
Sekarang sudah lewat tengah malam. Langit Jakarta (dan mungkin langit di atas gentengmu) sedang menumpahkan segala perasaannya. Suaranya syahdu, ritmis, dan... berbahaya.
Bagi penikmat senja dan kopi pahit, hujan jam segini adalah momen emas. Momen untuk menyetel lagu galau, duduk di pinggir jendela sambil menatap kegelapan, lalu membayangkan wajah mantan (yang padahal udah nikah sama orang lain). Rasanya estetik banget. Berasa jadi pemeran utama di video klip lagu Tulus.
Tapi, bagi kita—kaum realistis dengan kondisi infrastruktur rumah yang "apa adanya"—romantisme itu cuma bertahan 5 menit.
Kenapa?
Karena di menit ke-6, suara rintik hujan yang menenangkan itu tiba-tiba diganggu oleh suara lain yang lebih mengintimidasi.
Tes... Tes... Pluk.
Bukan, itu bukan suara air mata. Itu suara air hujan yang sukses menembus pertahanan genteng tua, lalu mendarat mulus di atas kasur atau lantai.
Bubar sudah estetikanya.
1. Orkestra Baskom dan Panci
Seketika, mode "Pujangga Galau" berubah jadi mode "Ninja Penyelamat Rumah".
Kita loncat dari kasur, nyalakan lampu, dan mulai berburu harta karun: Ember, Baskom, dan Panci.
Di sinilah letak komedinya. Kamu yang tadi niatnya mau deep talk sama diri sendiri soal masa depan, sekarang malah sibuk menata formasi ember di ruang tamu.
Teng! (Satu tetes masuk panci aluminium).
Dug! (Satu tetes masuk ember plastik).
Pletok! (Satu tetes kena lantai karena meleset).
Selamat, rumahmu sekarang punya orkestra alami. Konser tunggal tengah malam, disponsori oleh Ar-Rahman dan genteng yang minta diganti.
2. Ujian Keimanan Bernama "Air Dingin"
Di balik keributan mencari ember, terselip makna yang deep (sedalam genangan air di depan pagar).
Hujan tengah malam dan genteng bocor adalah cara Allah, Sang Maha Ar-Rahman, untuk melatih humility (kerendahan hati) kita.
Bayangkan, kita sering merasa sombong kalau lagi di luar. Merasa keren dengan outfit rapi. Tapi di jam 00.30 ini, kita cuma manusia biasa pake kaos partai atau daster sobek, yang sibuk ngepel lantai sambil kedinginan.
Allah seakan bilang: "Hamba-Ku, rumahmu boleh bocor, tapi jangan sampai imanmu yang bocor."
Genteng yang bocor mengajarkan kita bahwa nggak ada yang sempurna di dunia ini. Rumah mewah bisa bocor, hati yang kuat bisa sedih, dan dompet yang tebal bisa... eh, kalau itu sih jarang kejadian sama kita. Intinya, ketidaksempurnaan itu manusiawi.
3. Romantis yang Sesungguhnya
Setelah ember terpasang, dan lantai sudah dipel. Kita duduk lagi. Napas ngos-ngosan dikit.
Di situlah momen romantis yang sebenarnya terjadi. Bukan saat kita berkhayal jadi bintang film, tapi saat kita bersyukur.
"Alhamdulillah, masih punya atap. Walaupun bocor dikit, seenggaknya nggak kehujanan langsung kayak kucing di luar sana."
Ar-Rahman itu Maha Melindungi. Bocor itu cuma "fitur tambahan" biar kita ingat untuk merawat apa yang kita punya. Coba kalau nggak bocor? Mungkin kita lupa ngecek kondisi rumah bertahun-tahun sampai roboh. Bocor adalah alarm kasih sayang Allah: "Halo, tolong diperbaiki ya, biar kamu lebih aman."
4. Penutup: Indomie adalah Kunci
Jadi, kalau sekarang kamu sedang membaca ini sambil mendengar bunyi Teng-Tong-Teng dari arah ruang tengah, jangan ngeluh.
Nikmati orkestranya. Anggap aja itu backsound eksklusif.
Langkah selanjutnya untuk menyempurnakan malam syahdu (dan bocor) ini adalah:
Pergi ke dapur.
Rebus air (pake panci yang nggak dipake buat nampung bocor).
Masukkan mie instan, tambah cabe rawit, dan telur setengah mateng.
Makanlah sambil menatap ember itu. Rasakan kehangatan kuah mie menjalar ke tubuh, dan rasakan kehangatan kasih sayang Ar-Rahman yang masih memberimu tempat berteduh.
Moral of the story:
Hidup itu kadang bocor di sana-sini. Rencana nggak jalan mulus, duit bolong-bolong. Tapi selama kita punya "ember" bernama Sabar dan Syukur, banjir masalah nggak akan menenggelamkan kita.
Selamat menikmati hujan, selamat menikmati mie rebus, dan jangan lupa embernya dibuang kalau udah penuh!
Your email address will not be published. Required fields are marked *