
Selamat hari Senin libur! Hari ini, mari kita bicara soal bakat terpendam kita semua. Bukan bakat nyanyi atau masak, tapi bakat mempersulit hidup sendiri.
Pernah nggak sih kamu sadar, kalau manusia modern (iya, kita ini) punya SOP (Standar Operasional Prosedur) yang aneh banget kalau lagi kena masalah?
Entah itu masalah kerjaan, drama percintaan, atau dompet yang mendadak diet ketat. SOP kita biasanya begini: Panik dulu, Stres dulu, Curhat dulu, baru Doa belakangan.
Padahal, kita punya "Tombol Bantuan Darurat" yang kita baca minimal 17 kali sehari di Al-Fatihah ayat 5: "Wa iyyaka nasta'in" (Dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan).
Tapi anehnya, tombol ini sering banget jadi opsi terakhir. Kayak ban serep yang cuma dipakai kalau ban utamanya udah meledak.
Nah, buat kamu yang merasa tersindir (tenang, saya juga), berikut adalah "Tutorial Lengkap Cara Bikin Capek Diri Sendiri" yang sering kita praktikkan tanpa sadar.
Langkah 1: Aktifkan Mode "Overthinking Sampai Subuh"
Begitu ada masalah, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah: Jangan tidur.
Putar otakmu sekeras mungkin untuk mencari solusi yang sebenernya nggak ada. Bayangkan skenario terburuk yang belum tentu kejadian.
"Duh, kalau besok dimarahin Bos gimana?"
"Kalau dia ninggalin aku gimana?"
"Kalau nanti harga cilok naik gimana?"
Lakukan ini selama 3 jam non-stop sampai asam lambung naik dan mata panda. Ingat, jangan minta tolong Tuhan dulu. Kan kita merasa kuat dan bisa jadi solusi maker buat diri sendiri. (Padahal mah, pusing doang).
Langkah 2: Konferensi Pers di Media Sosial
Kalau overthinking belum membuahkan hasil, lanjut ke langkah kedua: Cari Validasi Manusia.
Update status galau di Close Friend dengan background hitam lagu Tulus. Atau bikin utas (thread) di Twitter/X. Tujuannya apa? Berharap ada manusia yang peduli.
Padahal realitanya:
Teman A cuma balas: "Sabar ya, Bestie." (Template banget).
Teman B cuma view doang (kepo).
Teman C malah adu nasib: "Ah elo mending, lah gue..."
Hasilnya? Masalah nggak kelar, hati makin dongkol karena merasa nggak ada yang ngertiin. Capek kan? Bagus, itu tujuannya.
Langkah 3: Mengandalkan Koneksi "Orang Dalam"
Masih belum nyerah? Coba telepon sana-sini. Pinjam duit ke si A, minta tolong si B. Kita sibuk mengetuk pintu hati manusia yang kuncinya sering macet.
Kita lupa, hati manusia itu yang bolak-balik Siapa? Allah.
Rezeki itu yang pegang kerannya Siapa? Allah.
Tapi anehnya, kita lebih percaya sama janji manis teman yang hobi ghosting daripada janji Allah yang pasti ditepati.
Langkah 4: The "Walk of Shame" (Baru Deh Ambil Wudhu)
Nah, setelah semua cara di atas gagal.
Setelah otak mau meledak.
Setelah di-PHP in manusia.
Setelah mentok jedok tembok...
Barulah dengan langkah gontai kita jalan ke kamar mandi. Nyalain kran air. Wudhu. Gelar sajadah. Terus nangis bombay.
"Ya Allah... aku nggak kuat... Tolong aku..."
Di momen ini, sebenernya malaikat mungkin mau nyeletuk: "Dari tadi ke mana aja, Malih? Tombol 'Iyyaka Nasta'in'-nya kan udah ada dari awal, kenapa baru dipencet sekarang pas udah bonyok?"
Plot Twist: Kenapa Nggak Dibalik Aja?
Sebentar lagi Ramadan. Vibe-nya udah mulai kerasa. Gimana kalau kita ubah SOP-nya?
Ayat "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" itu sebenernya Jalur VIP. Jalur Langit.
Bayangkan kamu punya Bapak seorang Presiden. Terus kamu butuh uang jajan.
Orang bodoh akan ngamen dulu di lampu merah, panas-panasan, diusir Satpol PP, baru malemnya pulang minta Bapaknya.
Orang pinter akan langsung bilang: "Pak, minta duit." Selesai.
Allah itu Raja dari segala Raja. Dia yang punya skenario hidup kita.
Kalau ada masalah, Lapor Pusat DULU.
"Ya Allah, ada masalah gawat nih. Aku ikhtiar (usaha), tapi Engkau yang beresin ya. Aku nggak mampu kalau sendirian."
Habis lapor, baru usaha. Hati tenang, backup-an kuat. Nggak perlu drama status WA, nggak perlu begadang mikirin hal halu.
Kesimpulan
Jadi, berhentilah menyiksa diri sendiri dengan tutorial di atas. Kita ini cuma hamba, bukan superhero. Pundak kita diciptakan untuk bersujud, bukan untuk menanggung beban dunia sendirian.
Jadikan "Iyyaka Nasta'in" sebagai Opsi Pertama, bukan Emergency Exit terakhir.
Hidup udah ribet, Bestie. Jangan ditambah ribet dengan menjauhi Sang Pemberi Solusi.
Yuk, ambil wudhu sekarang (mumpung belum Asar/Magrib), curhat sama Yang Paling Ngertiin kamu.
Selamat berlibur tanpa overthinking!
Your email address will not be published. Required fields are marked *