
Pernah nggak sih kamu lagi asyik rebahan, scroll TikTok sampai jari jempol keriting, lalu tiba-tiba di beranda muncul berita tentang artis muda yang kena serangan jantung?
Dalam sepersekian detik, perasaan chill kamu langsung berubah jadi kepanikan eksistensial. Kamu langsung teringat semua kolesterol dari martabak semalam, gula dari boba sore tadi, dan kurangnya gerak tubuhmu yang sudah mirip patung lilin. Kamu buru-buru buka Tab baru di browser dan mengetik: "Makanan penurun darah tinggi paling ampuh" atau "Cara hidup sehat instan bagi kaum mager".
Kita ini unik, Guys. Sangat unik. Kita adalah generasi yang paling panik kalau ditanya soal kematian. Kita beli asuransi kesehatan, langganan gym (meski cuma datang tiga kali setahun buat check-in lokasi), makan sayuran organik yang harganya setara cicilan mobil, dan pakai skincare anti-aging sepuluh lapis. Semuanya demi satu tujuan: menghindari garis finish sejauh mungkin.
Tapi di situlah ironi terbesarnya: Kita mengerahkan 110% energi untuk TIDAK MATI, tapi saat kita masih HIDUP, kita malah memilih untuk jadi ZOMBIE.
The Ultimate Zombie Starter Pack untuk Manusia Modern
Jangan tersinggung dulu, tapi mari kita jujur satu sama lain. Sebagai manusia modern yang beradab, kita secara sadar maupun tidak, sedang menjalani kursus singkat menjadi mayat hidup. Penasaran? Coba cek daftar Starter Pack ini di dirimu:
1. Zombie Starter Pack #1: Jari yang "Terpotong" dari Otak (FOMO Edition)
Gejala ini paling sering terjadi di KRL, halte bus, kafe, sampai toilet rumah sakit. Mata kita menatap layar HP dengan pandangan kosong, tapi jari jempol kita bergerak sendiri dengan kecepatan cahaya melakukan scrolling tanpa henti.
Kita "mengonsumsi" triliunan informasi tak berguna: kucing lucu pakai topi, update liburan orang tak dikenal, dance challenge terbaru, hingga berita konspirasi Bumi datar. Kita hadir, tapi absen. Otak kita seperti shutdown total, sementara tubuh kita terus bergerak dalam mode autoplay. Inilah yang disebut "mayat hidup" secara digital: raga di kafe, jiwa di Metaverse.
2. Zombie Starter Pack #2: Jubah Kasat Mata "Pekerjaan Tanpa Tujuan"
Ini adalah gejala zombie yang paling mahal biaya hidupnya. Kita takut miskin (yang akhirnya bisa bikin stres dan mati muda), jadi kita kerja keras. Sangat keras. Kita pakai jubah tak kasat mata bernama "Kesibukan Tanpa Henti".
Kita bangun pagi, komuter berjam-jam mirip migrasi hewan, duduk di kubikel, balas email, rapat tanpa solusi, pulang malam, makan, tidur. Besoknya? Repeat. Kita menghabiskan waktu hidup kita yang berharga untuk membeli barang-barang yang nggak kita butuhkan demi membuat orang yang nggak kita suka terkesan. Kita menukar masa hidup kita dengan angka digital di rekening, tanpa pernah benar-benar hidup menikmati uang itu sendiri. Kita "mati" setiap hari jam 8 pagi, dan baru "bangun" (itu pun kalau masih ada sisa energi) jam 8 malam.
3. Zombie Starter Pack #3: Gelang Notifikasi "Hadir-tapi-Absen"
Ini adalah zombie tingkat lanjut yang sering menyerang hubungan sosial. Coba lihat sekelilingmu di kafe. Ada satu meja penuh dengan empat orang bestie yang lagi nongkrong. Harusnya mereka ngobrol seru, dong?
Nggak. Meja itu sunyi senyap. Keempat orang itu sama-sama menatap layar HP masing-masing, tersenyum sendiri-sendiri, dan meletakkan HP di atas meja hanya saat pelayan mengantarkan pesanan buat difoto (untuk validasi digital, tentunya). Mereka saling "hidup" di dunia maya masing-masing, tapi "mati" dalam interaksi sosial yang beneran. Mereka adalah zombie yang makan satu meja tapi nggak pernah saling berbagi.
Kenapa Kita Betah Jadi Zombie?
Sederhana: Karena jadi zombie itu nyaman (secara kognitif).
Nggak perlu overthinking soal tujuan hidup. Nggak perlu pusing mikirin cara menciptakan momen bahagia. Tinggal autoplay rutinitas, dan biarkan dunia digital mengambil alih. Dan yang paling penting: Jadi zombie adalah cara terampuh untuk MELUPAKAN fakta bahwa suatu hari kita akan mati.
Masalahnya, melupakan kematian nggak sama dengan mengingat hidup.
Mungkin obat untuk wabah zombie modern ini bukanlah penawar virus misterius, melainkan hal yang sangat sepele: sedikit lebih hidup saat kita masih hidup. Matikan HP saat makan dengan teman. Ambil jalan pulang yang berbeda. Cobalah hobi baru tanpa memikirkan seberapa "estetik" itu kalau diposting.
Ingat, kita semua mengerahkan tenaga luar biasa untuk menghindari kematian. Jadi, jangan sia-siakan usaha itu dengan menjadi zombie digital yang "survive", tapi nggak pernah "live".
Salam Chill, dan jangan lupa napas!
Your email address will not be published. Required fields are marked *