
Pernah nggak sih, kamu lagi sendirian di kamar, tiba-tiba saking khusyuknya baca Al-Qur'an atau lagi tahajud, eh terlintas pikiran: "Duh, kalau calon mertua atau teman-teman kantor lihat gue begini, pasti langsung dicap menantu idaman banget deh."
Padahal di kamar itu cuma ada kamu, cicak di dinding, sama tumpukan baju kotor yang belum dicuci. Itulah yang namanya "Penonton Bayangan". Secara fisik memang nggak ada orang, tapi di dalam hati kita lagi sibuk "jualan" citra biar dianggap saleh atau keren suatu saat nanti.
Riya’ Level Ninja: Halus Banget!
Biasanya kita tahu kalau riya’ itu pamer. Kayak lagi sedekah terus cekrek-upload dengan caption "Alhamdulillah, berbagi itu indah." Itu sih riya’ yang kelihatan jelas. Tapi, Tulisan ini mengingatkan kita kalau ada riya’ yang jauh lebih halus, bahkan saking halusnya dia bisa menyamar jadi kebaikan.
Saking ngerinya, riya’ jenis ini bisa masuk saat:
Lagi di Kantor: Kamu bantuin tugas rekan kerja. Awalnya sih tulus, tapi pas dia lupa bilang makasih atau nggak muji kamu di depan bos, kamu langsung baper dan "panas hati". Nah, kekecewaan itu tanda kalau sebenarnya ada "harapan" untuk diakui yang terselip di sana.
Lagi di Rumah: Kamu beresin rumah sendirian sampai kinclong. Begitu suami atau istri pulang dan nggak notice, kamu langsung ngedumel, "Aku ini yang paling banyak berkorban di keluarga ini!" Niat awalnya ibadah, ujung-ujungnya malah jadi ajang nagih pengakuan.
Lagi di Media Sosial: Kamu sengaja nggak posting amal karena takut riya’. Eh, tapi di dalam hati malah ngebatin, "Gue emang paling ikhlas, nggak kayak mereka yang apa-apa diposting." Hati-hati, itu namanya ujub alias kagum sama diri sendiri. Sama-sama bahaya, lho!
Kenapa Kita Begitu?
Soalnya, sumber riya’ itu bukan dari mata orang lain, tapi dari ketergantungan hati kita terhadap penilaian manusia. Kita bisa aja lagi nulis status bijak atau melakukan sesuatu yang baik sendirian, tapi pikiran kita sudah sibuk membayangkan gimana nanti komentar orang atau biar dianggap cerdas.
Bahkan yang paling kocak (tapi sedih), ada yang riya’ dalam penampilan rendah hati. Dia merendah bukan karena merasa kurang, tapi biar orang bilang, "Wah, dia mah orangnya humble banget ya." Double kill!
Tanda-Tanda Hati Mulai "Haus Fans"
Coba cek berkala, ada nggak gejala ini di kamu:
Semangat Naik-Turun: Ibadah jadi super khusyuk kalau lagi dilihat orang (misalnya pas salat jamaah), tapi pas sendirian malah kayak lagi lomba lari alias asal-asalan.
Hobi Kasih "Kode": Nggak ngomong langsung kalau habis ibadah, tapi curhat colongan. "Duh, capek banget nih semalam cuma tidur 2 jam," padahal maksud terselubungnya biar orang tahu kalau dia habis tahajud semalaman.
Baperan Kalau Nggak Dipuji: Kalau amal baikmu nggak ada yang tahu, kamu merasa kebaikan itu sia-sia.
Terus, Berhenti Beramal Saja?
Eits, jangan salah paham! Jangan sampai kamu bilang, "Duh, takut riya’ ah, mending nggak usah sedekah/ngaji sekalian." Itu justru salah.
Jalan yang benar adalah tetap beramal sambil terus benerin niat. Kalau muncul rasa ingin dipuji, ya dilawan. Jangan biarkan niat yang belum sempurna menghalangi kita buat jadi orang baik.
Tips Biar Nggak Gampang "Caper" Sama Manusia
Punya "Amal Rahasia": Milikilah kebaikan yang cuma kamu dan Allah yang tahu. Entah itu sedekah diam-diam atau doain orang yang pernah nyakitin kamu tanpa dia tahu. Ini latihan biar hati nggak tergantung sama tepuk tangan manusia.
Ingat Kekurangan Diri: Biar nggak gampang merasa suci, sering-sering ingat dosa dan kekurangan kita sendiri. Orang yang sadar dirinya banyak kurang bakal malu kalau mau sombong.
Fokus ke "Penerimaan Allah": Penilaian manusia itu receh, penilaian Allah itu yang utama. Amal yang nggak diketahui manusia bisa jadi sangat bernilai di sisi-Nya.
Jadi, yuk kita pelan-pelan bersihin "penonton bayangan" itu. Capek lho hidup cuma buat cari perhatian orang yang belum tentu peduli sama kita. Ikhlas itu emang berat, tapi setidaknya kalau kita sudah berusaha, hati jadi jauh lebih tenang.
Your email address will not be published. Required fields are marked *