
Pernah nggak sih, kamu natap kalender di handphone, tiba-tiba sadar Ramadhan sisa tiga hari lagi, sementara penanda Al-Qur'an kamu masih nyangkut di Juz 5 dari minggu pertama puasa? Di kepala ada suara lembut pembelaan diri, "Ah, nggak apa-apa, nanti malam pas itikaf sekalian dirapel ngebut lima juz."
Selamat! Kamu baru saja masuk ke episode spesial tahunan dari serial kehidupan terpopuler umat manusia: Drama "Nanti Aja" Edisi Akhir Ramadhan.
Menunda-nunda amal ibadah dan persiapan Lebaran itu memang sebuah seni tingkat tinggi. Sayangnya, kita adalah seniman yang selalu nangis sesenggukan pas dengar gema takbir. Mari kita bedah fase-fase kocak (tapi bikin perih di ulu hati) dari siklus deadliner Ramadhan ini.
Fase 1: Ilusi "Waktu Masih Panjang, Bestie!"
Di awal Ramadhan, kamu merasa punya kekuatan spiritual super. Targetnya fantastis: Khatam Al-Qur'an, tarawih nggak boleh bolong, dan no ghibah. Saat melihat jadwal puasa yang masih 30 hari, otakmu memancarkan ilusi kedamaian paripurna.
"Ngaji juz 2-nya besok aja deh, mata udah sepet habis sahur."
Beli mukena atau sarung baru yang harganya lumayan, dengan niat biar rajin ke masjid. Kenyataannya? Sarungnya cuma dipakai buat selimutan pas tidur siang yang "bernilai ibadah" itu.
Mulai meremehkan ajakan bukber karena merasa "Ah, baru hari ketiga, nanti-nanti aja kumpulnya."
Intinya, otakmu menciptakan ilusi bahwa Ramadhan ini durasinya sepanjang film Bollywood, padahal nyatanya secepat video TikTok lewat di FYP.
Fase 2: Mantra "Nanti Dirapel Aja" & Jebakan Bukber
Masuk pertengahan Ramadhan. Tarawih mulai maju shafnya (bukan karena jamaahnya rajin, tapi karena yang belakang udah pada gugur). Di titik inilah kamu mulai mengeluarkan mantra andalan:
"Tenang, ngajinya nanti dirapel aja pas libur cuti bersama. Lagian ini kan lagi sibuk nyambung silaturahmi (baca: maraton bukber dari angkatan SD sampai teman kantor yang sebenarnya tiap hari ketemu)."
Alih-alih hunting Lailatul Qadar di sepertiga malam, kamu malah hunting flash sale baju Lebaran jam 12 malam. Keranjang e-commerce penuh, tapi keranjang amal ibadah jalan di tempat.
Fase 3: Kiamat Kecil di Tanah Abang dan Dapur
H-3 Lebaran. Jantung mulai berdebar lebih kencang dari bedug masjid. Keringat dingin mulai turun melihat toples di rumah masih kosong dan koper mudik belum di-packing. Di sinilah Drama "Nanti Aja" mencapai klimaks berdarah-darah.
Kamu mulai panik. Siang bolong berdesak-desakan di mall atau pasar nyari outfit yang ukurannya udah pada habis. Malamnya, sambil nahan ngantuk, kamu ngetik pesan broadcast "Mohon Maaf Lahir Batin" pakai kecepatan cahaya sambil ngaduk adonan nastar yang entah kenapa bentuknya malah mirip batu kerikil.
"Kenapa sih gue kemarin malah asyik nonton drakor bukannya nyicil packing dan beres-beres rumah?!" tangismu dalam hati sambil nyetrika setumpuk baju buat sholat Ied besok pagi.
Ekspektasi vs Realita Sang Seniman Ramadhan
Biar lebih relate, mari kita rangkum perjalanan spiritual dan emosional kita selama sebulan ini. Coba cek, di fase mana kamu paling merasa tersindir:
Minggu Pertama: Ekspektasinya ngaji 1 Juz per hari dan tarawih full di masjid. Realitanya? Ngaji baru satu lembar langsung ngantuk berat, dan tarawih mulai remote alias pindah ke rumah. Meski begitu, status emosimu masih damai, merasa alim, dan penuh harapan.
Minggu Kedua & Ketiga: Niatnya mau mulai itikaf, kurangi main HP, dan perbanyak dzikir. Kenyataannya malah terjebak maraton bukber wacana yang tiba-tiba kejadian, plus sibuk scroll e-commerce cari diskonan. Emosi yang dirasakan: lelah, dompet mulai menipis, tapi perut selalu kenyang.
H-2 Lebaran: Ekspektasinya rumah udah kinclong, kue tertata rapi di toples, dan hati tenang siap menyambut hari kemenangan. Realitanya? Panik packing SKS (Sistem Kebut Semalam), adonan nastar gosong, dan baju Lebaran ternyata kebesaran. Status emosi sudah mencapai level panik tingkat dewa, mual, dan rasanya ingin memutar waktu.
Malam Takbiran: Niatnya ingin menangis haru penuh ampunan dan keberkahan. Realitanya? Kamu beneran menangis... tapi karena capek beberes rumah dan menyesal ibadah banyak yang bolong-bolong. Status emosi: menyesal total (tapi dalam hati ada janji terselubung bakal diulangi lagi tahun depan).
Ending yang Selalu Sama (Lagi)
Begitu suara bedug ditabuh dan takbir berkumandang dari masjid sebelah, ada perasaan campur aduk. Kamu duduk lemas di pojok kasur, menatap sajadah yang jarang dipakai, lalu berjanji dengan suara parau:
"Ya Allah, nyesel banget rasanya. Ramadhan tahun depan, hamba janji bakal lebih rajin. Nggak ada lagi nunda-nunda ngaji dan tarawih demi bukber!"
Tapi mari kita saling jujur sambil makan opor ayam besok pagi. Kita sama-sama tahu, 11 bulan lagi, pas Ramadhan datang kembali, naskah drama ini pasti tayang lagi tanpa revisi. Namanya juga manusia, tempatnya salah, lupa, dan ahli menunda!
Your email address will not be published. Required fields are marked *