atau melewati tantangan yang berarti. Kalau setiap kali merasa sedikit lelah kita langsung memanjakan diri dengan kenyamanan instan, kita sebenarnya sedang membangun penjara rasa malas yang bikin hidup jalan di tempat.
Kenyamanan sejati justru lahir dari rasa puas setelah berhasil menaklukkan hal-hal yang tadinya terasa sulit dan melelahkan. Cobalah selesaikan dulu pekerjaanmu sampai tuntas sebelum menagih hadiah untuk dirimu sendiri.
Dari sekian banyak contoh di atas, bentuk self-reward kocak apa yang paling sering bikin kamu menyesal pas melihat saldo rekening di akhir bulan?
Your email address will not be published. Required fields are marked *