
Zaman sekarang ini, sadar gak sih kalau kita semua dipaksa hidup pakai mode sport? Di media sosial, di kantor, bahkan pas lagi reuni sekolah, suasananya kayak balapan F1. Semua orang pengen jadi yang paling depan, paling sukses, dan paling cepat mandiri secara finansial.
Padahal, kalau dipikir-pikir pakai logika warung kopi, buat apa kita buru-buru? Toh, kita semua sedang menuju ke satu titik finish yang sama: tanah ukuran $1 \times 2$ meter.
Mari kita bedah fenomena dikejar target ini pake kacamata santri, biar lambung aman, pikiran tenang, dan iman tetep kokoh walau saldo ATM megap-megap.
Fatamorgana "Kalau Sudah... Baru Bahagia"
Penyakit utama manusia modern itu adalah menunda bahagia demi sebuah syarat. Kita sering bikin perjanjian sepihak sama diri sendiri:
"Kalau proyek ini tembus, aku baru mau liburan."
"Kalau gaji sudah dua digit, aku baru bisa tenang."
"Kalau dapet jodoh yang spek bidadari, baru aku bersyukur."
Ini namanya menjebak diri dalam fatamorgana. Target itu kayak garis cakrawala; sampeyan dekati sejauh mana pun, dia bakal tetep kelihatan jauh di depan. Begitu target A tercapai, nafsu kita bakal langsung memproduksi target B, C, sampai Z.
Analogi Berkat Tahlilan:
Mengejar kebahagiaan bersyarat itu mirip kayak nungguin pembagian makanan (berkat) di acara tahlilan tapi sampeyan duduk di shaf paling belakang luar pagar. Sudah nunggunya lama, pas nyampe giliran kita, ayamnya tinggal ceker. Kan nyesek! Mending dinikmati aja suasananya dari awal, urusan dapet paha atau ceker itu bonus dari shohibul bait.
Sertifikasi Internasional vs "Barokah Doa Ibu"
Di dunia korporat yang serba hustle, orang-orang bangga banget pamer sertifikasi. Ada yang punya gelar di belakang namanya sepanjang gerbong kereta api ekonomi. Pokoknya kalau gak punya sertifikat keahlian tingkat dewa, rasanya belum sah jadi manusia produktif.
Tapi dalam jagat spiritual Kaum Sarungan, ada satu jenis "sertifikasi" tertinggi yang gak butuh ujian tertulis, namanya: Barokah dan Ridho.
Sampeyan boleh punya sertifikat keahlian tingkat internasional, tapi kalau belum dapet "sertifikasi" ridho dari orang tua atau restu dari guru, jalannya hidup itu bakal tetep kerasa seret. Rasanya kayak naik motor matic tapi rem tangannya kelupaan dilepas; mesinnya bunyi keras, bensinnya boros, tapi jalannya pelan banget bikin emosi.
Kaum nahdliyin itu paham betul, sedikit tapi barokah itu jauh lebih menyelamatkan ketimbang banyak tapi bikin judeg (bikin pusing). Barokah itu indikatornya sederhana: hati tenang, anak-anak nurut, dan kalau pas tanggal tua tiba-tiba ada aja yang ngirim nasi berkat atau ngajak ngopi gratis. Itu luxury yang gak dijual di kelas-kelas bisnis LinkedIn!
Teologi Sandal Jepit Masjid: Latihan Ikhlas Tingkat Dewa
Lantas, gimana caranya melatih mental supaya gak gampang stres saat target kerjaan meleset atau pas hidup lagi gak sesuai rencana? Gak usah ikut seminar healing mahal-mahal ke Bali. Cukup latihan di masjid kampung setiap hari Jumat.
Pernah gak sampeyan berangkat Jumatan pakai sandal jepit merek Swallow yang masih baru dan putih bersih, tapi pas pulang sandalnya berubah jadi warna abu-abu, tipis sebelah, dan kanan semua?
Nah, di situlah letak ujian maqom keikhlasan kita diuji:
Level Awam: Ngamuk-ngamuk di grup WhatsApp RT menuntut keadilan bagi sandalnya yang hilang.
Level Khawas (Khusus): Senyum getir sambil membatin, "Mungkin yang nuker sandal ini lebih butuh, atau mungkin sandal ini mau dipakai buat jalan ke majelis ilmu. Anggap aja sedekah jariyah tanpa nama."
Kalau menghadapi urusan kehilangan sandal jepit aja kita bisa nrimo (menerima) sambil guyon, harusnya kita juga bisa lebih santai saat target bonus tahunan meleset. Anggap aja bonusnya lagi dipakai orang lain yang utangnya lebih banyak dari kita. Gitu kok repot!
Manifes Kaum "Fii Sabilillah Ngopi"
Menghadapi sirkuit kehidupan yang makin gila ini, mari kita deklarasikan gerakan Fii Sabilillah Ngopi. Ini bukan gerakan malas-malasan, tapi sebuah metode taktis untuk menjaga kesehatan mental.
Fungsi Kopi Hitam: Hitamnya kopi itu pengingat kalau hidup ini gak selalu putih dan manis. Ada pahit-pahitnya. Tapi anehnya, meskipun pahit, kalau dinikmati pelan-pelan kok ya tetep bikin nagih.
Fungsi Udud/Camilan: Sebagai simbol jeda. Hidup itu butuh koma, jangan dihajar pakai tanda seru terus-menerus. Nanti jantungmu kaget.
Jadi, buat sampeyan yang malam ini masih melek di depan laptop sambil megangin kepala karena target kuartal ini belum tercapai: Sajakno, lerep sek, Le. (Sudahlah, istirahat dulu).
Dunia ini gak bakal kiamat cuma gara-gara satu spreadsheet belum selesai malam ini. Lagian, Gusti Allah menciptakan bumi dan seisinya ini butuh waktu enam masa, lho. Tuhan aja gak buru-buru, kok sampeyan yang cuma remahan rengginang di dalam kaleng Khong Guan ini malah pengen menyelesaikan semua urusan dunia dalam semalam?
Ambil sarungmu, seduh kopimu, dan mari kita ucapkan bersama: "Urusan dunyo digawa santai wae, sing penting ora ninggalne sholat karo tetep isoh ngguyu." (Urusan dunia dibawa santai saja, yang penting tidak meninggalkan shalat dan tetap bisa tertawa).
Your email address will not be published. Required fields are marked *