
Mari kita jujur-jujuran. Siapa di sini yang cita-citanya pengen jadi orang tua kaya raya, yang kalau anaknya minta mainan langsung dibeliin sama pabrik-pabriknya sekalian? Pasti semuanya langsung angkat tangan (termasuk yang nulis artikel ini). Gak salah kok, punya misi mewariskan tujuh turunan harta kekayaan biar anak-cucu gak perlu ngerasain pahitnya nyari diskonan token listrik itu adalah mulia.
Tapi, ada tapinya nih, gaes. Pernah gak kalian kepikiran, apa gunanya warisan rumah tiga tingkat, mobil berjejer kayak showroom, dan tabungan yang digitnya bikin kalkulator pusing, kalau pas anaknya buka mulut di depan umum, yang keluar malah asbun alias asal bunyi? Pintar dandan, tapi gak tahu bedanya hoaks sama fakta.
Nah, di sinilah kita harus kembali merenungkan syair legendaris yang sempat kita bahas sebelumnya: "Sesungguhnya anak yatim yang sebenarnya adalah yang tidak memiliki ilmu dan adab."
Jadi, meskipun orang tuanya masih lengkap, sering pelesiran bareng, dan uang jajannya lancar jaya, seorang anak bisa jatuh ke dalam golongan "Yatim Ilmu" kalau bapak-ibunya cuma fokus ngisi dompet si anak, tapi lupa ngisi otaknya. Kenapa hal ini bisa terjadi dan gimana cara menghindarinya? Mari kita bahas sambil ngunyah rengginang.
Hayo, siapa yang kalau anaknya nangis dikit langsung dikasih gadget biar anteng? Memang sih, jurus ini ampuh banget bikin rumah langsung hening seketika. Tapi dampaknya, si anak jadi belajar dari algoritma, bukan dari orang tuanya.
Anak yang dibesarkan oleh tontonan tanpa filter itu rawan jadi "yatim ilmu". Mereka tahu cara joget yang lagi tren di TikTok, tahu lagu jedag-jedug paling catchy, tapi pas ditanya "Kenapa kita harus pamit kalau mau keluar rumah?", mereka nge-blank kayak komputer kena virus. HP-nya boleh spek dewa, tapi perhatian orang tua jangan sampai spek kalkulator warung ya, gaes!
Banyak orang tua zaman sekarang yang ngerasa kalau sudah bayar uang pangkal sekolah puluhan juta yang ada fasilitas kolam renang air hangatnya, berarti tugas mendidik sudah selesai. "Kan udah bayar mahal, biar gurunya aja yang pusing!"
Eits, tidak semudah itu, Ferguso! Sekolah itu cuma bantu ngarahin. Pabrik utama pembentukan karakter dan transfer ilmu kehidupan itu tetep ada di meja makan rumah, di ruang tamu, dan di obrolan sebelum tidur. Kalau di rumah orang tuanya cuma sibuk main saham atau scrolling gosip tanpa pernah ngajakin anaknya diskusi, ya si anak tetep bakal merasa "piatu" secara intelektual.
Bayangin anak kita nanti tumbuh dewasa, mewarisi seluruh perusahaan kita, tapi gak punya dasar ilmu dan logika yang kuat. Begitu ada investasi bodong berkedok "Pelihara Tuyul Syariah" dengan keuntungan 500% per hari, langsung ditransfer seluruh warisannya. Zonkkk! Habis dalam semalam.
Ilmu itu bukan cuma soal rumus matematika yang bikin pusing itu, bukan. Ilmu itu adalah kemampuan anak untuk berpikir kritis, tahu mana yang baik dan buruk, serta tahu cara bertahan hidup pas dunia lagi gak berpihak sama mereka. Harta bisa habis karena inflasi atau ditipu orang, tapi ilmu dan adab? Mau dibawa ke liang kubur pun tetep melekat.
Kalau kita cuma ngasih warisan tanah, anak-anak bisa berantem rebutan batas wilayah sampai bawa-bawa parang (amit-amit!). Tapi kalau kita wariskan ilmu yang bermanfaat, cara memecahkan masalah, dan adab dalam bermasyarakat, mereka bakal bisa nyari tanah mereka sendiri, bahkan bisa beli helipad-nya sekalian.
Ilmu bikin anak kita dihormati karena kualitas dirinya, bukan karena isi dompet bapaknya. Kita tentu pengen dong, pas kita udah tua nanti, denger orang lain bilang, "Wah, pinter dan sopan banget ya anaknya Pak/Bu Ini," bukan malah denger, "Halah, itu mah anak orang kaya yang gak tahu aturan." Duh, tancep ke ulu hati banget rasanya kalau sampai denger yang kedua!
Refleksi Sebelum Tidur:
Menjadi orang tua yang sukses itu bukan diukur dari seberapa mewah merk stroller anak kita, tapi dari seberapa siap anak kita dilepas ke dunia nyata tanpa membuat kekacauan gara-gara minus ilmu dan etika.
Jadi, para orang tua dan calon orang tua, yuk mulai sekarang kita seimbangkan porsi cari cuan dan porsi ngobrol sama anak. Jangan sampai anak-anak kita punya fasilitas kelas satu, tapi kapasitas otaknya kelas ekonomi yang kursinya gak bisa dimundurin.
Gimana, hari ini sudah ngajakin anak (atau calon anak) diskusi tentang kenapa langit warna biru, atau masih sibuk mantengin keranjang kuning belanjaan online? Yuk, cas lagi kepedulian kita!
Your email address will not be published. Required fields are marked *