
Memasuki bulan Muharram, suasana batin umat Islam biasanya mulai berubah. Apalagi kalau sudah dekat tanggal 10 Muharram alias Hari Asyura. Linimasa media sosial yang biasanya isinya gibah halus, pamer outfit, debat politik, sindiran mantan, dan perang komentar yang lebih panas daripada wajan tukang gorengan, tiba-tiba berubah jadi adem. Muncul pamflet bernuansa hijau, ada gambar kubah, ornamen bulan sabit, tulisan Arab tipis-tipis, lalu kalimatnya menyentuh hati: “Mari Berbagi, Lebarannya Anak Yatim.”
Begitu Hari Asyura tiba, kampung-kampung mulai hidup. Musala ramai, majelis taklim sibuk, panitia bergerak cepat, ibu-ibu mulai masak, bapak-bapak mulai angkat kursi, remaja masjid mulai mondar-mandir bawa sound system yang kalau dinyalakan suaranya kadang lebih semangat daripada penceramahnya. Anak-anak yatim diundang, dikumpulkan, disambut, lalu diberi santunan. Ada yang dikasih amplop, ada yang dikasih bingkisan, ada yang diajak makan bersama. Suasana jadi hangat. Umat kelihatan guyub. Yang biasanya susah kumpul, mendadak bisa kompak. Memang kadang umat ini kalau diajak rapat susah, tapi kalau diajak makan dan sedekah, insyaallah hadir dengan penuh perjuangan.
Fenomena ini jelas baik. Sangat baik malah. Daripada uang habis buat hal-hal yang tidak jelas, lebih baik dipakai untuk membahagiakan anak yatim. Daripada dipakai buat beli kopi senja seharga makan tiga kali, lalu pulang-pulang tetap galau, mending dipakai buat santunan. Daripada dipakai top-up game sampai dompet tinggal tulang, lebih baik masuk ke amplop anak yatim. Apalagi kalau sampai dipakai untuk hal yang haram seperti judi online, slot, dan kawan-kawannya, wah itu sudah beda urusan. Itu bukan cuma dompet yang menangis, malaikat pencatat amal juga mungkin melihat sambil istighfar: “Ya Allah, ini hamba-Mu kok kreatif sekali cari jalan rugi.”
Tapi namanya manusia, bahkan dalam kebaikan pun kadang ada yang perlu dirapikan. Salah satunya soal niat. Di Hari Asyura, banyak orang semangat bersedekah. Itu bagus. Tapi diam-diam, ada sebagian dari kita yang sedekahnya masih memakai sistem kalkulator dagang. Keluar uang lima puluh ribu, berharap besok balik lima juta. Kasih amplop ke anak yatim, berharap proyek langsung cair. Baru transfer santunan, sudah buka mobile banking berkali-kali, siapa tahu rezeki dari langit masuk lewat notifikasi. Lah, ini sedekah apa menunggu cashback?
Kadang doa kita setelah sedekah itu bunyinya sudah seperti proposal bisnis. “Ya Allah, ini hamba sedekah gocap. Mohon dibalas sepuluh kali lipat. Kalau bisa hari ini juga. Kalau bisa lewat transfer. Kalau bisa tidak pakai pending. Kalau bisa sekalian utang lunas, dagangan laris, badan sehat, mertua tambah sayang, tetangga berhenti nyinyir, dan mantan menyesal.” Lho, lho, lho. Ini sedang bermunajat atau sedang menyusun paket promo?
Tentu berharap kepada Allah itu boleh. Bahkan sangat wajar. Kita manusia, bukan malaikat yang sudah stabil imannya. Iman kita kadang masih model sinyal WiFi di pojok rumah: sebentar kuat, sebentar hilang, sebentar muter-muter, lalu muncul tulisan “reconnecting”. Kita bersedekah sambil berharap Allah mengganti dengan yang lebih baik, itu tidak salah. Allah memang Maha Pemberi. Allah juga menjanjikan bahwa kebaikan tidak akan sia-sia. Sedekah bisa membuka pintu keberkahan, melapangkan rezeki, menenangkan hati, dan menjadi bekal akhirat.
Yang menjadi masalah bukan berharapnya, tapi kalau harapan itu berubah menjadi mental menagih. Seolah-olah kita sedang bertransaksi dengan Allah pakai nota kontan. “Ya Allah, saya sudah sedekah. Ini bukti transfernya. Mohon diproses maksimal 1 x 24 jam.” Kalau belum dibalas sesuai keinginan, langsung kecewa. “Kok belum kaya-kaya, ya? Katanya sedekah bikin rezeki lancar.” Nah, ini yang perlu disadari. Gusti Allah itu Tuhan, bukan admin e-wallet. Sedekah itu ibadah, bukan kode voucher.
