
Halo, para budak korporat, pejuang freelance, kaum overthinking jam 2 pagi, dan netizen budiman yang jari jempolnya udah muscle memory buat scrolling tanpa henti! Coba jujur, seberapa sering kamu merasa kayak baterai HP yang sisa 1% tapi charger-nya ketinggalan di kantor lama?
Hidup modern ini rasanya kayak lari maraton di atas treadmill yang kecepatannya diatur sama atasan yang lagi pusing karena target bulanan. Kita lari terus, keringatan, napas senin-kamis, tapi nggak pindah tempat. Kita sibuk ngejar validasi sosial, tumpukin Paylater, dan checkout barang-barang nggak penting di keranjang Shopee demi "kebahagiaan" instan.
Kita hidup dalam mode "Autopilot: Hustle Always".
Sindrom "Sok Abadi" vs. "Realita Memento Mori"
Masalahnya, dalam mode autopilot ini, kita sering mengidap sindrom "Sok Abadi". Kita menumpuk harta, rasa dendam, dan rasa FOMO seolah-olah waktu kita di dunia ini unlimited kayak paket kuota prabayar yang lupa di-unreg. Kita kerja seolah-olah besok masih ada waktu buat istirahat, padahal asam lambung udah naik sampai ubun-ubun.
Justru di situlah ironi terbesarnya: Kita baru ingat soal 'Garis Finish' (baca: Kematian) kalau udah benar-benar putus asa dan lelah total.
Sebagaimana kutipan filosofis yang mendalam tadi: "Kehidupan ada karena adanya kematian. Sesuatu disebut hidup karena ada yang bisa disebut tidak hidup atau mati."
Ini mind-blowing, Bos! Kita baru benar-benar menghargai "rasa hidup" (misalnya: nikmatnya tidur 8 jam, enaknya mie instan di tengah hujan, atau pelukan dari orang tersayang) ketika kita disadarkan bahwa waktu kita punya tanggal kedaluwarsa. Kenapa harus nunggu burnout, panah asmara ditolak, atau tagihan numpuk dulu buat sadar?
Jadikan Kematian Sebagai Stress Reliever Kamu
Daripada menjadikan kematian sebagai sesuatu yang menyeramkan kayak film horor lokal yang isinya cuma kagetin penonton, mari kita ubah perspektifnya. Mengingat kematian (alias 'Memento Mori') itu sebenarnya adalah life hack paling ampuh biar hidup kamu jauh lebih chill.
Praktiknya kira-kira begini:
Lagi panik karena deadline mepet dan bos marah-marah?
Tarik napas dalam-dalam dan batin dalam hati, "Nggak apa-apa, 100 tahun lagi bos gue juga udah jadi debu, dan presentasi Excel ini nggak akan ditanya sama malaikat penjaga gerbang." Langsung tenang, kan?
Lagi insecure lihat teman udah beli mobil baru atau tunangan di Instagram?
Ingatlah bahwa pada akhirnya, kita semua bakal check-in di petak tanah ukuran 1x2 meter yang nggak ada carport-nya dan nggak bisa pakai filter estetik. Jadi, ngapain dibawa stres?
Mau resign tapi takut diomongin orang sekantor?
Fun fact: Begitu kamu meninggal, posisi kamu di kantor akan langsung diganti orang lain dalam waktu kurang dari sebulan. Jadi, berhentilah mengorbankan kewarasanmu demi perusahaan yang nggak akan menangisi kepergianmu.
Cheat Sheet Menikmati Hidup (Mumpung Masih Bernapas)
Mengingat kematian bukan berarti kita jadi malas-malasan, rebahan doang, dan pasrah nunggu dijemput tanpa usaha. Justru sebaliknya! Ini adalah pengingat biar kita nggak buang-buang "kuota" hidup untuk hal-hal yang bikin kita sengsara.
Kurangi Drama. Nggak usah terlalu pusing sama omongan tetangga atau netizen. Mereka bukan juri di akhirat.
Berhenti Menunda Kebahagiaan. Jangan bilang, "Nanti aja deh liburannya nunggu kaya." Bro, sis, umur nggak ada yang tahu. Kalau mau ngeteh sekarang, ngeteh aja. Nggak usah nunggu gajian bulan depan kalau ujung-ujungnya cuma makan mie instan pakai nasi.
Peluk Orang Tersayang. Mumpung mereka masih ada, dan mumpung kamu masih bisa.
Kesimpulannya: Hidup ini cuma mampir ngeteh. Jangan sampai pas lagi ngeteh, kamu malah sibuk mikirin gimana caranya beli pabrik tehnya sampai lupa rasanya teh itu sendiri. Santai sedikit. Nikmati prosesnya.
Semuanya akan berlalu, dan pada akhirnya, kita semua bakal pulang. Jadi, mumpung masih di sini... yuk, napas dulu.
Your email address will not be published. Required fields are marked *