
Pernahkah Anda membayangkan sebuah CV (Curriculum Vitae) yang mentereng: Lulusan S3, IPK Cum Laude, Dosen Senior, Pembicara Seminar, tapi di bagian hobi tertulis: “Meludah sembarangan saat emosi”?
Tentu tidak ada. Namun, fenomena viral baru-baru ini menyadarkan kita pada satu realitas jenaka sekaligus miris: ternyata, tumpukan ijazah di lemari tidak otomatis menginstal "sistem pengereman" di mulut kita.
Antara Gelar dan Nalar
Kasus "dosen vs kasir" ini menarik bukan karena siapa pelakunya, tapi karena kontrasnya. Kita terbiasa berpikir bahwa semakin tinggi sekolah seseorang, semakin dingin pula kepalanya. Kita berasumsi bahwa orang yang biasa bergulat dengan teori rumit pasti jago mengendalikan emosi receh.
Ternyata? Zonk.
Kejadian ini membuktikan teori lama: IQ (Intelligence Quotient) itu ibarat kapasitas mesin mobil. Semakin tinggi IQ, semakin ngebut otaknya. Tapi, Adab dan Emosi adalah rem dan setirnya. Bayangkan punya mobil balap Ferrari tapi remnya blong? Alih-alih sampai tujuan lebih cepat, yang ada malah nabrak warung tetangga.
Ujian Asli Itu Bernama "Pelayanan"
Ada kutipan menarik yang sering beredar: "Sifat asli seseorang tidak terlihat saat ia berhadapan dengan atasan, tapi saat ia berhadapan dengan pelayan."
Kenapa? Karena bersikap sopan pada Bos atau Rektor itu ada unsur "politik"-nya (biar aman, biar promosi). Itu wajar. Tapi, bersikap sopan pada kasir minimarket, tukang parkir, atau pramusaji? Itu murni soal kualitas hati. Mereka adalah orang-orang yang posisinya (secara struktur kerja) di bawah kita dan "tidak bisa melawan".
Di sinilah ujian adab yang sesungguhnya. Saat kita punya kuasa untuk marah, tapi memilih untuk ramah. Saat kita punya celah untuk merendahkan, tapi memilih untuk memuliakan.
Kita Semua Punya "Sumbu Pendek"
Artikel ini tidak ditulis untuk menghakimi si Bapak Dosen semata. Jujur saja, kita semua pasti pernah ada di fase "sumbu pendek". Lelah pulang kerja, macet, cicilan menumpuk, lalu ada kasir yang kerjanya lambat atau salah hitung. Duh, rasanya ingin meledak!
Bedanya, orang yang "terdidik" (bukan sekadar "sekolah tinggi") punya jeda beberapa detik di kepalanya. Sebuah mekanisme delay sebelum bertindak.
Otak Reptil berteriak: "Ludahi dia! Maki dia!"
Otak Terdidik berbisik: "Sabar, Bos. Dia juga manusia, mungkin dia lelah, atau memang sistemnya yang error. Malu sama uban kalau marah-marah."
Ilmu Padi vs Ilmu Padi-Padian
Fenomena ini menjadi pengingat (alarm) yang nyaring bagi kita semua. Bahwa gelar akademik hanyalah tanda kita pernah sekolah, bukan jaminan kita sudah lulus menjadi manusia.
Dunia pendidikan kita seringkali sibuk mengejar angka akreditasi dan skor jurnal, tapi kadang lupa pada kurikulum paling dasar: memanusiakan manusia.
Mari kita jadikan kasus ini cermin. Sebelum keluar rumah, pastikan bukan hanya dompet dan HP yang dibawa, tapi "rem" hati juga dicek. Jangan sampai ilmu kita setinggi langit, tapi adab kita rata dengan tanah.
Karena pada akhirnya, orang mungkin lupa seberapa pintar kita, tapi orang tidak akan lupa bagaimana kita memperlakukan mereka.
Yuk, tarik napas, senyum, dan perlakukan semua orang—siapapun profesinya—sebagai setara.
Your email address will not be published. Required fields are marked *