
Mari kita buka artikel ini dengan sebuah kilas balik ke sekolah di Indonesia zaman dulu.
Pernah nggak sih lo ngerasa pengen pura-pura pingsan di upacara hari Senin gara-gara lupa bawa topi? Atau rasanya pengen auto-pindah planet waktu nama lo dipanggil guru killer buat maju ke depan papan tulis gara-gara nggak ngerjain PR? Dulu, ditatap tajam sama guru aja udah bikin kita auto-tobat nasuha dan rajin belajar sampai lulus.
Sekarang, mari kita lihat realita dunia pendidikan zaman now.
Ada murid ditegur karena rambutnya mirip herder, besoknya si guru langsung dilaporin polisi oleh orang tuanya. Ada murid dinasihatin karena hobi mabal (bolos) ke warkop saat jam pelajaran, eh si murid malah masang muka nantangin sambil bilang, "Sabar, Pak, hidup kan fana, mending kita chill aja." (Heh, dikira sekolah itu tempat staycation?!).
Kondisi ini bikin para guru di Indonesia berada di persimpangan jalan yang estetik tapi tragis: Mau beneran mendidik tapi berisiko masuk jeruji besi, atau cuek aja biar aman sentosa yang penting gaji (yang pas-pasan itu) tetep cair?
Jebakan Batman Bernama "Memanjakan Atas Nama Cinta"
Banyak orang salah kaprah mengartikan konsep "merdeka belajar" atau mendidik dengan kasih sayang. Atas nama cinta dan perlindungan anak, semua bentuk ketegasan langsung dicap sebagai "kekerasan mental".
Akhirnya apa? Anak-anak dimanjakan sesempurna mungkin.
PR dirasa terlalu berat? "Kasihan anak saya stres, mending dikasih tugas mewarnai aja." (Padahal anaknya udah SMA). Anak dapet nilai merah karena emang kagak pernah masuk kelas? "Tolong dong Pak/Bu guru dikatrol nilainya, kasihan mentalnya down kalau gak naik kelas." Sobat sekalian yang budiman dan hobi bayar paylater, ini bukan cinta, ini namanya sabotase masa depan! Memanjakan anak dengan cara menghilangkan semua konsekuensi hidup itu sama aja kayak lo melihara harimau tapi giginya lo cabutin semua dan lo kasih makan bubur bayi. Begitu dia lepas ke hutan liar bernama "Dunia Nyata", itu harimau bakal langsung di-bully sama sekelompok kelinci! Mendidik dengan cinta itu bukan berarti bikin anak steril dari yang namanya kesulitan. Cinta dalam pendidikan itu Memanusiakan, bukan Memanjakan.
Bedanya "Memanjakan" vs "Memanusiakan" dalam Kehidupan Nyata
Biar nggak bingung dan nggak salah kaprah, mari kita bedah perbedaan tipis tapi fatal ini lewat contoh skenario sehari-hari:
Skenario 1: Murid tidur di kelas saat pelajaran Sejarah.
Kalau Mode Memanjakan: Gurunya ikut nyelimutin, terus dipasangin lagu lullaby biar tidurnya makin nyenyak dan estetik.
Kalau Mode Memanusiakan: Ditegur, disuruh cuci muka, lalu ditanya pelan-pelan: "Kamu semalam begadang push rank atau bantuin emak jualan?" (Tegas tapi tetep ada empati).
Skenario 2: Murid gagal ujian karena males belajar.
Kalau Mode Memanjakan: Nilainya auto di-remedial pakai jalur "orang dalam" sampai dapet A++, demi menjaga keharmonisan dan kedamaian keluarga.
Kalau Mode Memanusiakan: Dikasih nilai apa adanya. Biar dia tahu rasanya gagal dan paham kalau di dunia ini nggak ada cheat sheet gratisan.
Skenario 3: Murid melanggar aturan sekolah.
Kalau Mode Memanjakan: Aturannya yang diubah atau dihapus sekalian biar muridnya nggak ngerasa bersalah.
Kalau Mode Memanusiakan: Muridnya dihukum sesuai aturan (misal: bersihin perpustakaan), tapi habis itu diajak ngobrol biar dia paham kenapa aturan itu dibuat.
Memanusiakan Manusia: Karena Murid Kita Bukan Robot AI
Memanusiakan itu artinya kita sadar kalau murid yang kita hadapi itu adalah manusia yang punya perasaan, punya latar belakang masalah di rumahnya, dan punya kapasitas yang beda-beda. Mereka bukan robot ChatGPT yang kalau dimasukin prompt "Tolong pintar matematika dalam 5 menit" langsung auto-jenius.
Tapi ingat, memanusiakan juga berarti mengajari mereka tentang tanggung jawab, kerja keras, dan konsekuensi.
Manusia itu dibentuk lewat benturan-benturan kecil. Kalau dari sekolah mereka udah dibiasakan "steril" dari masalah, begitu lulus dan masuk dunia kerja, terus ditegur dikit sama bosnya: "Kamu gimana sih, bikin laporan kok typo semua?", mereka bisa langsung resign hari itu juga sambil bikin thread di X (Twitter): "Gila, lingkungan kerja gue toksik banget, mental health gue terancam!" (Padahal dianya aja yang lembek kayak tahu bulat).
Kesimpulan: Yuk, Kembalikan Fungsi Sekolah!
Jadi, buat para orang tua dan pendidik di luar sana, yuk kita ubah cara pandang kita. Cinta terbaik yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita bukanlah dengan membuat jalan hidup mereka selalu mulus dan bertabur karpet merah. Tapi, dengan melatih mental dan kaki mereka agar cukup kuat untuk melewati jalanan dunia yang penuh dengan kerikil tajam dan polisi tidur.
Jangan takut jadi tegas, selama ketegasan itu lahir dari rasa sayang untuk membentuk karakter, bukan dari rasa dendam karena telat dapet tunjangan. Yuk, kita didik generasi muda kita jadi manusia yang utuh, bukan cuma jadi pajangan estetik yang gampang penyok saat kena angin badai kehidupan!
Your email address will not be published. Required fields are marked *