
Di zaman sekarang, status "sibuk" itu sudah berubah jadi flexing terselubung.
Kalender Penuh? Keren.
Meeting marathon dari pagi sampai magrib? Mantap.
Laptop dibuka pas acara nikahan saudara? Wah, dedicated banget.
Tidur cuma empat jam? Gila, produktif parah!
Padahal badan sudah kirim memo internal berstempel RAHASIA: "Bos, kalau Minggu ini kagak libur, kita mogok napas."
Yang bikin makin absurd, kita sering merasa berdosa pas lagi tidak ngapa-ngapain. Rebahan 15 menit, langsung gelisah. Iseng buka Instagram, mental langsung rontok:
Umur 23 punya holding company.
Umur 25 beli rumah tunai.
Umur 27 keliling Eropa sambil WFH.
Sementara kita? Jam 10 malam masih debat kusir sama otak sendiri: "Besok makan siang ayam geprek atau warteg, ya?"
Lalu tiba-tiba merasa jadi produk gagal kehidupan. Padahal lima menit sebelumnya anteng-anteng saja sambil makan keripik. Itulah ajaibnya media sosial: masuk dalam keadaan tenang, keluar-keluar merasa tertinggal tiga generasi.
1. Tawakal Bukan Malas yang Dikasih Dalil
Di tengah gempuran hustle culture ini, kata "tawakal" sering banget disalahpahami. Ada yang mengira tawakal itu semacam tombol kemalasan:
"Besok ujian. Udah belajar?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Gue tawakal."
Bukan, Bos. Itu bukan tawakal. Itu nekat yang dipaksa pakaikan bumbu religius.
Sama kayak ngelamar kerja. CV belum dibikin, portofolio kosong, foto LinkedIn masih gaya wisuda era Pak SBY. Tapi tiap malam tahajud: "Ya Allah, berikan pekerjaan terbaik." Berdoa itu bagus dan wajib. Tapi HRD juga kagak bakal dapat wahyu lewat mimpi:
"Carilah Fulan. CV-nya memang kagak ada, tapi hatinya tawakal tingkat dewa."
Tidak begitu sistemnya.
Dalam Al-Qur'an (QS. Ali 'Imran: 159), urutannya jelas: Bulatkan tekad (ikhtiar) dulu, baru bertawakal.
2. Laptop Sudah Ditutup, Otak Masih Lembur
Musuh utama kita itu biasanya di bagian akhir: usahanya sudah selesai, tapi hatinya masih kerja lembur.
Lampu kamar sudah dimatikan, badan ditempel ke kasur. Harusnya tidur. Tapi otak malah bikin RUPS dadakan jam dua pagi:
"Gimana kalau besok presentasi ditolak?"
"Gimana kalau target tidak tercapai?"
"Gimana kalau umur 40 gue belum punya tabungan?"
Padahal sekarang baru umur 24. Otak sudah Rapat Anggaran Tahun 2045.
Akhirnya jam 02.15 pagi kita cuma menatap plafon. Plafonnya santai, kita yang jantungan. Di sinilah tawakal bekerja. Bukan biar kita mendadak amnesia, tapi biar kita tahu: mana yang tugas kita, mana yang sudah wilayah Tuhan.
3. Hobi Mengontrol Hal yang Kagak Bisa Dikontrol
Proposal bisnis sudah dikirim. Terus kita refresh email tiap lima detik. Seolah-olah di klik ke-47 bakal muncul notifikasi:
"Selamat! Karena kegigihan Anda me-refresh email, proposal Anda resmi diterima!"
Kagak gitu cara kerjanya.
Atau habis interview kerja. Di jalan pulang, otak langsung berubah jadi detektif CSI:
"Tadi HRD-nya senyum... Maksudnya apa ya?"
"Senyum kagum, senyum kasihan, atau senyum 'nih orang dapet info lowongan dari mana sih'?"
