
Halo, Bestie! Apa kabar hari ini? Masih semangat atau sudah mulai lowbat gara-gara lihat handuk basah nangkring di kasur?
Sabar dulu, Bun. Jangan langsung berubah jadi Naga.
Hari ini kita mau ngobrol santai soal sebuah rumus matematika kuno yang sering dilupakan, tapi ampuh banget. Rumusnya simpel: Suami Raja = Istri Ratu.
Banyak yang protes, "Ih, enak aja dia jadi Raja, lah aku jadi babunya dong?"
Eits, salah besar! Konsep kerajaan itu nggak begitu, Sayang. Coba pikir pakai logika santuy: Kalau suami kita perlakukan seperti Raja, maka istri Raja itu siapa? Ya Ratu dong! Bukan Asisten Rumah Tangga.
Kalau kita memperlakukan suami seperti "Mandor" atau "Supir", ya jangan heran kalau kita diperlakukan seperti "Kuli" atau "Penumpang yang rewel".
Nah, gimana caranya pakai rumus ini biar rumah tangga adem ayem dan kita tetap slay? Yuk, simak tips receh berikut ini!
Laki-laki itu makhluk visual dan... ehem, makhluk ego. Ego suami itu kayak kerupuk; kalau nggak dijaga, dia mlempem. Tapi kalau digoreng (baca: dipuji), dia mekar dan renyah!
Jadi Raja itu butuh validasi. Mulai sekarang, kurangi kritik pedas ala juri masak. Ganti dengan pujian receh.
Suami benerin kran air? Bilang: "Wah, Ayah hebat banget, MacGyver lewat!"
Suami pake baju batik? Bilang: "Ganteng banget sih Pak, ati-ati dilirik janda sebelah."
Hasilnya: Dia merasa gagah. Dan laki-laki yang merasa gagah akan berusaha melindungi dan membahagiakan "penggemar nomor satunya", yaitu kamu.
Raja itu dilayani, bukan disuruh-suruh dengan nada tinggi. "Ambilin anduk dong!" itu perintah buat bawahan.
Coba ubah dikit angle-nya. Siapin kopinya sebelum dia minta. Pijitin kakinya lima menit sambil nanya, "Capek ya, Yah, cari duit buat skincare aku?"
Ingat, melayani suami itu bukan perbudakan, itu investasi. Semakin nyaman dia di "istana", semakin dia betah, dan semakin royal dia sama Ratunya. Kalau Raja senang, anggaran belanja biasanya auto-cair tanpa perlu proposal rumit.
Jangan pernah marahin Raja di depan rakyat jelata (baca: anak-anak, mertua, atau tetangga). Itu pantangan besar!
Kalau Raja salah jalan pas nyetir, jangan langsung disemprot, "Tuh kan, dibilangin juga apa! Batu sih!" Mending diam, senyum, terus bilang pelan, "Kayaknya tadi belok kiri deh, Yang. Tapi nggak apa-apa, muter dikit sekalian jalan-jalan sama kamu."
Di depan umum, angkat dagunya. Biarkan dia terlihat memimpin. Nanti kalau sudah di kamar berdua, baru deh boleh jewer dikit (dengan sayang, tentunya).
Ratu itu identik dengan anggun, senyum manis, dan wangi. Kalau kita menyambut suami pulang kerja dengan wajah kucel, daster bolong, dan muka ditekuk kayak dompet tanggal tua... ya dia nggak merasa pulang ke istana. Dia merasa pulang ke kantor cabang pembantu yang lagi audit.
Sambut dia dengan senyum sumringah. Masalah kompor rusak atau anak tumpahin bedak, laporannya bisa ditunda 30 menit setelah dia duduk enak.
Muliakan suamimu, maka dia akan memuliakanmu. Itu hukum alam, Bestie. Gak ada ruginya merendahkan hati sedikit untuk meninggikan suami. Karena pada akhirnya, yang menikmati fasilitas "Permaisuri" kan kita-kita juga.
Jadi, siap menobatkan Paksu jadi Raja hari ini? Siapkan senyum terbaikmu, dan rasakan perbedaannya!
Selamat mencoba, Ratu-ratu kesayangan!
Your email address will not be published. Required fields are marked *