
Pernah tidak, lagi asyik selonjoran jam satu malam sambil makan mi instan, tiba-tiba jempol iseng ngebuka Instagram? Niat awal cuma mau cuci mata nungguin mi dingin, eh malah kebablasan stalking akun teman SD yang sudah sepuluh tahun tidak ketemu.
Dan dumm! Di story-nya dia lagi pamer kunci mobil baru lengkap dengan kepsyen: “Alhamdulillah, mainan baru di usia muda.”
Seketika mi instan di mulut rasanya berubah jadi rasa penyesalan hidup. Batin langsung meronta: “Kok bisa ya? Padahal pas SD dia sering lupa bawa tempat pensil, kenapa sekarang bisa beli mobil? Lah saya? Beli mi kuah pakai telur saja kudu mikir dua kali!”
Medsos: Lapak Pamer vs Lapak Meringis
Jujur saja, media sosial itu ibarat panggung drama yang isinya cuma highlight kehidupan orang. Tidak ada orang yang sengaja bikin story pas lagi dikejar tagihan, atau pas jempol kakinya kepentok pintu lemari. Yang dipajang pasti yang berkilau-kilau.
Lucunya, kita sering banget membandingkan behind the scene kehidupan kita yang penuh noda minyak goreng ini sama highlight reel orang lain yang sudah difilter preset estetis. Ya jelas saja kalah! Kamu lagi berjuang banting tulang, eh nengoknya ke orang yang lagi duduk manis menerima hasil panen. Akhirnya apa? Capek sendiri, ginjal panas, dan tenggorokan kering karena kebanyakan mengelus dada.
Rezeki Itu Tidak Punya Fitur "Salah Kirim"
Satu hal yang perlu diingat baik-baik: rezeki itu tidak pernah nyasar seperti paket kurir ekspedisi.
Tuhan itu Mahabaik dan sistem-Nya super canggih. Tidak bakal ada cerita rezeki kamu dialihkan ke tetangga sebelah cuma gara-gara tetangga kamu bangunnya lebih subuh lima menit. Semuanya sudah ada takarannya, lengkap dengan QR code atas nama kamu masing-masing.
ü Teman kamu dapat rezeki bentuknya mobil baru? Bagus, selamat!
ü Teman satu lagi dapat rezeki jalan-jalan ke Jepang? Asyik, titip jastip!
ü Kamu dapat rezeki badan sehat, masih bisa makan enak, plus tidak punya utang? Itu juga rezeki mewah yang sering lupa disyukuri!
Kalau kamu iri dengan kenikmatan orang lain, itu sama saja seperti kamu protes di warung makan: “Kok mas di sebelah dapat Soto Ayam, padahal saya pesan Nasi Goreng?!” Ya iyalah, kan dari awal pesanan dan jalur kamu beda!
Tugas Kita Cuma Satu: Maksimalkan Upaya, Sisanya Santai
Daripada energi habis buat zoom in foto pencapaian orang sampai sikutnya kelihatan, mending fokus ke piring sendiri. Tugas kita di dunia ini simpel kok: kerja keras, usaha maksimal, dan berdoa.
Masalah kapan bagian kamu keluar, itu urusan "Pusat". Bagianmu bakal datang di waktu yang paling pas—bukan di waktu yang kamu mau, tapi di waktu kamu sudah siap. Siapa tahu besok, lusa, atau minggu depan. Yang penting pas bagian itu datang, kamu tidak lagi sibuk meratapi nasib di kolom komentar orang lain.
Kesimpulan: Tutup Medsos, Tidur!
Mulai hari ini, kalau jempol sudah gatal mau stalking pencapaian orang yang bikin nyesek, langsung kunci ponselmu. Ingat, rumput tetangga kelihatan lebih hijau mungkin karena dia pakai pupuk mahal, atau bisa jadi itu cuma rumput sintetis!
Fokus saja menyiram tanaman sendiri. Siapa tahu rumputmu nanti bukan cuma hijau, tapi malah tumbuh buah durian. Selamat beristirahat, dan berhenti stalking!
Your email address will not be published. Required fields are marked *