
Kalau kamu dengar kata "santri", apa sih hal pertama yang melintas di pikiranmu? Sarung kesayangan yang mendadak hilang di jemuran? Antrean kamar mandi subuh-subuh yang panjangnya mengalahkan antrean sembako? Atau skill tidur sambil duduk pas ceramah tapi ajaibnya tetap paham isinya?
Di luar segala komedi keseharian hidup di pondok, ada satu hal besar yang bikin tanggal 22 Oktober itu sakral banget: Hari Santri Nasional.
Sejarah mencatat, pas K.H. Hasyim Asy'ari mengeluarkan Resolusi Jihad tahun 1945, para santri tuh nggak cuma pandai baca kitab kuning, tapi juga nekat maju paling depan lawan penjajah. Modalnya cuma bambu runcing, sarung disingsingkan, dan doa yang menembus langit.
Tapi pertanyaannya, kalau sekarang penjajahnya udah pada pulang ke negaranya masing-masing, Resolusi Jihad hari ini tuh bentuknya gimana sih? Apakah kita harus nyari bambu runcing terus keliling komplain ke tetangga? Ya nggak gitu juga!
Yuk, kita bedah gimana caranya meneladani semangat pejuang bersarung ini di era modern, tentunya dengan gaya yang santuy dan relevan buat kehidupan sehari-hari.
Zaman dulu, santri kalau menuntut ilmu itu teliti banget. Bener-bener dicek silsilah gurunya, keabsahan tulisannya, sampai kebenaran informasinya. Nah, Resolusi Jihad versi digital hari ini adalah kemampuan buat nggak gampang kemakan berita bohong.
Bayangin kalau santri zaman dulu kayak sebagian netizen zaman now. Ada berita grup WhatsApp kelurahan judulnya: "Gawat! Pakai Baju Merah Pas Gerhana Bulan Bisa Bikin Dompet Kosong!" – terus langsung disebar ke 50 grup keluarga tanpa disaring. Bisa hancur pertahanan negara dari dalam!
Meneladani santri berarti kita wajib kritis. Sebelum jempolmu gatal nge-share berita heboh, saring dulu. Jangan sampai gerakan jempolmu lebih cepat daripada pikiranmu.
Siapa pun yang pernah nyantri pasti paham rasanya hidup dalam survival mode tingkat tinggi.
Antre mandi bareng 20 orang dengan jatah waktu cuma dua menit? Biasa.
Lauk makan malam cuma tempe goreng separo dan sambal? Tetap bersyukur, malah berasa makan di restoran bintang lima.
Baju kesayangan tertukar sama punya temen terus ikhlas? Itu latihan kesabaran tingkat dewa.
Mental tangguh kayak gini yang mahal harganya di era sekarang. Banyak dari kita yang kena masalah dikit di tempat kerja langsung pengen resign, mati lampu lima menit langsung berasa kiamat, atau sinyal down dikit langsung mau banting HP.
Semangat jihad hari ini tuh ya punya mental gak gampang nyerah. Pas skripsi ditolak dosen, pas jualan belum laku, atau pas ditinggal nikah... ya tetap bangkit lagi!
Di pesantren, nggak ada istilah "Mamaaa, kaos kakiku di mana?". Semua-semua kudu dikerjakan sendiri. Nyuci baju sendiri, merapikan lemari sendiri, sampai ngatur uang jajan bulanan yang mepet biar nggak kehabisan di tengah jalan.
Lawan dari kemandirian adalah sikap manja dan pengennya serba instan. Meneladani santri artinya kita nggak jadi beban buat orang lain. Minimal, habis makan piringnya dicuci sendiri, deh. Nggak usah nunggu diutus kayak mau berangkat perang.
Santri itu identik dengan adab, sopan santun, dan humor yang renyah. Kalau kamu main ke pesantren, obrolannya itu sering banget dibumbui guyonan segar tapi tetap penuh makna.
Di zaman yang serba panas ini—di mana orang gampang banget berantem cuma gara-gara beda pilihan, beda tim bola, atau beda selera bubur diaduk lawan nggak diaduk—semangat santri justru hadir buat mendinginkan suasana. Jadilah orang yang kalau datang bikin adem, bukan yang kalau datang malah bikin orang lain pengen pindah planet.
Jadi, Gimana?
Memperingati Hari Santri itu bukan sekadar pamer outfit sarung sama kopiah di medsos, terus besoknya balik lagi males-malesan. Semangat Resolusi Jihad hari ini adalah tentang gimana kita bisa berguna buat sekitar, punya mental gak gampang tumbang, dan tetap rendah hati.
Selamat Hari Santri Nasional! Mari kita lanjutkan perjuangan para kyai dan santri dulu—bedanya, kalau dulu senjata mereka bambu runcing, senjata kita sekarang adalah karya, kebaikan, dan akhlak yang mulia.
(Oh iya, buat yang sarungnya masih tertukar di jemuran, tolong dikembalikan ya... kasihan pemiliknya mau salat bingung!)
Your email address will not be published. Required fields are marked *