
Selasa, 17 Februari 2026 (Edisi Basah-basahan)
Pagi ini bangun tidur, buka jendela, eh... langit warnanya abu-abu galau. Hawa-hawanya dingin menusuk tulang rusuk (buat yang jomblo) atau bikin mager (buat yang normal).
Ternyata bener, nggak lama kemudian gerimis turun dengan sopan, lalu berubah jadi deras tanpa permisi.
Langsung deh, grup WhatsApp keluarga bunyi ting-tung-ting-tung.
Om Budi bilang: "Wah, Imlek hujan deres! Hoki nih, Cuan mengalir deras tahun ini!"
Sementara Tante Tuti (di grup yang sama) ngebales pakai stiker nangis: "Hoki apanya? Jemuran Tante udah tiga hari nggak kering-kering! Baunya udah kayak apekum (apek kumpul)!"
Dua reaksi beda untuk satu kejadian yang sama: HUJAN.
Tapi di situlah asyiknya kalau kita ngomongin konsep Ar-Rahman (Maha Pengasih) di tengah suasana Imlek ini.
Hujan: Tamu yang Gak Pernah Cek KTP
Pernah nggak sih kamu bayangin kalau Tuhan itu pilih kasih dalam menurunkan hujan? Bayangkan kalau awan mendung itu punya sensor KTP atau sensor kopiah.
Misalnya, hujan cuma boleh turun di atap masjid, tapi dilarang keras nyipratin atap kelenteng. Atau sebaliknya, hujan cuma turun di rumah yang pasang lampion, sementara rumah Pak RT yang lagi jemur kerupuk harus kering kerontang.
Kebayang ribetnya malaikat yang ngatur curah hujan? "Waduh, ini anginnya geser dikit ke kiri, Bos! Ntar kena jemuran orang saleh, jangan sampai basah!"
Tapi nyatanya? Ar-Rahman nggak begitu mainnya, Bestie.
Sifat Rahman-nya Allah itu sifat kasih sayang yang brutal dan universal. Dia ngasih fasilitas hidup di dunia ini "No Filter". Hujan turun membasahi semuanya.
Mau kamu Koh Acong yang lagi bakar hio, mau kamu Mas Bejo yang lagi sarungan, mau kamu atheis yang lagi bingung cari Tuhan, atau kucing oren yang lagi kawin di genteng—semuanya kebagian air. Semuanya kebagian dingin. Semuanya kebagian becek.
Tuhan nggak nanya: "Eh, kamu tadi Subuhan nggak? Kalau nggak, rumahmu Aku skip hujannya ya."
Nggak. Dia kasih aja. Blewarrr! Basah semua.
Filosofi Mie Rebus dan Toleransi Lambung
Bukti lain betapa "Ar-Rahman" itu menyatukan kita di hari hujan ini adalah fenomena Warung Burjo (Warmindo).
Coba perhatikan. Saat hujan deras di hari Imlek, siapa yang berteduh di warung indomie? Semuanya ada.
Ada yang habis dari kelenteng bajunya merah-merah.
Ada yang habis pulang pengajian.
Ada abang ojol yang lagi neduh sambil ngelap helm.
Mereka semua menyembah "tuhan" yang sama saat hujan: Indomie Rebus Telur Setengah Matang + Cabe Rawit.
Di momen itu, nggak ada perdebatan teologis. Nggak ada yang nanya "Agamamu apa?". Yang ada cuma pertanyaan: "Mas, sawinya banyakin ya."
Itulah cara Ar-Rahman bekerja. Dia menciptakan air hujan, menciptakan rasa lapar, dan menciptakan gandum (bahan mie), supaya manusia sadar: Kita ini sama-sama numpang hidup di Bumi-Nya Allah. Kita sama-sama butuh air, sama-sama butuh makan, dan sama-sama takut kepleset kalau jalanan licin.
Jadi, Masih Mau Ngeluh?
Seringkali kita ngeluh kalau hujan turun.
"Yah, becek."
"Yah, sepatu baru gue kotor."
"Yah, gagal glowing gara-gara makeup luntur."
Padahal, hujan di hari Imlek ini adalah sapaan sayang dari Tuhan buat buminya yang udah kepanasan. Dia ngasih air gratis (padahal PDAM aja bayar, lho). Dia nyiramin pohon mangga tetangga yang buahnya sering kamu minta. Dia ngisi sumur-sumur warga.
Jadi, kalau hari ini kamu kejebak hujan di jalan, atau jemuranmu nggak kering-kering, coba ubah mindset-nya dikit.
Jangan cemberut. Anggap aja kamu lagi menyaksikan "Demo Kasih Sayang Tuhan" secara live.
Tuhan lagi ngasih minum bumi tanpa pandang bulu. Kalau Tuhan yang Maha Kuasa aja bisa sebaik itu sama semua makhluk (termasuk sama orang yang jarang ibadah), masa kita sama tetangga beda agama aja masih buang muka? Malu sama air hujan, dong.
Hoki Buat Semua
Selamat Tahun Baru Imlek buat teman-teman yang merayakan! Semoga cuan-nya deres kayak hujan hari ini.
Dan buat kita yang nggak merayakan tapi tetap menikmati liburnya, yuk kita rayakan dengan cara sederhana: Tidur lagi sambil dengerin suara hujan. Karena tidur nyenyak saat hujan juga rezeki dari Ar-Rahman yang sering kita lupa syukuri.
Note: Artikel ini ditulis sambil nyium bau tanah kena hujan (petrichor) dan nunggu abang bakso lewat.
Your email address will not be published. Required fields are marked *