
Pernah gak sih sampeyan ngerasa kayak tikus yang kejebak di dalam roda putar? Kaki melangkah cepat setengah mati, napas ngos-ngosan sampai paru-paru rasanya mau pindah ke ubun-ubun, tapi pas melek… lha kok posisinya masih di situ-situ aja?
Selamat! Anda sedang mengidap penyakit modern yang namanya hustle culture. Kalau kata Kiai Kampung di pesantren, istilah teologis-sosialnya adalah: "Ngoyo sing ra mbejaji" alias ambisius setengah mati tapi malah bikin rugi diri sendiri.
Kehidupan modern kita sekarang itu persis kayak bunderan jalan raya yang gak ada exit tol-nya. Kita dipaksa berlari dari satu target ke target berikutnya tanpa pernah dikasih waktu buat sekadar sebat—maksudnya, napas sebentar.
Absensi Siklus "Kapan" yang Melingkar-lingkar
Coba kita absen bareng-bareng siklus kehidupan manusia peradaban sasetan (sachet) zaman sekarang. Hidup kita ini seolah sudah di-setting pake aplikasi auto-runner:
Pas kuliah, targetnya: “Yang penting lulus cepat!”
Pas udah lulus, targetnya: “Kapan kerja di SCBD biar estetik pakai id-card cardholder kulit?”
Pas udah kerja, dikejar target sosial: “Kapan nikah? Umur udah kepala tiga, lho.”
Pas udah nikah, ditanya lagi: “Kapan punya anak? Biar lengkap.”
Pas udah punya anak, digas lagi: “Kapan beli rumah sendiri? Masa invest di rumah mertua mulu?”
Nanti kalau semua checklist duniawi itu sudah terpenuhi, target berikutnya apa? Apa nunggu didatangi malaikat di alam kubur terus ditanya: “Kapan sampeyan tobat?” > Gus Dur dulu pernah bilang yang intinya: “Gitu kok repot!” >
Lah iya, kita ini sering bikin hidup yang sebenarnya sudah simpel jadi makin njelimet gara-gara standar sukses orang lain yang kita copy-paste mentah-mentah ke takdir kita sendiri.
Ketika Influencer LinkedIn Berantem Sama Petuah Kiai Sepuh
Zaman sekarang, kalau kita buka media sosial, isinya motivasi yang bikin tensi darah naik. Ada influencer umur 22 tahun, tidurnya cuma 2 jam sehari, sarapannya saham, camilannya kripto, lalu dengan wajah tanpa dosa bilang di LinkedIn: "Kalau umur 25 belum punya aset 1 Miliar, Anda gagal!"
Yaa Salam… Langsung rasanya lambung ini bergetar hebat denger khotbah kapitalisme berkedok motivasi itu.
Coba kita bandingkan benturan peradaban ini dengan wejangan Kiai-Kiai NU yang kalau ngendikan (berbicara) itu adem, bikin tenang, dan sangat ramah lambung:
Kata Motivator Saham atau LinkedIn: Kita harus keluar dari zona nyaman! No pain, no gain! Kerja, kerja, kerja 18 jam sehari kalau mau sukses!
Kata Kiai Sepuh: "Gak usah ngoyo-ngoyo, Le. Rezeki iku wis takarane Gusti Allah. Sing penting istiqomah ibadah karo ojo lali ngopi."
Kata Pakar Produktivitas: Bangun jam 4 pagi, ambil cold shower (mandi air es), meditasi, lalu langsung pantau pergerakan pasar global biar ahead of the game.
Kata Kiai Kampung: Subuh jam 4 itu digedhekno syukure. Habis subuh jangan tidur lagi, mundak rezekine dithothol pitik (nanti rezekinya dipatok ayam). Mending dipakai buat wiridan atau minimal nderes kitab.
Target Anak Muda Keren di Internet: "Financial Freedom di usia muda!"
Target Harian Kaum Sarungan: "Sing penting melek, isoh madang, ora utang, Alhamdulillah."
Secara tajam harus kita akui, Kiai-Kiai kita itu sedang mengajarkan maqom Tawakal dan Qona'ah (menerima apa adanya setelah ikhtiar maksimal). Ini bukan berarti kaum nahdliyin itu males, bukan! Tapi kita tahu batasan yang jelas antara "ikhtiar mencari berkah" sama "menyiksa diri demi gengsi".
Lagian, buat apa punya Financial Freedom kalau di umur 30 tahun sampeyan sudah langganan obat gerd, asam urat akut, dan rambut rontok gara-gara mikirin KPI (Key Performance Indicator) perusahaan orang lain?
Berita Acara: Malaikat Munkar-Nakir Gak Nanya KPI!
Mari kita lakukan analisis futuristik. Bayangkan nanti di alam barzakh, ketika kita sudah sign-out dari segala urusan duniawi, lalu didatangi Malaikat Munkar dan Nakir yang membawa gada sebesar pohon beringin.
Apakah malaikat bakal nanya: “Man Rabbuka? Dan berapa ROI (Return on Investment) dari campaign digitalmu di kuartal ketiga kemarin?” atau “Berapa jumlah followers tokomu di marketplace?”
Tentu tidak, toh? Malaikat gak bakal peduli apakah sampeyan dapet promosi jadi Regional Manager atau cuma jadi panitia seksi konsumsi di acara tahlilan RT. Yang dihitung di sana itu nilai berkah-nya, bukan jumlah-nya.
Catatan Pinggir Kaum Sarungan:
Berlari mengejar dunia itu kayak minum air laut. Makin diminum, makin haus. Target dunia itu fana, yang abadi adalah pegel linu di punggung dan encok di pinggang.
Resep Khotbah Kewarasan: Saatnya Ngerem di Maqom Secangkir Kopi
Jadi, gimana solusinya supaya kita gak capek berlari tanpa arah di sirkuit hustle culture ini? Kurikulum pesantren kilat ala kaum sarungan sudah menyediakan tiga langkah konkret:
Turunkan Gigi Transmisi Hidupmu: Kalau mesin motormu sudah panas dan keluar asap, jangan dipaksa ngebut di tanjakan. Hidup ini maraton panjang, bukan sprint 100 meter. Sesekali jalan santai sambil lihat pemandangan kanan-kiri itu legal hukumnya.
Perbanyak "Wiridan" ketimbang "Overthinking": Daripada malam-malam matanya melek meratapi kenapa temen SMA sudah beli Tesla sedangkan kita baru mampu beli bensin eceran, mending ambil tasbih. Minimal baca Alhamdulillah atas napas dan detak jantung yang sampai detik ini masih dikasih gratis tanpa biaya sewa.
Sowan dan Ngopi: Ini adalah pilar utama pertahanan kewarasan ala NU. Cari temen yang enak diajak guyon, seduh kopi hitam yang pahitnya konsisten melebihi janji manis HRD, lalu tertawakan kekonyolan hidup ini bersama-sama.
Hidup pindah dari satu target ke target lain itu wajar, namanya juga manusia hidup pasti punya keinginan. Tapi inget, ojo dadi budak target. Target itu kita yang buat, kenapa malah kita yang dijajah dan disiksa?
Saat ini juga, taruh dulu laptopmu. Ndang sarungan, buat kopi, dan sadarilah sebuah kearifan lokal yang paripurna: Urip iku mung mampir ngombe (Hidup itu cuma mampir minum). Kalau minumnya buru-buru karena dikejar target, ntar tersedak. Kan gak lucu mati konyol gara-gara keselek kopi hitam.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq... Mari kita ngopi!
Your email address will not be published. Required fields are marked *