
Pernah nggak kamu ngelihat konten di media sosial yang isinya orang pamer kekayaan tapi ternyata hasil scam, atau nemu temen yang kalau bercanda mulutnya udah kayak knalpot racing—berisik dan nggak saring? Di saat itulah, otak kita secara otomatis mendownload sebuah file kuno dari memori leluhur: "Ngunu Yo Ngunu Tapi Ojo Ngunu."
Kalau di-Indonesiakan secara gaul, artinya kira-kira: "Boleh sih gaya, tapi ya jangan songong juga kali!" atau "Silakan aja begitu, tapi mbok ya pakai otak dikit."
Falsafah Jawa ini bukan sekadar kalimat buat nakut-nakutin cucu pas lagi nakal, tapi ini adalah Sistem Rem ABS tercanggih untuk menjaga martabat kita di era digital yang serba toxic ini. Yuk, kita bedah analisis "rem" ini dalam kehidupan sehari-hari kita yang penuh drama!
1. Babakan Media Sosial: Ngunu Yo Ngunu...
Di zaman sekarang, eksistensi itu nomor satu. Kalau nggak posting, dianggap nggak ada. Tapi ingat, ada batas antara "berbagi kebahagiaan" dan "bikin orang mual".
Ngunu: Makan di restoran estetik, terus foto makanannya buat kenang-kenangan atau biar kelihatan up-to-date.
Tapi Ojo Ngunu: Makanan udah datang, tapi temen-temen dilarang makan selama 30 menit karena kamu harus ambil sudut foto dari atas meja, bawah meja, sampai manjat pohon. Begitu kelar foto, makanannya udah dingin, rasanya udah kayak makan karet ban, dan temenmu udah pingsan karena maag-nya kambuh. Ojo ngunu, Malih!
2. Babakan Grup WhatsApp: Ngunu Yo Ngunu...
Grup WA adalah ujian kesabaran paling nyata setelah antrean bensin pas harga mau naik.
Ngunu: Share info penting, kasih ucapan selamat ulang tahun, atau sesekali kirim stiker lucu buat meramaikan suasana.
Tapi Ojo Ngunu: Jam 6 pagi udah kirim video broadcast "Manfaat Makan Kulit Durian untuk Awet Muda" yang durasinya 10 menit, atau nge-share berita hoax yang judulnya "Kiamat Sudah Dekat karena Harga Cabai Naik". Tolong ya, jempolmu butuh rem tangan!
Kenapa Kita Sering "Lupa Ngerem"?
Masalahnya, manusia zaman sekarang itu sering banget kena penyakit "Ego-Sentris-Akut". Kita ngerasa dunia berputar di sekitar kita doang. Kita ngerasa punya hak buat ngelakuin apa aja atas nama "kebebasan berekspresi".
Padahal, falsafah Ngunu Yo Ngunu Tapi Ojo Ngunu itu adalah bentuk Kecerdasan Emosional (EQ) tingkat dewa. Ini tentang tahu kapan harus narik gas, dan kapan harus ngerem biar nggak nabrak perasaan orang lain.
3. Babakan Pinjam-Meminjam: Ngunu Yo Ngunu...
Ini adalah level tertinggi dari ujian etika dalam peradaban manusia modern.
Ngunu: Memang lagi beneran butuh bantuan keuangan karena keadaan darurat. Pinjam dengan sopan, tentukan tanggal bayar.
Tapi Ojo Ngunu: Begitu jatuh tempo, kamu menghilang bak ditelan bumi. Pas ditagih, eh... kamu malah lebih galak, lebih puitis bahas soal "akhirat", padahal sorenya baru aja update story lagi makan steak mahal. Ngunu yo ngunu, tapi ojo ngunu, Bosku!
Kesimpulan: Jadilah Manusia yang "Tahu Diri"
Hidup tanpa prinsip Ojo Ngunu itu ibarat kamu dandan rapi, pakai parfum wangi, tapi lupa pakai celana. Kelihatannya oke dari depan, tapi begitu balik badan... ya memalukan!
Mulai sekarang, sebelum kita bertindak atau posting sesuatu, coba pasang "filter" tiga detik di kepala:
Ini perlu nggak?
Ini berlebihan nggak?
Kalau aku diginiin, aku bakal pengen lempar sendal nggak?
Kalau jawabannya iya, segera injak rem kuat-kuat. Inget, jadi keren itu pilihan, tapi jadi manusia yang nggak nganu itu adalah keharusan.
Salam Rem Pakem!
Your email address will not be published. Required fields are marked *