
Sebagai pendidik—entah guru, dosen, atau ustadz—ada satu momen di mana idealisme kita sering kali luntur. Bukan saat mengajar di depan kelas (itu sih asyik, kita jadi bintang panggung). Tapi, momen horor itu adalah saat kita sendirian di kamar, ditemani segelas kopi yang sudah dingin, menatap tumpukan kertas ujian atau file skripsi yang seolah berteriak, "Pak, kapan saya diperiksa?"
Jujur saja, ada titik di mana mata kita lelah. Hati kita dongkol. Apalagi kalau ketemu jawaban mahasiswa yang ajaib. Ditanya teori A, jawabnya curhat colongan. Ditanya analisis data, jawabannya copy-paste dari Google—font-nya pun lupa diganti.
Di titik itulah, setan pembisik burnout datang. "Udah lah, kasih nilai C aja biar cepat!" atau "Coret aja semua, biar tahu rasa!"
Lelahnya terasa nyata. Tapi, apakah Lillah-nya masih ada?
Di sinilah Manajemen Cinta bekerja sebagai rem tangan. Saya sering menampar pipi sendiri (secara metaforis, tentu saja) untuk menyadarkan diri: Bahwa coretan tinta merah saya, bukan sekadar hukuman.
Mari kita ubah mindset kita hari ini.
Bayangkan setiap coretan merah yang kita goreskan di kertas mahasiswa itu bukan tanda kebencian, melainkan bentuk kepedulian yang paling sunyi.
Saat kita melingkari typo, kita sedang mengajarkan ketelitian.
Saat kita mencoret argumen yang salah, kita sedang menyelamatkan logika mereka agar tidak ditertawakan dunia kerja nanti.
Saat kita memberi catatan "Revisi!", kita sedang melatih mental tangguh mereka.
Saya belajar untuk mengubah setiap goresan pena menjadi sepotong doa.
Daripada menggerutu "Ini anak kok bebal banget sih?", saya mencoba menggantinya dengan bisikan dalam hati: "Ya Allah, dengan coretan ini, semoga Engkau bukakan pintu pemahaman di benaknya. Jadikan dia lebih cerdas dari saya kelak."
Terdengar klise? Mungkin. Terdengar sok suci? Biarin.
Tapi percayalah, mengubah narasi dari "Menghakimi Kesalahan" menjadi "Mendoakan Perbaikan" itu efeknya dahsyat ke hati kita sendiri. Lelahnya tetap ada (namanya juga kerja), tapi rasa kesalnya hilang. Berganti jadi rasa adem.
Jadi, Bapak Ibu rekan sejawat yang budiman, kalau hari ini tumpukan koreksian masih menggunung setinggi Himalaya, jangan emosi dulu. Tarik napas.
Anggaplah kita bukan sedang menjadi "algojo nilai", tapi sedang menjadi "tukang kebun". Kita sedang memangkas ranting-ranting yang salah supaya pohon itu tumbuh lurus dan berbuah manis.
Selamat menikmati lelah. Semoga setiap tetes tinta (dan kuota internet) yang kita habiskan, dicatat malaikat sebagai amal jariyah yang tak putus-putus.
Yuk, lanjut ngoreksi lagi! Tapi senyum dulu, ya.
Your email address will not be published. Required fields are marked *