
Pernah nggak sih, kamu lagi diem, bengong, terus iseng ngecek saldo ATM, dan tiba-tiba merasa insecure sampai ke tulang sumsum? Angkanya kok nanggung banget, mau ditarik nggak bisa, didiemin juga bikin sakit hati. Rasanya kayak lagi diketawain sama mesin ATM: "Cieee, miskin..."
Di saat-saat dompet lagi "kemarau panjang" begini, otak kita biasanya langsung overthinking level dewa. Mulai dari mikir besok makan apa, bayar cicilan gimana, sampai ketakutan irasional kayak: "Gimana kalau gue tiba-tiba jadi gelandangan terus rebutan kardus sama kucing oyen?"
Sabar, Bestie. Tarik napas dulu. Sebelum kamu panik dan mutusin buat jual ginjal (jangan ya, ribet ngurus BPJS-nya), coba kita belajar filosofi kehidupan dari makhluk paling selow sedunia: Cicak.
Plot Twist Kehidupan si Cicak
Coba bayangin kalau kamu jadi cicak. Hidupmu itu sebenernya messed up banget secara logika.
Tuhan menciptakan kamu sebagai hewan melata. Kakimu cuma bisa nempel di tembok. Kamu nggak punya sayap, nggak bisa lompat indah, dan lari kamu juga nggak kenceng-kenceng amat. Tapi, coba lihat apa makanan pokok kamu?
Nyamuk.
Iya, nyamuk! Hewan yang punya sayap, bisa terbang bermanuver kayak jet tempur F-16, dan punya sensor radar canggih.
Secara logika matematika dan fisika, pertarungan Cicak vs Nyamuk itu nggak imbang. Harusnya, cicak itu punah dari zaman Dinosaurus karena kelaparan. Bayangin percakapan batin si cicak:
"Ya Allah, Engkau kasih hamba perut lapar, tapi makanannya terbang woy! Hamba cuma bisa nemplok diem doang ini. Konsepnya gimana?!"
Tapi apakah cicak demo ke Tuhan? Apakah cicak bikin status galau di WhatsApp? "Lelah banget ngejar yang nggak pasti #SadBoy."
Enggak. Cicak tetep chill. Dia cuma diem di tembok, nunggu momen. Dan magic-nya: Nyamuknya yang nyamperin! Nyamuknya yang terbang rendah, seliweran di depan muka cicak, terus... HAP! Lalu ditangkap.
Padahal cicaknya nggak ngejar, makanannya yang datang "menyerahkan diri".
Kita Itu Lebih Canggih dari Cicak, Harusnya Lebih Tenang
Nah, sekarang balik ke kita. Kita ini manusia. Kita punya kaki, punya tangan, punya akal, punya ijazah (walaupun kadang cuma jadi alas mouse), punya koneksi internet, dan bisa naik ojek online.
Masa iya, makhluk sekeren kita kalah tawakal sama reptil kecil yang kerjanya cuma planga-plongo di plafon?
Kalau cicak yang skill-nya terbatas aja jatah makannya dijamin sampai kenyang, apalagi kamu. Rezeki itu unik. Dia punya alamat sendiri dan nggak pakai Google Maps, jadi nggak bakal nyasar ke dompet tetangga.
Kadang kita pusing karena kita mikir rezeki itu harus didapat dengan cara A, B, atau C. Kita maksa ngatur skenario Tuhan. Padahal, seringkali rezeki datang dari arah yang plot twist banget. Kayak si nyamuk tadi, siapa sangka dia bakal terbang rendah pas di depan mulut cicak?
Jangan Panik, Jatahmu Masih Ada
Jadi, kalau hari ini kamu merasa sumber rejeki lagi seret, ingatlah si cicak.
Dia nggak perlu ikut seminar motivasi "Cara Menangkap 1 Milyar Nyamuk dalam Semalam" buat bertahan hidup. Dia cuma melakukan bagiannya: berikhtiar (merayap dikit-dikit) dan yakin (tungguin aja).
Besok makan apa? Tenang, "Dapur Langit" nggak pernah tutup. Koki-nya Maha Tahu selera dan kebutuhan kamu. Mungkin hari ini menunya telur dadar, besok sate padang, lusa mungkin rezeki nomplok.
Yang penting, jangan sampai panikmu menghilangkan kewarasanmu. Cicak aja bisa makan enak tanpa sayap, masa kamu yang punya segalanya takut nggak kebagian kue?
Udah, mending sekarang seduh kopi atau teh anget. Rezeki butuh wadah yang tenang buat mendarat, bukan hati yang gelisah.
Stay cool, rezekimu lagi on the way!
Your email address will not be published. Required fields are marked *