Kadang kita terlalu sempit memahami rezeki. Kita pikir rezeki itu hanya uang masuk, saldo bertambah, proyek cair, dagangan laris, atau tiba-tiba ada orang salah transfer tapi tidak minta balik. Padahal rezeki Allah itu luas sekali. Bisa jadi kita sedekah lima puluh ribu, lalu Allah membalas bukan dengan uang tunai, tapi dengan badan yang sehat. Kita tidak jadi sakit, tidak perlu ke rumah sakit, tidak perlu bayar obat mahal, tidak perlu antre di klinik sambil menatap nomor antrean seperti menunggu kepastian hidup. Itu rezeki besar.
Bisa jadi Allah membalas sedekah kita dengan keluarga yang adem. Anak-anak dijaga. Rumah tangga tidak mudah panas. Suasana rumah tidak seperti grup WhatsApp yang isinya debat semua. Bisa jadi Allah membalas dengan hati yang tenang. Uang memang belum banyak, tapi tidur nyenyak. Makan tahu tempe tetap nikmat. Lihat orang lain sukses tidak langsung panas. Dengar tetangga beli motor baru tidak langsung ingin kredit dua sekaligus. Itu juga rezeki. Bahkan rezeki yang mahal. Sebab ada orang uangnya banyak, tapi hatinya gelisah. Rekening tebal, tapi batin tipis. Disenggol komentar sedikit langsung meledak seperti petasan lebaran.
Bisa juga Allah membalas dengan dijauhkan dari musibah yang kita sendiri tidak tahu. Motor tidak jadi kecelakaan. Ban tidak bocor di tengah hujan. Anak tidak sakit. Urusan yang hampir ruwet tiba-tiba diberi jalan keluar. Kita merasa tidak mendapat apa-apa, padahal Allah sedang menahan banyak keburukan agar tidak sampai kepada kita. Masalahnya, perlindungan seperti ini tidak muncul di notifikasi. Tidak ada bunyi “ting!” Tidak ada tulisan, “Selamat, Anda baru saja dijauhkan dari musibah senilai Rp3.700.000.” Karena tidak terlihat, kita sering lupa bersyukur.
Yang lebih besar lagi, bisa jadi balasan sedekah disimpan untuk akhirat. Ini yang paling aman. Tidak kena inflasi, tidak bisa diretas, tidak perlu OTP, tidak takut lupa password, tidak ada biaya admin bulanan, dan tidak bisa dibobol pinjol. Tabungan akhirat itu sunyi, tapi nilainya abadi. Cuma karena tidak tampil di mobile banking, kita sering meremehkannya. Padahal boleh jadi justru itulah balasan paling mahal dari sedekah kita.
Maka lucu juga kalau setelah sedekah kita langsung menguji Allah dengan kalkulator. Baru memberi sedikit, sudah berharap hidup berubah total seperti sinetron menjelang tamat. Padahal sedekah bukan mesin pelipat uang. Bukan investasi bodong spiritual. Bukan pula slot versi syariah. Jangan sampai kita meninggalkan judi online, tapi cara berpikirnya masih sama: keluar modal kecil, berharap jackpot besar. Bedanya cuma tempatnya. Yang satu di aplikasi haram, yang satu dibungkus amplop santunan. Bahaya kalau begitu. Sedekahnya benar, tapi mentalnya masih perlu disantrikan dulu.
Hari Asyura seharusnya menjadi momen untuk melembutkan hati, bukan sekadar mengejar efek ekonomi. Anak yatim yang kita santuni bukan tombol pembuka rezeki. Mereka bukan perantara untuk melancarkan ambisi bisnis kita. Mereka bukan objek acara tahunan yang datang, duduk, difoto, diberi amplop, lalu selesai. Anak yatim adalah manusia yang perlu dimuliakan. Mereka butuh kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan masa depan yang dijaga. Jangan sampai kita datang dengan wajah paling iba, mengusap kepala mereka sambil kamera menyala, lalu setelah acara selesai kita lupa lagi bahwa mereka masih punya kehidupan yang harus diperhatikan.
Mengusap kepala anak yatim itu indah jika dilakukan dengan kasih sayang. Tapi jangan sampai saking semangatnya, rambut si anak jadi acak-acakan seperti habis diterjang angin tol Cipularang. Jangan pula tangan mengusap kepala, tapi mata melirik kamera: “Sudah keambil belum fotonya?” Ini bahaya. Nanti yang disentuh bukan cuma kepala anak yatim, tapi juga penyakit riya di dalam hati. Dokumentasi boleh, apalagi kalau untuk laporan donatur. Transparansi itu penting. Tapi kalau dokumentasi berubah jadi panggung kesalehan pribadi, hati-hati. Jangan sampai anak yatim hanya menjadi latar belakang konten kita.
Kadang niat kita memang lucu. Mau ikhlas, tapi masih ingin dilihat. Mau tulus, tapi masih ingin dipuji. Mau berbagi karena Allah, tapi diam-diam menunggu komentar, “Masyaallah, dermawan sekali.” Begitulah hati manusia. Tidak usah sok suci. Hati kita ini bukan marmer masjid yang selalu mengkilap. Kadang berdebu, kadang licin, kadang perlu dipel berkali-kali. Maka tugas kita bukan merasa paling ikhlas, tapi terus membersihkan niat pelan-pelan.
