
Pagi ini, linimasa media sosial isinya merah semua. Bukan, bukan karena lagi kampanye partai, tapi karena hari ini Imlek. Gong Xi Fa Cai buat teman-teman yang merayakan!
Buat kita yang nggak merayakan? Ya tetap ikut merayakan... merayakan liburnya, merayakan diskon dimsum all you can eat-nya, dan tentu saja merayakan harapan semu: "Siapa tahu tetangga sebelah khilaf ngasih angpao, padahal umur kita udah kepala empat."
Di momen Imlek gini, satu kata yang jadi primadona adalah: HOKI.
Semua orang mendadak jadi ahli nujum. Cek ramalan Shio Kuda di tahun 2026, katanya bakal moncer asmara tapi seret di cicilan panci. Shio Naga katanya bakal dapat rezeki nomplok, tapi hati-hati kesandung masa lalu.
Jujur aja, konsep "menunggu hoki" ini kadang bikin hidup berasa lagi main gacha atau ikutan giveaway. Deg-degan. Kita jadi mikir rezeki itu kayak undian jalan santai; harus nunggu nomor dipanggil, harus rebutan, dan kalau lagi apes ya cuma dapat payung cantik (itu juga kalau stok masih ada).
Padahal, kalau kita melipir sedikit ke konsep Ar-Rahman (Maha Pengasih) dalam Al-Fatihah, rezeki itu konsepnya bukan undian, Bestie.
Rezeki itu Jaminan Mutu, Bukan "Siapa Cepat Dia Dapat"
Coba bayangkan kalau Tuhan itu "baperan" atau itung-itungan kayak admin pinjol.
Misalnya nih, pagi ini kamu bangun tidur, lupa baca doa, lupa salat Subuh, eh malah langsung scroll TikTok lihat jogetan orang. Kalau Tuhan pakai sistem "Hoki-hokian" atau "Reward & Punishment" instan, harusnya detik itu juga pasokan oksigen ke hidung kamu diputus.
"Maaf, kuota napas Anda habis karena saldo pahala tidak mencukupi. Silakan top-up tobat dulu."
Serem, kan?
Tapi faktanya? Kamu masih napas enak banget. Jantung masih jedag-jedug gratis. Mata masih bisa melek lihat diskonan.
Itulah Ar-Rahman. Sifat kasih sayang Allah yang brutal. Kenapa saya bilang brutal? Karena Dia ngasih fasilitas hidup "Premium" ini ke SEMUA orang.
Mau kamu taat banget, jidat hitam, atau kamu pendosa kelas kakap yang kerjaannya nipu orang, atau kamu yang insecure karena merasa nggak berguna—semuanya tetap dikasih makan. Semuanya tetap dikasih oksigen. Matahari tetap terbit buat orang shaleh dan buat koruptor. Hujan di hari Imlek ini tetap membasahi genteng masjid dan genteng kelenteng sama ratanya.
Stop Jadi Pemburu Hoki, Mulailah Jadi Penikmat "Gratisan"
Kita sering stres karena mengejar rezeki tambahan (hoki/cuan/bonus), sampai lupa kalau "gaji pokok" dari Tuhan itu udah cair tiap detik.
Kita sibuk mikirin "Duh, tahun ini Shio Kelinci Cuan nggak ya?" atau "Duh, besok bisa bayar cicilan nggak ya?"
Saking paniknya sama masa depan yang belum terjadi, kita lupa menikmati soto ayam yang lagi kita kunyah sekarang. Padahal, bisa makan soto, lidah bisa ngerasain asin-gurih, perut bisa kenyang, itu adalah bentuk kasih sayang Ar-Rahman yang real, bukan ramalan.
Jadi, di hari libur yang syahdu ini, coba deh ubah mindset dikit.
Berhenti menganggap hidup ini ajang lotre. Tuhan bukan bandar judi yang melempar dadu buat nentuin nasibmu hari ini. Dia adalah Ar-Rahman, Sang Maha "Pemurah Hati" yang bahkan sebelum kamu minta, Dia udah siapin kebutuhanmu.
Rezeki itu dijamin. Yang nggak dijamin itu cuma gaya hidupmu (dan keinginanmu buat ganti HP tiap tahun).
Yuk, Ngopi Dulu!
Jadi, buat kamu yang hari ini merasa "kurang hoki" karena nggak dapat angpao, atau merasa hidup lagi berat banget: Tenang. Tarik napas panjang (mumpung gratis). Seruput kopimu.
Inget, selama kamu masih bernapas, berarti Tuhan masih sayang. Ar-Rahman masih bekerja 24 jam non-stop buat memastikan sistem tubuhmu berjalan, buminya berputar, dan rezekimu sampai ke alamat yang tepat—tanpa nyasar ke tetangga.
Selamat liburan, selamat makan kue keranjang (awas gigi lengket), dan selamat menikmati kasih sayang Tuhan yang unlimited!
Ditulis sambil nunggu hujan reda dan berharap ada yang salah transfer ke rekening.
Your email address will not be published. Required fields are marked *