
Kalau kita melihat Pak Kiai di atas panggung pengajian, beuh, karismanya itu lho. Sorban rapi, sarung licin kencang anti-badai, dan suara menggelegar bikin jamaah terhipnotis. Kita sering berpikir, "Gila, Pak Kiai ini energinya nggak abis-abis ya. Pasti wirid-nya kenceng banget."
Eits, tunggu dulu, Ferguso.
Di balik keagungan seorang Kiai di depan ribuan umat, ada sosok "Manager Area", "CFO (Chief Financial Officer)", "HRD", dan "Spiritual Powerbank" yang bekerja dalam sunyi.
Siapa lagi kalau bukan Ibu Nyai.
Memasuki abad kedua NU ini, sudah saatnya kita berhenti menganggap Ibu Nyai hanya sebagai "konco wingking" (teman di area belakang/dapur). No, no, no. Ibu Nyai adalah "Konco Hardcore".
Mari kita bedah kenapa peran mereka ini krusial, ajaib, dan kadang di luar nalar manusia biasa.
Banyak santri mengira pesantren bisa berjalan lancar itu karena karomah Pak Kiai semata. Padahal, ada "karomah" lain yang lebih nyata: Kemampuan Ibu Nyai mengatur beras agar cukup untuk 500 santri yang makannya kayak kuli bangunan.
Ini serius. Ibu Nyai itu punya kemampuan matematika di atas Albert Einstein. Pak Kiai seringkali nggak tahu menahu soal berapa karung beras yang habis sehari, atau di mana letak toples gula di dapur sendiri.
Tugas Pak Kiai itu mikirin umat, mikirin negara, dan mikirin dalil bahtsul masail. Tugas Ibu Nyai? Mikirin gimana caranya Pak Kiai tetap sehat, santri kenyang, tamu agung terjamu layak, dan SPP santri yang nunggak tetap bisa ditalangi.
Kalau Pak Kiai itu "Wajah" pesantren, Ibu Nyai adalah "Mesin Turbo"-nya. Kalau mesinnya ngadat, Pak Kiai bisa apa? Paling cuma bisa nyariin sarungnya yang belum disetrika.
Pernah nggak mikir, kok kuat ya Pak Kiai sehari ngisi pengajian di 5 kecamatan berbeda, pulangnya jam 3 pagi, subuhnya sudah jadi imam lagi?
Jawabannya bukan cuma karena kopi hitam. Tapi karena ada Ibu Nyai yang terjaga di sepertiga malam.
Saat Pak Kiai sedang berjuang di jalan dakwah, di rumah ada Ibu Nyai yang menggelar sajadah, mengirim doa jalur langit agar suaminya kuat, selamat, dan nggak masuk angin.
Sarung yang dipakai Pak Kiai itu bukan sekadar kain tenun, Gaess. Itu adalah "Baju Zirah" yang sudah dilapisi doa-doa tulus dari sang istri. Setiap lipatan sarungnya mengandung harapan Ibu Nyai agar suaminya menjadi berkah bagi umat.
Ibu Nyai adalah charger-nya Pak Kiai. Kalau Pak Kiai "lowbat" setelah seharian diamuk massa (atau diamuk panitia yang amplopnya kurang), dia akan pulang ke "colokan" yang paling menenangkan: senyuman dan pijatan Ibu Nyai.
Di abad kedua NU ini, tantangan Ibu Nyai makin ngeri-ngeri sedap. Dulu musuhnya cuma harga cabai yang naik, sekarang musuhnya adalah sinyal WiFi lemot dan grup WhatsApp wali santri yang isinya komplain melulu.
Ibu Nyai zaman now itu harus hybrid. Tangan kanan ngaduk sayur lodeh di kuali raksasa, tangan kiri balesin chat wali santri yang nanya, "Bu Nyai, anak saya kok di foto kelihatan kurusan ya?". (Padahal anaknya baru makan tiga piring).
Mereka adalah admin grup keluarga, bendahara yayasan, konsultan curhat santri putri yang galau diputusin pacar, sekaligus koki bintang lima. Semua dilakukan tanpa gaji, tanpa cuti, dan seringkali tanpa ucapan terima kasih yang layak.
Jadi, wahai kaum Nahdliyin. Kalau sowan ke Kiai, jangan lupa bawakan oleh-oleh buat Bu Nyai. Serius.
Memuliakan perempuan di abad kedua NU bukan sekadar bikin seminar tentang gender. Cara paling nyata adalah mengakui bahwa tanpa Bu Nyai, Pak Kiai hanyalah bapak-bapak biasa yang bingung nyari kopyah di mana.
Mari kita doakan para Ibu Nyai kita agar selalu sehat, panjang umur, dan stok sabarnya nggak pernah habis menghadapi kelakuan kita semua.
Karena sesungguhnya, di balik kesuksesan seorang pria hebat, selalu ada wanita hebat yang... memegang kunci lemari duit.
Sehat selalu, Bu Nyai-ku!
Your email address will not be published. Required fields are marked *