Jangan juga gampang menuduh orang lain tidak ikhlas. Ada orang sedekah lalu mengunggah foto, langsung dikomentari, “Ah, riya itu.” Lah, kita ini siapa? Malaikat bagian audit niat? Bisa jadi dia unggah untuk mengajak orang lain. Bisa jadi untuk laporan. Bisa jadi memang niatnya campur-campur, seperti kita juga. Urusan hati itu halus. Diri sendiri saja kadang tidak paham isi niat sendiri, apalagi isi hati orang lain. Maka daripada sibuk meneropong niat tetangga, lebih baik niat sendiri dulu yang dicek. Jangan-jangan kita tidak sedekah, tapi semangat mengkritik orang sedekah. Itu lebih repot. Tidak dapat pahala memberi, malah dapat capek mengomentari.
Yang paling sehat adalah mengajak diri sendiri naik kelas. Kalau awalnya kita sedekah karena ingin rezeki lancar, tidak apa-apa. Pelan-pelan tambahkan, “Ya Allah, jadikan ini tanda syukurku.” Kalau awalnya kita menyantuni anak yatim karena ingin urusan dimudahkan, tidak apa-apa. Pelan-pelan tambahkan, “Ya Allah, lembutkan hatiku agar tidak pelit kepada sesama.” Kalau awalnya kita berharap balasan dunia, tidak apa-apa. Pelan-pelan tambahkan, “Ya Allah, jadikan ini bekal akhiratku.”
Begitulah cara hati dididik. Tidak langsung sempurna. Tidak langsung jadi wali. Kita ini masih hamba amatiran yang sedang belajar bener. Kadang ibadah masih banyak maunya, doa masih panjang daftarnya, sabar masih tipis stoknya, ikhlas masih sering bocor. Tapi tidak apa-apa. Yang penting arahnya benar. Dari sekadar ingin dibalas lebih banyak, pelan-pelan naik menjadi ingin lebih dekat kepada Allah. Dari sekadar mengejar rezeki, naik menjadi merawat syukur. Dari sekadar memberi amplop, naik menjadi menghadirkan kasih sayang.
Sebab sedekah yang indah bukan hanya ketika tangan memberi, tetapi ketika hati ikut hadir. Kita memberi bukan karena merasa paling kaya, tetapi karena sadar semua yang kita punya hanyalah titipan. Kita menyantuni bukan karena ingin disebut saleh, tetapi karena tahu ada hak orang lain dalam harta kita. Kita memuliakan anak yatim bukan karena kalender sedang menunjukkan 10 Muharram, tetapi karena Rasulullah Saw. sangat memuliakan mereka.
Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa orang yang mengurus dan menyantuni anak yatim memiliki kedudukan yang sangat dekat dengan beliau. Ini pesan besar. Memuliakan anak yatim bukan amal kecil. Ini amal yang dekat dengan kasih sayang Nabi. Kalau sudah bicara cinta Nabi, rasanya hati jadi malu kalau masih terlalu sibuk bertanya, “Nanti baliknya berapa, ya?”
Maka, mari menghidupkan Hari Asyura dengan gembira, hangat, dan jujur kepada diri sendiri. Silakan bersedekah. Silakan menyantuni. Silakan berharap rezeki dari Allah. Itu baik. Tapi jangan sampai kalkulator dunia merusak kelembutan hati kita. Jangan sampai sedekah yang harusnya membuat jiwa lapang malah berubah menjadi transaksi penuh tuntutan. Jangan sampai doa kita kepada Allah kalah tulus dari orang yang menunggu hasil slot. Na’udzubillah, semoga kita dijauhkan dari yang begitu-begitu.
Berkah itu tidak selalu berarti uang bertambah banyak. Kadang berkah berarti hati lebih tenang, rumah lebih adem, badan lebih sehat, urusan lebih mudah, keluarga lebih terjaga, dosa-dosa diampuni, dan langkah hidup makin dekat kepada Allah. Kadang berkah itu sesederhana melihat anak yatim tersenyum karena merasa diperhatikan, bukan sekadar disantuni.
Kalau setelah berbagi ada hati yang terhibur, ada anak yang tersenyum, ada doa yang naik ke langit, dan ada sifat pelit dalam diri kita yang mulai rontok satu per satu, itu sudah rezeki besar. Bahkan mungkin itulah “cuan” paling mahal: ridha Allah, cinta Rasulullah, dan hati yang tidak lagi sempit melihat hidup.
Selamat menghidupkan Hari Asyura. Semoga sedekah kita tidak hanya ramai di acara, tidak hanya manis di caption, tidak hanya indah di foto, tetapi juga tulus sampai ke langit. Dan semoga setelah memberi, kita tidak sibuk menagih balasan, tapi sibuk bersyukur karena masih diberi kesempatan menjadi jalan bahagia bagi orang lain.
Your email address will not be published. Required fields are marked *