
Mari kita mulai artikel ini dengan sebuah pengakuan universal: Kita semua pengen dianggap penting. Minimal, pas kita jalan masuk ke tongkrongan, kita pengen temen-temen kita nengok terus bilang, "Nah, ini dia sepuh kita datang!" Ada kepuasan batin yang hakiki saat kita merasa punya "kedudukan khusus", dihormati, atau bahkan ditakuti (dalam artian disegani, ya, bukan ditakuti kayak wewe gombel).
Ratusan tahun lalu, ulama besar Syekh Ibnu Atha'illah dalam kitab Al-Hikam udah pernah ngasih spoiler soal penyakit mental yang satu ini. Beliau bilang, kalau kamu masih kebelet banget pengen orang lain tahu posisi atau kehebatanmu, itu tanda kalau "penghambaanmu" belum jujur. Kasarnya: kita belum tulus, masih magang jadi orang baik, karena masih butuh upah berupa tepuk tangan manusia.
Di zaman sekarang, penyakit ini bertransformasi jadi Krisis Eksistensi. Banyak orang yang saking pengennya kelihatan kayak "Singa" yang garang dan berkuasa, eh, strateginya salah, akhirnya malah berakhir jadi "Badut" sirkus yang ditertawakan penonton.
Cetak Biru Menjadi Singa (Toko)
Coba deh perhatiin sekitar kamu. Ciri-ciri orang yang lagi terobsesi pengen jadi singa medsos atau singa tongkrongan itu gampang banget ditebak:
Hobi quotes motivasi tapi galak: Di bio Instagram nulis "If you can't handle me at my worst..." tapi kalau dikritik dikit langsung bikin Story maki-maki pake huruf kapital semua.
Sindrom "Kamu Nanya?": Tiap kali ngomong, selalu diselipin kalimat, "Kebetulan kemarin pas saya di Paris..." atau "Waktu saya ngopi sama CEO-nya langsung..." Padahal gak ada yang nanya.
Muka ditekuk biar kelihatan berwibawa: Kalau jalan tegap banget, mata melotot, gak mau senyum. Pengennya dikira dingin dan misterius kayak aktor film aksi, padahal orang-orang ngiranya lagi nahan boker.
Secara psikologis, orang yang hobi maksa pengen ditakuti atau dihormati ini sebenarnya lagi ngalamin insecurity tingkat dewa. Mereka merasa kalau mereka gak nenga-nengok (baca: pamer power), mereka bakal gak dianggap ada. Hidup mereka bener-bener disetir sama ego.
Plot Twist: Ketika Singa Berubah Jadi Badut
Lucunya, semesta itu punya selera humor yang agak ajaib. Semakin keras kamu berusaha meyakinkan orang lain kalau kamu itu "Singa", semakin kelihatan kalau kamu itu sebenarnya... cuma kucing oren yang lagi pakai bando bulu singa. Alias: Zonk!
Kenapa bisa berubah jadi badut?
Karena respect atau rasa hormat itu sifatnya organik. Gak bisa dipalak, gak bisa di-request kayak lagu di radio. Respect is earned, not demanded. Ketika kamu sengaja pasang aksi biar ditakuti, orang-orang di sekitarmu sebenarnya gak beneran takut atau hormat. Mereka cuma malas ngeladenin kamu. Di depanmu mereka mungkin manggut-manggut sambil bilang, "Oh iya mas, hebat banget." Tapi begitu kamu balik badan dan jalan menjauh? Mereka langsung bikin grup WhatsApp tanpa kamu, terus ngegosip: "Sumpah, si Bambang caper banget hari ini, pengen gue sleding rasanya." Selamat, kamu sukses jadi bahan hiburan gratis!
Capek Ngedrama, Mending Jadi Manusia Biasa
Bayangin betapa melelahkannya hidup jadi Singa Palsu. Mau makan di warteg harus mikir gengsi. Mau beli baju murah takut ketahuan sirkel. Mau berbuat baik harus nunggu ada yang nge-tag di medsos. Hidupmu gak dikontrol sama diri kamu sendiri, tapi dikontrol oleh pandangan orang lain yang bahkan gak peduli-peduli amat sama kamu.
Padahal, tahu gak apa yang paling mewah di dunia ini? Kedamaian hidup jadi orang biasa.
Nikmat banget rasanya bisa berbuat baik tanpa perlu bikin laporan pertanggungjawaban ke netizen. Adem banget rasanya kerja ikhlas, dapet duit, terus tidur nyenyak tanpa perlu mikirin taktik "Gimana ya caranya biar besok si bos tahu kalau gue yang paling berjasa di projek ini?" Orang yang beneran "Suhu" alias singa beneran, biasanya malah gak butuh panggung. Mereka santai, low profile, pakai kaos oblong lecek, tapi pas mereka ngomong, semua orang auto-diam dan dengerin. Kenapa? Karena kualitas diri mereka memancar dari dalam, bukan dari topeng yang dipaksakan.
Jadi, buat kita-kita yang kadang masih suka kumat pengen cari panggung dan pengen dihormati se-kecamatan: yuk, pelan-pelan turun dari panggung sirkus itu. Lepas hidung merah badutmu, simpan kostum singa palsumu.
Lagian, jadi manusia biasa yang hidupnya tenang dan dompetnya tebal itu jauh lebih asyik daripada jadi singa medsos yang hidupnya penuh drama tapi sebenernya kesepian. Setuju, kan?
Your email address will not be published. Required fields are marked *