
Mari kita buat kesepakatan: notifikasi paling horor di dunia ini bukanlah pesan dari mantan yang ngajak balikan, bukan juga SMS mobile banking yang isinya tagihan paylater. Notifikasi paling bikin jantungan dengan detak 120 beat per minute adalah bunyi ting! dari Grup WA Wali Murid/Komite Sekolah di atas jam 7 malam.
Bagi Emak-emak, jam 7 malam ke atas adalah zona sakral. Anak (idealnya) sudah mulai merem, daster kebesaran sudah dipakai, dan remote TV sudah di tangan siap maraton drakor. Tapi, begitu layar HP menyala dan menampilkan preview pesan dari Wali Kelas atau Ketua Komite... seketika suasana berubah jadi thriller.
Babak 1: Instruksi Gaib di Malam Hari
Isi pesannya biasanya diawali dengan kata-kata manis yang menipu:
"Selamat malam Mama-Mama Hebat... Mohon maaf mengganggu waktu istirahatnya. Untuk pelajaran besok pagi, mohon anak-anak membawa tugas prakarya: miniatur kebun binatang dari kardus bekas, stik es krim, kapas, cat air, dan daun kering jenis menjari. Terima kasih atas kerjasamanya, Bunda! 🥰"
Dhuarrrr! Petir imajiner langsung menyambar ubun-ubun Emak. Jam 8 malam! Di mana hamba harus mencari stik es krim sebanyak itu? Apakah hamba harus mencegat abang es krim keliling yang udah pulang kampung? Dan daun kering jenis menjari?! Masa iya malam-malam buta Emak harus cosplay jadi kuntilanak bawa senter nyari daun pepaya kering di kebon tetangga?!
Seketika, drakor dimatikan. Mode "Pasukan Khusus" diaktifkan. Bapak yang lagi santai ngopi langsung ditarik kerahnya suruh starter motor buat hunting ke toko fotokopi depan komplek yang setengah rolling door-nya udah mau ditutup.
Babak 2: Ilusi "Biarkan Anak Berkreasi Sendiri"
Dalam instruksinya, guru selalu berpesan bijak: "Mama, tolong biarkan anak mengerjakan sendiri ya, agar melatih motorik dan kreativitasnya."
Oh, sungguh teori yang sangat indah. Mari kita lihat realitanya di lapangan.
Pukul 21:00 WIB. Perlengkapan tempur sudah siap di atas karpet ruang tamu. Si anak, dengan mata setengah watt, memegang kuas cat air.
Dia mencelupkan kuas, mengoleskan warna cokelat ke kardus... satu coretan. Dua coretan. Lalu tiba-tiba kuasnya dilempar.
"Ma, capek. Adek ngantuk, mau bobo aja."
Dan berjalanlah si tersangka utama ke kamar, meninggalkkan medan perang yang dipenuhi lem UHU, potongan kardus, dan kapas yang berterbangan.
Tinggallah sang Emak sendirian. Menatap nanar ke arah tumpukan bahan. Mau nggak dikerjain, nanti besok anaknya nangis di sekolah karena cuma dia yang nggak bawa tugas. Akhirnya, dengan mata pedas dan punggung encok, Emak lembur. Jam 1 pagi, Emak yang tadinya akuntan/ibu rumah tangga/karyawan swasta mendadak berubah profesi menjadi arsitek dan seniman instalasi tingkat dewa.
Babak 3: Ajang Pameran Seni Terselubung (Pagi Harinya)
Keesokan paginya di gerbang sekolah. Ini adalah momen pembuktian. Momen di mana Emak-emak saling adu masterpiece berkedok "tugas anak".
Anak-anak turun dari motor membawa karya mereka dengan wajah polos, bangga banget. "Aku yang bikin dong!" teriak mereka ke teman-temannya.
Sementara di belakang mereka, para Emak saling bertatap mata dengan kantung mata hitam ala panda, saling mengirim sinyal telepati: "Halah, gue tahu persis itu elo kan mak yang nempel stik es krimnya sampai jam 2 pagi?!"
Di sinilah kita bisa menganalisis siapa yang mengerjakan tugas tersebut dari bentuknya:
Kalau bentuknya terlalu sempurna, presisi, kokoh, dan pakai lampu LED: Ini fix yang ngerjain Bapaknya yang kebetulan lulusan Teknik Sipil.
Kalau bentuknya aesthetic, warnanya pastel, rapi, dan ada taburan glitter: Ini murni 100% keringat dan air mata Emaknya.
Kalau bentuknya abstrak, miring-miring, lemnya blepotan ke mana-mana, dan bentuk sapinya lebih mirip kecoa: Nah! Ini baru beneran hasil karya murni si anak (dan biasanya Emaknya cuek rebahan dari semalam).
Pesan Moral untuk Skuadron Emak-Emak
Mak, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Di setiap potongan kardus yang keras kepala nggak mau nempel walau udah dilem super glue, di setiap tangan yang lengket dan susah dicuci karena cat akrilik, ada jutaan Emak lain di luar sana yang sedang mengalami penderitaan yang sama.
Tugas prakarya anak zaman now memang sejatinya adalah "Ujian Kompetensi dan Mental untuk Orang Tua". Jadi, pastikan stok lem UHU, gunting, kertas lipat, dan kardus bekas online shop selalu tersedia di gudang rumah. Karena kita tidak akan pernah tahu, kapan bunyi Ting! dari grup WA sekolah itu akan kembali meneror malam kita yang damai.
Salam lembur, salam jari lengket! Besok kalau ada lomba tata kota, mending sekalian aja perwakilan Emak-emak komite sekolah yang dimajuin, dijamin menang!
Your email address will not be published. Required fields are marked *