
Pernah nggak, sih, kamu memelototi awan mendung di langit, berharap kekuatan pikiranmu bisa menggeser awan itu ke kelurahan sebelah supaya jemuranmu nggak basah?
Atau, pernah nggak kamu terjebak macet, lalu marah-marah sambil memukul setir, berharap kemarahanmu itu punya sinyal wi-fi yang bisa mengubah lampu merah jadi hijau dalam sekejap?
Kalau pernah, selamat! Kita satu server.
Kita sering merasa lelah, capek hati, dan burnout bukan karena pekerjaan kita terlalu berat. Tapi karena diam-diam kita melamar posisi yang lowongannya nggak pernah dibuka: CEO Alam Semesta.
Kita mencoba mengatur cuaca, mengatur omongan tetangga, mengatur mood bos, sampai mengatur jodoh yang hilalnya belum kelihatan. Padahal, sadar nggak sadar, kita sedang memikul beban yang sebenarnya bukan barang bawaan kita.
Teori "Tukang Parkir Kehidupan"
Coba bayangkan hidup ini kayak lapak parkir. Ada area yang jadi tanggung jawab kita, ada area umum alias jalan raya.
Masalahnya, kita sering bertingkah jadi tukang parkir yang terlalu rajin. Mobil orang lewat di jalan raya (hal di luar kendali kita) kita stop, kita atur, kita marahi kalau nyetirnya jelek. Padahal, tugas kita cuma merapikan motor yang ada di lapak kita sendiri.
Hasilnya? Capek, Bestie. Keringetan, suara habis, tapi mobil di jalan raya tetap saja lewat semau mereka.
Biar hidup lebih waras dan stok obat sakit kepala di rumah berkurang, yuk kita bedakan mana "Barang Kita" dan mana "Barang Orang Lain/Semesta".
1. Si "Bukan Urusan Gue" (Di Luar Kendali)
Ini adalah hal-hal yang haram hukumnya buat dipusingkan berlarut-larut. Kalau kamu pusingkan, efeknya cuma nambah uban. Contohnya:
Masa Lalu: Mantan yang sudah nikah duluan. Mau kamu nangis darah, dia nggak bakal jadi lajang lagi.
Omongan Orang: "Kok gemukan?", "Kapan nikah?", "Kerja apa sekarang?". Mulut mereka adalah hak asasi mereka (sayangnya). Kita nggak punya remote control buat me-mute mulut tetangga.
Cuaca & Macet: Hujan itu air, macet itu kumpulan kendaraan. Mereka nggak punya perasaan dan nggak sengaja mau menyakiti harimu.
2. Si "Wilayah Kekuasaan Gue" (Dalam Kendali)
Nah, ini baru job desc kita yang sesungguhnya. Habiskan energimu di sini:
Respon Kita: Teman telat datang? Marah itu wajar, tapi ngamuk sampai banting meja itu pilihan. Kita bisa milih buat buka buku sambil nunggu, atau pesan es teh manis biar adem.
Usaha Kita: Kita nggak bisa maksa HRD buat nerima lamaran kerja kita. Tapi kita bisa bikin CV yang kece badai dan latihan wawancara sampai jago.
Pikiran Kita: Mau mikir "Duh, sial banget hujan turun" atau "Wah, hujan, enak nih makan mie rebus". Itu murni kuasa kita.
Berhenti Jadi "Avatar" Pengendali Elemen
Coba deh, mulai hari ini, kalau ada hal menyebalkan terjadi, lakukan scanning cepat ala kasir minimarket. Tanya ke diri sendiri: "Ini struk belanjaan gue bukan, ya?"
Kalau macet? Bukan urusan gue (itu urusan Dinas Perhubungan dan takdir). Yang urusan gue adalah: cari playlist enak biar nggak stres di jalan.
Kalau teman julid? Bukan urusan gue (itu urusan insecurity dia). Yang urusan gue adalah: tetap berbuat baik dan nggak ikut-ikutan julid.
Hidup sudah cukup berat dengan tagihan listrik dan cicilan panci. Jangan ditambah dengan beban memikul rotasi bumi dan perasaan orang lain.
Yuk, letakkan beban yang bukan milikmu. Punggungmu bukan terbuat dari baja, dan kamu berhak untuk istirahat. Tarik napas, hembuskan, dan biarkan dunia berputar seperti maunya. Kita atur langkah kaki kita sendiri saja.
Your email address will not be published. Required fields are marked *