
Pernah nggak kamu merasa hidupmu itu kayak sebuah film layar lebar, tapi sayangnya, kamu bukan sutradaranya? Kamu cuma jadi pemeran pengganti yang setiap gerak-geriknya selalu diteriaki sama penonton di kursi bioskop.
"Eh, jangan pakai baju itu, nggak cocok!"
"Eh, jangan ambil jurusan itu, nanti susah cari kerja!"
"Eh, kok belum nikah? Umur segini harusnya udah punya anak!"
Kalau semua omongan orang itu kita dengerin, hidup kita bakal jadi kompilasi chaos yang aneh. Bayangkan, hari ini kamu pakai baju pesta ke kantor karena disuruh teman, besoknya kamu belajar akuntansi karena disuruh tante, padahal sebenarnya kamu lebih suka merawat tanaman kaktus. Hasilnya? Kamu jadi manusia yang bingung sendiri dan ujung-ujungnya malah jadi bahan gosip baru.
Masalah utama dari mencari validasi adalah kita sering lupa kalau hidup kita bukan etalase toko yang harus selalu terlihat rapi demi kenyamanan mata orang yang lewat.
Ada satu fenomena lucu: kita sering takut dihakimi oleh orang yang, jujur saja, hidupnya sendiri juga berantakan. Kita takut dikomentari sama orang yang bahkan nggak bisa membedakan skincare mana yang bikin mukanya makin kinclong atau malah makin breakout. Kita membiarkan opini mereka menjadi kompas hidup kita, padahal mereka sendiri sering tersesat saat cari parkiran di mal.
Kalau kamu ingin berhenti hidup dari pendapat orang lain, mungkin cara-cara di bawah ini bisa membantu tanpa bikin kamu kelihatan kayak orang sombong yang anti-sosial:
Anggap Komentar Mereka sebagai "Iklan"
Pernah lihat iklan pop-up di YouTube yang muncul tiba-tiba pas kamu lagi seru-serunya nonton? Begitulah pendapat orang. Mereka muncul, berisik, dan mengganggu. Tapi, kamu nggak perlu klik iklan itu, kan? Cukup klik tombol skip, tarik napas, dan balik lagi fokus ke hidupmu. Komentar orang itu cuma pop-up, bukan isi film utamamu.
Sadari Bahwa Kamu Nggak Bisa Menyenangkan "Si Tukang Kritik"
Ada tipe orang yang memang tugas hidupnya adalah mengkritik. Kalau kamu kaya, dia bilang kamu sombong. Kalau kamu sederhana, dia bilang kamu kurang ambisius. Kalau kamu pendiam, dia bilang kamu kuper. Kalau kamu banyak bicara, dia bilang kamu sok tahu. Jadi, daripada capek-capek nyari cara biar dia senang, mending kamu pakai energi itu buat beli kopi atau nonton drakor. Lebih berfaedah!
Latihan "Masa Bodoh" yang Elegan
Kamu nggak harus menjawab setiap kritikan dengan argumen ilmiah. Cukup senyum, bilang "Oh, ya ya," terus lanjutin apa yang sedang kamu lakukan. Itu bukan tanda kamu kalah, itu tanda kamu terlalu sibuk untuk meladeni hal-hal yang nggak penting.
Ingat, orang lain itu punya panggungnya sendiri. Mereka sibuk mengurus drama mereka masing-masing, jadi sebenarnya mereka nggak akan terlalu memikirkan pilihan hidupmu dalam jangka panjang. Kalaupun mereka berkomentar, itu biasanya cuma selingan buat menghabiskan waktu luang mereka.
Jangan sampai masa mudamu—atau masa tuamu—habis hanya untuk memastikan orang lain "oke" dengan keputusanmu. Kamu adalah sutradara di film hidupmu sendiri. Kalau filmnya kurang bagus menurut mereka, ya silakan bikin film sendiri! Jangan sampai kamu merusak naskah aslimu demi memenuhi keinginan penonton yang bahkan nggak bayar tiket masuk.
Jadi, mulai sekarang, coba tanya ke diri sendiri: "Kalau nggak ada yang bakal menghakimi, keputusan apa yang sebenarnya gue ambil hari ini?" Kalau kamu sudah nemu jawabannya, jalanin aja. Urusan orang lain mau komentar apa, ya itu jadi tugas mereka. Tugasmu cuma satu: jadi pemeran utama yang paling bahagia, bukan yang paling "diterima".
Jadi, keputusan apa yang selama ini kamu tahan-tahan cuma karena takut dikomentari orang? Yuk, berani sedikit hari ini!
Your email address will not be published. Required fields are marked *