
Langit Jakarta sore ini perlahan menggelap. Di jam-jam seperti ini, biasanya pikiran saya sudah melompat jauh ke agenda esok hari. Tentang materi kuliah di PTIQ, tentang tumpukan berkas prodi, atau tentang jadwal kegiatan di STAI Fatahillah dan NU Kramatjati yang tak ada habisnya.
Tapi hari ini, saya memilih untuk jeda.
Saya menatap pantulan diri di cermin. Orang-orang di luar sana mungkin mengenal saya dengan berbagai atribut. Ada yang menyapa "Pak Ketua", "Pak Dosen", atau "Pak Kyai". Alhamdulillah, itu semua adalah pakaian amanah yang Allah titipkan.
Namun, saat semua atribut itu dilepas, dan saya kembali ke rumah, siapa saya sebenarnya?
Tahun 2025 berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya menyusun rencana, dan tiba-tiba kita sudah di penghujung kalender.
Dalam hening, saya berdialog dengan hati saya sendiri: "Shunhaji, apakah kesibukanmu di luar sana sudah seimbang dengan kehadiranmu di sini, di rumah ini?"
Jujur, ada rasa malu yang menyelinap.
Seringkali, saya merasa sudah memberikan segalanya. Saya berjuang untuk pendidikan Islam, saya berkhidmat untuk umat di APTIKIS dan Nahdlatul Ulama. Niatnya ibadah, tentu saja. Tapi kadang saya lupa, bahwa ibadah yang paling purba adalah menjaga senyum orang-orang terdekat.
Saya teringat wajah istri saya, Viny. Betapa sabarnya ia ketika suaminya pulang dengan membawa sisa lelah, bukan membawa cerita ceria. Saya teringat wajah ketiga anak saya. Mereka tumbuh begitu cepat. Apakah saya sudah cukup mendengar cerita mereka tahun ini? Atau saya hanya sekadar "ada", tapi pikiran saya melayang entah ke mana?
Menjadi pemimpin di luar rumah ternyata tidak serta merta membuat saya otomatis menjadi pemimpin yang sempurna di dalam rumah. Masih banyak luputnya. Masih banyak kurangnya.
Tulisan ini bukan untuk mengeluh, apalagi untuk meminta dimaklumi. Ini hanyalah pengingat untuk diri saya sendiri—seorang hamba yang fakir ilmu dan masih terus belajar.
Bahwa sejauh apa pun kaki melangkah mengurus umat dan pendidikan, jalan pulang terbaik adalah ke hati keluarga.
Terima kasih, 2025, untuk segala teguran halusnya.
Selamat datang, 2026. Semoga tahun depan, saya bisa menjadi Shunhaji yang lebih "hadir". Yang lebih utuh untuk mereka yang mencintai saya tanpa syarat.
La haula wala quwwata illa billah.
Your email address will not be published. Required fields are marked *