
Ingat nggak sih waktu kita masih SD? Momen paling horor dalam hidup adalah saat kebelet pipis jam 2 pagi. Kita harus lari sekencang-kencangnya dari kamar tidur ke kamar mandi, lalu lari balik lagi sambil lompat ke kasur dan selimutan sampai leher.
Kenapa? Karena logika anak kecil bilang: “Kalau jempol kaki gue keluar dari selimut sedikit aja, pasti ditarik Genderuwo!”
Polos banget ya kita dulu.
Sekarang, setelah dewasa dan punya KTP, definisi horor kita berubah total. Kita nggak takut lagi sama setan di kolong kasur. Kita jauh lebih takut kalau HP bunyi "Ting!" lalu muncul notifikasi dari aplikasi oren atau hijau:
"Tagihan Paylater Anda jatuh tempo besok. Silakan lunasi sebelum denda menyerang."
Itu bukan cuma jantung yang mau copot, ginjal pun rasanya ikut bergetar.
Evolusi Makhluk Halus
Dulu, setan itu wujudnya Pocong, Kuntilanak, atau Tuyul. Seram, tapi setidaknya mereka nggak nagih duit. Kalau ketemu, paling kita pingsan. Bangun-bangun cuma pusing dikit.
Sekarang? Hantunya berwujud Cicilan, Token Listrik yang bunyi tit-tit-tit, dan undangan nikahan teman di tanggal tua.
Ini hantu-hantu modern yang kalau ketemu, efeknya bukan pingsan, tapi asam lambung naik dan migrain berkepanjangan. Apalagi kalau token listrik bunyinya pas lagi zoom meeting penting atau pas lagi deep talk sama pasangan. Romantisme langsung bubar jalan, diganti kepanikan mencari abang konter pulsa.
Jebakan Batman Bernama "Self-Reward"
Biang kerok dari drama dompet ini biasanya satu istilah yang terdengar manis tapi racun: Self-Reward.
Skenarionya selalu sama:
Kita kerja keras bagai kuda (atau bagai keledai, saking capeknya).
Kita merasa berhak bahagia.
Kita beli kopi susu kekinian seharga Rp 40.000 + cemilan estetik.
Kita checkout barang diskon yang sebenernya nggak butuh-butuh amat, tapi kan flash sale, Sayang!
Logika kita saat itu: "Ah, cuma 50 ribu ini."
Masalahnya, "cuma 50 ribu" itu kita ucapkan 10 kali dalam sehari.
Pas akhir bulan, kita buka mobile banking dengan satu mata tertutup (karena nggak siap lihat kenyataan), dan... Jeng jeng! Saldo tinggal sisa buat beli batagor dua porsi. Di situlah kita sadar, self-reward ternyata adalah self-destruction yang tertunda.
Seni Bertahan Hidup (Survival Mode)
Tapi tenang, manusia Indonesia itu tangguh. Kita punya kemampuan adaptasi yang luar biasa saat dompet menipis.
Tiba-tiba, selera makan kita jadi sangat sederhana. Yang tadinya harus All You Can Eat, sekarang mie instan pakai telur setengah matang rasanya sudah seperti michelin star. Kita jadi ahli mencampur sisa lauk di kulkas jadi nasi goreng "spesial" (spesial sisa kemarin).
Kita juga jadi rajin puasa Senin-Kamis (niatnya ibadah 50%, niat hemat 50%). Kita jadi lebih religius, sering berdoa semoga ada teman yang ulang tahun dan traktir makan siang, atau minimal ada rapat kantor yang snack box-nya bisa dibawa pulang.
Hidup Itu Lucu, Ya?
Pada akhirnya, tulisan ini bukan mau ngajarin cara atur duit (saya aja masih sering khilaf). Tulisan ini cuma mau bilang: Kamu nggak sendirian.
Kalau hari ini kamu merasa apes karena gaji cuma "numpang lewat" kayak kereta cepat Jakarta-Bandung, ketawain aja. Tarik napas, seduh kopi sachet (jangan kopi kafe dulu), dan sadari bahwa tagihan adalah tanda bahwa kita masih dipercaya (sama bank).
Jadi, mari kita hadapi tanggal tua (walaupun sekarang masih tanggal muda, rasanya sudah tanggal tua) dengan kepala tegak, meskipun dompet menunduk malu.
Ingat, badai pasti berlalu. Tapi tagihan bulan depan... ya pasti datang lagi. Semangat!
Your email address will not be published. Required fields are marked *