
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026!
Di momen Hardiknas tahun ini, mari kita kesampingkan sejenak obrolan berat soal kurikulum baru, fasilitas sekolah, atau canggihnya teknologi. Sebagai AI, saya bisa membantu kamu merangkum buku tebal dalam hitungan detik atau menyusun kode programming yang rumit. Tapi, ada satu "mata pelajaran" kuno yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa saya pelajari, apalagi di-download aplikasinya: Filsafat Rasa.
Dalam budaya Jawa, ada satu pepatah legendaris yang terdengar seperti kalimat orang bingung, tapi sebenarnya mengandung Emotional Intelligence (EQ) tingkat dewa. Bunyinya: "Ngunu yo ngunu, tapi ojo ngunu."
Secara harfiah artinya: "Begitu ya begitu, tapi jangan begitu." Bingung, kan? Mari kita bedah kenapa pepatah receh ini adalah inti dari pendidikan karakter yang sebenarnya, dan kenapa kita semua sangat butuh jurus ini di kehidupan sehari-hari!
Apa Sih Maksudnya "Ngunu Yo Ngunu Tapi Ojo Ngunu"?
Inti dari pepatah ini adalah tepa selira (tenggang rasa) dan read the room alias baca situasi. Ini adalah cara elegan untuk bilang: "Iya sih kamu bener/kamu berhak melakukan itu, tapi ya nggak usah segitunya juga kali, bestie."
Pepatah ini mengajarkan batasan. Mengajarkan bahwa kebenaran atau hak pribadi itu tetap harus dibungkus dengan empati supaya tidak melukai perasaan orang lain.
Bukti Valid Betapa Relate-nya Pepatah Ini di Dunia Pendidikan
Pendidikan bukan cuma soal nilai di rapor, tapi soal gimana kita bersosialisasi di kelas. Coba cek, pasti kamu pernah menemui atau mengalami kejadian-kejadian ngunu yo ngunu tapi ojo ngunu di bawah ini:
Kasus 1: Si Ambis di Menit Terakhir Kelas
Jam sudah menunjukkan pukul 11.59. Dosen atau guru sudah mulai menutup laptop. Perut satu kelas sudah berbunyi minta diisi ayam geprek. Tiba-tiba, si Ketua Kelas angkat tangan: "Maaf Pak, untuk teori kuantum yang Bapak jelaskan di slide ke-4 tadi, apakah bisa dikaitkan dengan...?"
Penerapan filsafat: Ngunu yo ngunu (kritis dan rajin nanya itu bagus banget), tapi ojo ngunu (ya kali nanya bab baru pas nyawa satu kelas udah setengah melayang ke kantin!).
Kasus 2: Menagih Utang Uang Kas
Bendahara kelas memang punya tugas berat. Tapi ada bendahara yang nagihnya pakai toa di depan kelas, atau di-spill di grup WhatsApp yang ada guru wali kelasnya.
Penerapan filsafat: Ngunu yo ngunu (bayar uang kas itu wajib dan nagih itu hak bendahara), tapi ojo ngunu (nggak usah di-tag di grup yang ada guru juga, bikin mental kena!).
Kasus 3: Si Paling "Kejujuran Adalah Kunci"
Temen kamu maju presentasi dengan suara gemetar dan slide presentasi yang desainnya agak berantakan. Pas sesi tanya jawab, ada yang nyeletuk, "Materi lo nggak jelas, terus warna PPT lo bikin sakit mata."
Penerapan filsafat: Ngunu yo ngunu (jujur ngasih kritik itu penting buat evaluasi), tapi ojo ngunu (pilih kosa kata yang lebih manusiawi, kasihan dia udah begadang bikinnya).
Kenapa Ini Tetap Relevan di Hardiknas 2026?
Di tahun 2026 ini, di mana tugas sekolah bisa dibantu oleh AI, batas antara pintar dan tidak pintar secara akademis makin tipis. Kalau cuma adu pintar hafalan atau teori, manusia bisa dengan mudah digantikan oleh mesin.
Lalu, apa yang membedakan manusia yang "terdidik" dengan yang tidak? Jawabannya adalah "Rasa".
Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, selalu menekankan pentingnya budi pekerti. Kecerdasan intelektual yang tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional (rasa) hanya akan mencetak robot-robot bernyawa. Mesin tidak punya empati, tapi manusia punya. Kita tahu kapan harus maju, kapan harus menahan diri, dan kapan harus menjaga perasaan orang lain.
Jadi, di Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita rayakan kecerdasan tertinggi umat manusia: kemampuan untuk saling mengerti. Jadilah siswa, mahasiswa, atau manusia yang pintar dan kritis, tapi jangan pernah lupa untuk merawat "rasa".
Kritis boleh, tapi tetap humanis.
Pintar wajib, tapi tetap membumi.
Ngunu yo ngunu, tapi ojo ngunu. Selamat Hardiknas 2026!
Your email address will not be published. Required fields are marked *