Interview-nya cuma 30 menit, analisis senyumnya tiga hari tiga malam.
Tawakal hadir untuk membisikkan satu hal: "Tugasmu sudah kelar. Jangan jadikan evaluasi diri sebagai siksa batin berlangganan Premium."
4. Hidup Bukan Mesin Vending
Motivational speaker suka bilang: "Kalau kamu benar-benar mau, PASTI BISA!"
Terdengar keren. Tapi kenyataannya, hidup bukan mesin vending. Kagak bisa kamu cemplungin "100 jam kerja keras", terus pencet tombol, lalu keluar "1 Keberhasilan Rasa Cokelat".
Ada orang yang sudah belajar mati-matian, tetap belum lolos. Ada yang membangun bisnis dengan serius, tetap sepi. Karena ada variabel lain: kondisi, keputusan orang lain, dan takdir.
Tawakal membuat kita tetap kerja keras tanpa halusinasi jadi "Tuhan kecil" yang merasa bisa mengatur seluruh skenario dunia.
5. Petani Ambisius & LinkedIn Magic
Bayangkan seorang petani menanam benih. Dikasih pupuk, disiram, disiangi. Tapi karena kebelet mengejar target KPI, tiap pagi dia tarik-tarik ujung tanamannya:
"Ayo tumbuh cepat! Target Q2 belum tercapai!"
Mati tanamannya.
Sama kayak hidup. Ada proses yang tidak bisa dipaksa. Kita sering kepanasan cuma gara-gara melihat status teman di LinkedIn: "I’m thrilled to announce..."
Padahal kagak ada orang yang posting: "I’m thrilled to announce kalau hari ini saya pusing, kebelet resign, dan kagak tahu hidup mau ke mana."
Ingat: jangan bandingkan backstage hidup kita yang berantakan dengan trailer hidup orang lain yang sudah di-edit.
6. Token Listrik & Ketakwaan
Punya ambisi itu bagus. Mau kaya? Silakan. Mau karier melesat? Bagus.
Uang itu penting. Sangat penting. Orang yang bilang uang tidak penting, mungkin belum pernah mendengar suara meteran listrik bunyi: Tit... tit... tit... jam 11 malam.
Itu adalah suara yang sanggup menguji tingkat ketakwaan seseorang dalam hitungan detik.
Tapi uang dan jabatan itu cuma alat, bukan identitas mutlak. Kalau hatimu ditambatkan pada hal yang selalu berubah, siap-siap mood-mu ikut naik-turun kayak grafik kripto.
7. Rumus Praktis Jalani Hari
Biar gampang, pakai rumus simpel ini:
Yang bisa dikerjakan Kerjakan.
Yang bisa diikhtiarkan Maksimalkan.
Yang di luar kendali Pasrahkan.
Sebab, takdir kagak menyediakan customer service 24 jam buat kita komplain: "Halo CS, kenapa visi board saya kagak sesuai kenyataan?"
Tapi ingat, jangan salah guna! Senin pagi jangan datang jam 11 siang, terus pas ditegur bos kamu bilang: "Saya lagi belajar tawakal, Pak."
Itu bukan tawakal, itu proses pemecatan mandiri.
Pasang alarm tetap wajib. Bilang "OTW" padahal masih mandi itu bukan tawakal, tapi dosa sosial.
Penutup
Tangan tetap kerja keras. Otak tetap putar otak. Bikin spreadsheet warna-warni, silakan. Buat KPI dan roadmap lima tahun, bagus.
Tapi ingat satu hal: kita bertanggung jawab atas ikhtiar, tapi bukan pemilik mutlak dari hasil.
Kerja boleh keras, mimpi boleh tinggi, tapi hati jangan disuruh kerja rodi. Tawakal adalah saat tanganmu sibuk berjuang, tetapi hatimu tahu kapan harus berhenti panik.
Your email address will not be published. Required fields are marked *