
Zaman dulu, kalau ada orang tidak tahu rumus matematika, letak negara Luksemburg, atau resep bikin nastar renyah, kita masih bisa maklum. Akses informasi zaman itu mahal. Mau pintar harus beli ensiklopedia tebal yang harganya sejuta, atau jalan kaki ke perpustakaan daerah sambil kehujanan. Kebodohan masa lalu itu wajar karena murni masalah fasilitas.
Sekarang? Fasilitas sudah melimpah ruah sampai tumpah-tumpah. Mau tahu apa saja tinggal ketik di Google, jawabannya keluar dalam waktu 0,2 detik. Tapi anehnya, manusia zaman sekarang justru makin malas cari tahu.
Kebodohan mengalami evolusi yang mengerikan: dari yang tadinya kurang akses, sekarang berubah menjadi kurang niat.
Fenomena "Spill Harga Bang" di Depan Tulisan Harga
Bukti paling nyata dari evolusi ini bisa kamu temukan dengan mudah di kolom komentar media sosial, terutama akun jualan online.
Penjual sudah menulis teks berukuran raksasa di dalam gambar: “DRESS CANTIK – HARGA RP 50.000 – LOKASI JAKARTA”. Caption unggahannya juga sudah ditulis lengkap dengan spesifikasi bahan, ukuran, sampai nomor RT tempat penjualnya tinggal.
Tapi coba intip kolom komentarnya. Dari seribu komentar, 900 di antaranya bakal berbunyi:
“Spill harga dong Kak?”
“Lokasi mana nih?”
“Bisa dikirim ke luar kota gak?”
Ini kan ajaib. Informasi sudah disuapkan tepat di depan hidung, tinggal dibaca dua detik saja, tapi jempolnya lebih memilih mengetik pertanyaan dibanding matanya membaca tulisan. Manusia purba dulu berburu binatang buas menembus badai demi bertahan hidup, sedangkan manusia modern malas membaca lima kata di layar HP.
Generasi "Tolong Ringkasin, Kepanjangan"
Selain malas membaca caption, penyakit modern lainnya adalah ketakutan setengah mati pada tulisan yang panjangnya lebih dari tiga baris.
Ada artikel berita penting tentang kebijakan pajak atau tips keuangan, baru baca dua kalimat pertama, netizen langsung menyerah dan mengetik di kolom komentar: “Panjang amat, ada yang bisa ringkasin gak?”
Fenomena ini bikin kita makin gampang dibohongi. Kalau kamu selalu bergantung pada ringkasan orang lain, kamu secara sukarela menyerahkan otakmu untuk disuapi opini orang tersebut. Padahal yang meringkas belum tentu paham isinya, bisa jadi dia cuma ngawur!
Dulu orang tidak tahu karena tidak ada buku. Sekarang orang tidak tahu karena bukunya cuma dijadikan ganjalan pintu.
Kebodohan Modern Itu Pilihan, Bukan Takdir
Ibaratnya begini: kamu sedang berdiri di depan prasmanan mewah yang menyediakan ribuan jenis makanan lezat dan bergizi secara gratis. Tapi bukannya mengambil piring dan makan, kamu malah rebahan di lantai sambil teriak kelaparan dan minta ada orang yang mau mengunyah makanan itu lalu menyuapkannya ke mulutmu.
Malas cari tahu itu bahaya. Orang yang malas cari tahu akan sangat mudah diprovokasi, gampang diadu domba, dan jadi sasaran empuk penipuan berkedok hadiah instan.
Pertolongan Pertama pada Kemalasan Otak
Sebelum jempol kamu makin refleks menanyakan hal-hal yang sebenarnya sudah ada jawabannya, coba biasakan tiga langkah sederhana ini:
Gunakan aturan "Lirik Dulu Baru Ketik": Sebelum meluncur ke kolom komentar buat bertanya, luangkan waktu lima detik untuk membaca teks di layar atau caption unggahan. Siapa tahu jawabannya ada di sana.
Manfaatkan kolom pencarian (search bar): Jangan manja sedikit-sedikit mentions orang buat nanya. Ketik kata kuncinya di Google atau kolom pencarian sosmed. Menemukan jawaban hasil pencarian sendiri itu rasanya sangat memuaskan!
Paksa otak membaca tulisan utuh: Seminggu sekali, coba baca satu artikel berita atau esai sampai habis tanpa di-skip. Anggap saja ini latihan beban buat otot otak biar tidak gampang loyo.
Dunia sudah menyediakan jutaan jendela informasi yang terbuka lebar. Sayang banget kalau jendelanya sudah terbuka, tapi kita malah memilih menutup mata rapat-rapat cuma gara-gara mager.
Your email address will not be published. Required fields are marked *