
Kalau mendengar kata Muktamar NU, bayangan orang awam mungkin langsung melayang ke kiai-kiai sepuh, ruang sidang ber-AC dingin, dan naskah bahtsul masail yang tebalnya sanggup menahan pintu ruang tamu. Namun, di balik keramaian agenda besar itu, ada satu saripati paling mahal yang bisa dipetik untuk kehidupan sehari-hari: spirit adhem di tengah tensi panas. Ini krusial, karena hidup modern sekarang sudah mirip soto ayam yang kesiram sambal sepuluh sendok—panasnya keterlaluan dan bikin menderita.
Grup WhatsApp keluarga memanas gara-gara berita hoaks, kolom komentar medsos pamer adu nasab, harga cabai naik, dan dada sendiri mendadak gerah saat lihat tetangga beli mobil listrik. Belum lagi drama media sosial. Ada selebgram antah-berantah mendadak nikah di Bali, kita yang di dalam kamar kos malah gelisah sampai kehilangan selera makan. Lucu memang. Kita yang tidak diundang, kita pula yang menanggung asam lambung.
Di era yang serba kompor ini, berbeda pendapat sering dianggap sebagai ajakan duel. Beda selera makan bakso saja debatnya harus bawa-bawa rating Google Maps, sampai hubungan pertemanan tujuh tahun nyaris bubar cuma gara-gara urusan pentol. Padahal rumusnya sederhana: sampeyan makan bakso, saya makan soto, nanti kita ketemu pas bayar. Beres. Sayangnya, manusia modern punya penyakit akut: semua perdebatan harus dimenangkan. Jam dua pagi masih mengetik "Terakhir dari saya...", tapi lima menit kemudian kirim tujuh paragraf lagi. Itu bukan last episode, itu renewal season!
Kemenangan terbesar sebenarnya sering kali bukan saat argumen kita diterima lawan, melainkan saat jempol berhasil menahan diri untuk tidak membalas komentar pedas. Lagipula, jangan terlalu percaya diri; status galau tetangga di WhatsApp itu belum tentu menyindir kita, bisa jadi dia cuma sedang jualan skincare. Di sinilah meja warkop jadi tempat berguru paling jujur. Mau beda pilihan politik, beda klub bola, atau beda garis nasib, begitu piring gorengan hangat datang, semua langsung damai. Tidak ada kubu kiri atau kanan, yang ada cuma: "Tempe mendoan satu ini punya siapa?"
Tentu saja menjadi adhem bukan berarti apatis atau pasrah mirip keset pintu. Adhem itu artinya punya prinsip tanpa kehilangan kewarasan. Mengkritik tanpa menghina, berbeda tanpa merendahkan. Sebab suara keras belum tentu argumennya berbobot—kadang orang berteriak cuma karena mikrofon ada di tangannya. Persis bapak-bapak karaoke hajatan: lirik lagu belum hafal, tapi volumenya sudah setara sirine evakuasi bencana.
Tradisi guyon ala pesantren mengajarkan bahwa nasihat yang terlalu kaku cuma masuk telinga kanan lalu keluar lewat notifikasi TikTok. Tapi nasihat berbalut humor justru menempel lama. Ingat, kalau semua omongan orang dimasukkan ke hati, lama-lama dada kita bukan lagi organ tubuh, melainkan gudang barang bekas. Tidak semua pesan perlu disimpan; ada yang cukup dibaca, ditertawakan, atau langsung dihapus—terutama pesan "pinjam dulu seratus".
Dari arena sidang sampai meja warkop, pesannya senada: urip ora usah digawe ruwet. Kalau pikiran mulai mendidih, seduh kopi dulu. Masalah dunia memang tidak otomatis selesai, tapi minimal tangan kita punya kegiatan yang jauh lebih mulia daripada mengetik hujatan di kolom komentar.
Your email address will not be published. Required fields are marked *