
Pernah nggak sih, kamu lagi asyik rebahan sambil nonton drakor, tiba-tiba ada pesan masuk dari teman lama: "Eh, lo kok nggak pernah update IG Story lagi? Masih hidup kan lo? Atau jangan-jangan lagi kena mental ya?"
Astaga naga. Padahal kita cuma lagi males ngetik caption, eh malah dituduh lagi depresi.
Di era di mana "kamera selalu makan duluan sebelum manusia", ada semacam hukum tak tertulis: Kalau nggak diposting, berarti nggak kejadian. Kalau kamu punya pacar tapi nggak pernah upload foto gandengan tangan, netizen (baca: teman sekantor dan sepupu jauh) pasti mikir, "Fix, putus nih. Atau jangan-jangan pacarnya malu-maluin?" Banyak yang bilang, orang yang nutup-nutupi kehidupan pribadinya itu "palsu" atau fake. Padahal mah, belum tentu palsu, bestie. Bisa jadi karena kita udah nemu kedamaian hakiki dalam wujud nggak peduli sama validasi orang lain.
Mari kita bedah pelan-pelan (sambil ngemil pisang goreng) kenapa memilih diam dan menjaga privasi itu aslinya asyik banget, dan sama sekali nggak bikin kita jadi agen rahasia BIN.
Teori Konspirasi "Akun Sepi"
Entah sejak kapan, media sosial berubah fungsi jadi CCTV kehidupan. Kalau ada teman yang feed-nya estetik, update tiap hari ngopi di Senopati, dibilang show off. Giliran ada yang akunnya sepi kayak kuburan pas Selasa Kliwon, dituduh punya masalah hidup berat. Serba salah!
Coba deh kita jujur-jujuran. Kadang alasan kita nggak pamer momen itu receh banget:
Muka lagi nggak mendukung: Udah nyoba take foto 45 kali, tapi angle-nya bikin pipi kelihatan kayak donat kampung. Ya udah lah ya, mending dimakan aja kuenya daripada difoto.
Males mikir lagu latar: Sumpah, milih lagu buat Story 15 detik itu lebih susah daripada milih menu di warteg. Mau pakai lagu Taylor Swift takut dibilang galau, pakai lagu jedag-jedug dikira baru pulang senam aerobik.
Nggak mau ribet hide orang: Ini nih! Kadang kita mau update lagi nongkrong, tapi harus hide Si A karena kemarin kita bilang lagi sakit, harus hide bos karena ini jam kerja, dan harus hide mantan biar nggak dikira caper. Capek, Bos! Mending HP ditaruh, terus kita ngobrol aja sama tukang parkir.
Privasi Adalah "Do Not Disturb" Versi Kehidupan Nyata
Ada satu kutipan gaib yang entah siapa pencetusnya tapi bener banget: "Diam itu elegan." Ketika kamu nggak membagikan semua hal ke publik, kamu sedang membangun benteng kedamaianmu sendiri. Coba bayangin nikmatnya hal-hal ini:
Makan enak tanpa interupsi: Nontonin mie instan pakai telur setengah matang langsung diseruput pas lagi panas-panasnya, tanpa harus nungguin kamera nyari fokus. Surga dunia!
Pacaran tanpa intelijen: Kalau kamu berantem sama ayang, cukup kalian berdua dan tembok kamar kos yang tahu. Nggak perlu ada netizen yang ngasih komentar “Mending putus aja Kak, cowok red flag tuh!” Padahal besoknya kalian udah baikan dan makan seblak bareng. Malu, kan?
Anti Radar "Pinjam Seratus": Ini fungsi privasi yang paling epik. Begitu kamu berhenti posting beli barang mahal atau nongkrong di tempat mewah, teman-teman yang hobi minjem duit dengan alasan "buat modal usaha jangkrik" bakal otomatis mundur teratur karena ngira kamu lagi miskin juga. It’s a win-win solution!
Diam Bukan Berarti Palsu, Cuma "Nggak Mau Repot"
Kalau ada yang bilang "Lo tuh nggak real banget sih di sosmed, tertutup banget," senyumin aja.
Kita nggak punya kewajiban buat jadi reality show berjalan. Menjadi orang yang menjaga privasi bukan berarti kita hidup dalam kepalsuan. Kita tetap bahagia, sedih, marah, dan ngakak guling-guling—bedanya, kita nggak butuh tepuk tangan virtual untuk membuktikan kalau perasaan kita itu nyata.
Kita cuma lagi menyeleksi siapa saja orang-orang VIP di hidup kita yang layak dengerin cerita kita secara langsung (biasanya sambil ngopi atau nyeblak), bukan lewat layar kaca yang bisa di-screenshot.
Kesimpulannya: Nikmati Diammu!
Jadi, buat kamu yang akunnya udah bersarang laba-laba, Story-nya sebulan sekali (itu pun cuma repost info diskon minimarket), toss dulu kita!
Nggak usah merasa bersalah atau FOMO (Fear Of Missing Out). Kedamaian itu mahal harganya, dan menjaga privasi adalah cara paling murah buat dapetinnya. Nggak semua hal harus dikontenin, nggak semua isi kepala harus ditwit. Beberapa momen di dunia ini tercipta cukup untuk dinikmati lewat mata, dirasakan sama hati, dan disimpan rapat-rapat dalam ingatan.
Sekarang, mending tutup HP-mu, rebahan lagi, dan nikmati betapa tenangnya hidup tanpa harus mikirin besok mau bikin konten apa. Cheers untuk hidup yang sepi di sosmed tapi rame di dunia nyata!
Your email address will not be published. Required fields are marked *