
Kalau Anda pergi ke Pasar Tanah Abang, tulisan "Harga Pas" itu sebenarnya cuma mitos. Masih bisa digoyang dikit lah. Tapi bagi Nahdlatul Ulama (NU), ada satu harga yang beneran fixed price, nggak ada diskon, nggak ada cashback, dan valid no debat: NKRI Harga Mati.
Selama 100 tahun (iya, seabad, Gaess!), NU sudah memegang prinsip ini. Bahkan sebelum negara ini punya nama resmi, mbah-mbah kita di pesantren sudah sibuk mikirin nasib tanah air sambil ngudud klobot.
Kenapa sih NU sebegitu cintanya sama Indonesia? Padahal Indonesia kan kadang bikin pusing, macet, dan banyak drama?
Jawabannya ada di mantra sakti: Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman).
Indonesia: Sajadah Panjang Kita
Mari kita pakai logika guyon waton. Bayangkan Indonesia ini adalah rumah kontrakan besar. Kita semua penghuninya. Nah, NU itu ibarat bapak kos atau satpam komplek yang galak tapi sebenarnya penyayang.
Bagi santri NU, mencintai Indonesia itu bukan sekadar kewajiban warga negara, tapi kewajiban agama. Kenapa? Karena kita sujud di tanah ini, kita minum air dari bumi ini, dan nanti kalau "lewat", kita juga bakal dikubur di tanah ini (kecuali yang mau dikubur di Mars bareng Elon Musk, silakan).
Jadi, menjaga Indonesia itu sama kayak menjaga sajadah tempat kita sholat. Kalau sajadahnya kotor, sholatnya nggak khusyuk. Kalau negaranya rusuh, gimana mau ngaji dengan tenang? Masak mau tahlilan di tengah medan perang? Kan nggak lucu kalau pas lagi “Lailaahaillallah...” tiba-tiba ada rudal lewat.
Makanya, bagi NU, negara aman = ibadah nyaman. Simpel, kan?
Banser: The Real Guardian of Galaxy (Indonesia)
Bicara soal menjaga NKRI, nggak afdol kalau nggak nyenggol mas-mas Banser.
Ini adalah pasukan paling unik di dunia. Mereka rela ninggalin anak istri, ninggalin kerjaan, kadang nggak dibayar sepeser pun, cuma buat jagain... apa aja. Mulai dari jagain gereja, jagain pengajian, jagain ulama, sampai jagain sandal Kiai biar nggak ketukar sama sandal jepit swallow yang udah tipis.
Banser itu kadang dibully di medsos. Dikatain ini-itu. Tapi herannya, mental mereka kayak baja (atau mungkin karena sering latihan guling-guling di lumpur?). Mereka tetap senyum, tetap sapa, dan kalau ada bencana alam, mereka yang paling dulu nongol bawa pacul dan mie instan.
Kenapa mereka mau repot-repot? Karena doktrin "NKRI Harga Mati" itu sudah mendarah daging. Bagi Banser, menjaga Indonesia itu adalah cara mereka bilang "I Love You" sama Tuhan dan Kiai-nya. So sweet, kan?
Resolusi Jihad: Ketika Santri Marah (Tapi Tetap Santuy)
Jangan lupa sejarah, Rek. Dulu tahun 1945, ketika Sekutu mau mampir lagi buat nge-prank kemerdekaan kita, Mbah Hasyim Asy’ari mengeluarkan "Resolusi Jihad".
Intinya: "Wajib hukumnya perang ngelawan penjajah bagi siapapun yang berada di radius 94 km dari Surabaya."
Bayangkan, santri yang biasanya cuma megang tasbih, tiba-tiba disuruh megang bambu runcing. Kiai yang biasanya ngajar kitab kuning, turun gunung ngatur strategi. Hasilnya? Jenderal Mallaby tewas, Sekutu kocar-kacir, dan lahirlah Hari Pahlawan 10 November.
Itu bukti kalau NU itu kalau lagi mode santai ya ngopi-ngopi. Tapi kalau negaranya diusik? Beuh, singa tidur bangun, Bos!
Pesan Buat Generasi "Login"
Sekarang, di usia yang ke-100 tahun lebih ini, tantangan NU bukan lagi tank Belanda, tapi "tank" hoax di grup WhatsApp keluarga.
Tugas kita sebagai generasi penerus (yang ngakunya NU jalur kultural atau struktural) itu gampang-gampang susah:
Jangan gampang marah. Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika. Beda pilihan presiden, beda ormas, beda selera bubur (diaduk vs. gak diaduk), tetap rukun.
Rawatlah humor. Gus Dur pernah bilang, "Gitu aja kok repot." Kalau beragama bikin kamu tegang terus, mungkin kamu kurang piknik atau kurang ngopi.
Cintai Indonesia ugal-ugalan. Jangan mau dipecah belah.
Penutup: Kopi dan NKRI
Akhir kata, mari kita rayakan 100 tahun (dan seterusnya) NU ini dengan gembira. NU adalah tenda besar bangsa ini. Siapa saja boleh berteduh, siapa saja boleh ikut ngopi.
Terima kasih NU, sudah mengajarkan kami bahwa:
Menjadi Islam dan menjadi Indonesia itu bukan pilihan ganda. Kita tidak harus memilih salah satu. Kita bisa menjadi orang Islam yang taat, sekaligus orang Indonesia yang patriot.
Hubbul Wathon Minal Iman.
Cinta tanah air sebagian dari iman.
Cinta kamu sebagian dari... ah sudahlah.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Tharieq.
(Semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus—dan tidak macet).
Merdeka!
Your email address will not be published. Required fields are marked *