
Pernah nggak sih kamu lagi asyik scroll TikTok, tiba-tiba masuk pesan WhatsApp dari atasan atau paman kamu yang usianya beda generasi. Di layar tertera tulisan "typing..." (sedang mengetik).
Kamu tungguin. Satu menit. Dua menit. Tiga menit... Ini orang ngetik pesan atau lagi ngetik naskah proklamasi sih? batinmu.
Setelah lima menit, akhirnya pesannya masuk:
"Assalamualaikum wr. wb. Selamat pagi ananda Budi. Semoga ananda dalam keadaan sehat walafiat tiada kurang suatu apa pun. Mohon maaf mengganggu waktu istirahatnya sejenak. Jika tidak keberatan, apakah sekiranya ananda bisa mengirimkan file presentasi yang kemarin? Terima kasih banyak sebelumnya."
Kamu yang penganut sekte efisiensi waktu, langsung membalas dalam hitungan detik:
"Walaikumsalam Pak. Udah diemail ya. Thx."
Di seberang sana, si Bapak langsung pegang dada. Jantungnya berdebar, merasa tidak dihargai, dan membatin, "Ini anak zaman sekarang ngetik irit banget, kayak beli kuota pakai ginjal! Nggak ada sopan-sopannya!"
Selamat datang di arena pertarungan abad ini: Generasi Tua (yang katanya) Gila Hormat vs Generasi Muda (yang katanya) Minim Adab. Siapa yang salah? Siapa yang benar? Mari kita bedah isi kepala kedua kubu ini sambil ngopi!
Sudut Pandang Boomer/Gen X: "Basa-Basi Itu Pelumas Hubungan Sosial, Anak Muda!"
Bagi generasi yang tumbuh di era ngirim surat pakai prangko dan nelepon pakai koin, komunikasi itu butuh effort. Bagi mereka, menanyakan kabar sebelum meminta tolong adalah bentuk penghargaan. Ibarat masuk ke rumah orang, masa iya langsung selonong boy ke dapur nyari Indomie tanpa ketuk pintu dan salim sama yang punya rumah?
Buat mereka, ketikan panjang, sapaan hangat, dan emoji jempol bapak-bapak (👍) adalah bentuk dari tata krama. Ketika mereka membalas panjang lebar dan cuma dibalas "Y", "Ok", atau "Sip", rasanya seperti cintanya bertepuk sebelah tangan. Mereka merasa dianggap tidak penting, atau parahnya, mengira kamu lagi marah.
Sudut Pandang Gen Z/Milenial: "To The Point Aja Ngab, Waktu Adalah Uang!"
Nah, sekarang mari kita masuk ke kepala anak muda. Generasi sekarang hidup di era serba cepat. Semua informasi masuk bak air bah. Bagi mereka, menghargai waktu orang lain adalah bentuk kesopanan tertinggi. Basa-basi dianggap sebagai sesuatu yang fake (palsu) dan buang-buang waktu. Buat apa nanya "Lagi sibuk nggak?" kalau ujung-ujungnya mau pinjem duit seratus ribu? Mending langsung aja, "Bro, pinjem 100k, besok gajian gue ganti." Jelas, padat, dan transparan!
Apalagi kalau ada orang tua atau bos yang nge-chat: "Bisa telepon?" tanpa ngasih tahu konteksnya apa. Wah, itu sih teror mental! Dalam otak Gen Z, notifikasi "Bisa telepon?" itu setara dengan "Kamu dipecat" atau "Bumi akan kiamat 5 menit lagi". Jantung auto dag-dig-dug-ser, overthinking sampai asam lambung naik!
Jadi, Siapa yang Harus Mengalah?
Jawabannya: Dua-duanya harus kompromi. (Yah, jawaban standar ya? Tapi ini beneran!)
Perbedaan ini bukan soal siapa yang paling benar, tapi soal perbedaan "bahasa cinta" dalam berkomunikasi. Generasi tua mengartikan sopan santun sebagai kehangatan, sementara generasi muda mengartikannya sebagai efisiensi.
Buat Anak Muda:
Ayo dong, kasih sedikit effort kalau chatting sama orang yang lebih tua. Nggak usah sampai nulis pantun, cukup tambahkan sapaan dan penutup. Daripada cuma "Ok pak", ubah sedikit jadi, "Baik Pak, segera saya kerjakan. Terima kasih arahannya." Jari kamu nggak akan kapalan kok ngetik nambah 5 kata ekstra. Bikin orang tua happy itu pahalanya besar, lho!
Buat Generasi Senior:
Mohon pengertiannya, Bapak/Ibu. Anak sekarang bukan bermaksud kurang ajar kalau mereka to the point. Otak mereka memang sudah di-setting layaknya koneksi 5G. Tolong jangan gampang baper. Kalau mereka membalas dengan singkat, itu bukan berarti mereka benci, mereka cuma lagi sibuk atau multi-tasking. Dan please, mulai sekarang kalau mau nelepon, tuliskan juga konteksnya, misal: "Bisa telepon? Mau bahas kerjaan besok, santai aja." Demi kewarasan asam lambung anak buah Anda.
Kesimpulannya:
Sopan santun itu berevolusi. Kita nggak bisa memaksakan standar tahun 90-an ke anak yang lahir barengan sama rilisnya iPhone. Tapi di sisi lain, anak muda juga nggak bisa asal tabrak tata krama dengan dalih "menjadi diri sendiri".
Di ruang obrolan, entah di dunia nyata atau maya, sedikit empati adalah kunci. Karena pada akhirnya, setajam apa pun perbedaan generasinya, kita semua sama-sama manusia yang butuh dihargai. Betul nggak? 👍 (insert emoji jempol bapak-bapak).
Your email address will not be published. Required fields are marked *