
Banyak orang kira keretakan hubungan atau rasa lelah emosional (burnout) dalam rumah tangga itu selalu dipicu oleh masalah mega-skandal. Padahal, kalau diteliti pakai mikroskop kehidupannya langsung, penyebab utama Kaum Emak dan Kaum Bapak pengen jerit-jerit di atas genteng itu bukan soal krisis moneter domestik. Kerikil tajam yang bikin kesehatan mental mengelupas itu bentuknya sepele banget: gesekan-gesekan mikro harian di antara dua sejoli yang hidup serumah.
Di awal nikah, janjinya kan "mengarungi samudera bersama". Tapi begitu jalan beberapa tahun, samudera pernikahan itu ternyata penuh sama batu kerikil remeh yang siap bikin salah satu dari kalian tergelincir sampai kayang. Mari kita bedah kebiasaan-kebiasaan kocak Kaum Emak dan Kaum Bapak yang diam-diam bikin jiwa meronta!
Bagi Kaum Bapak, kasur yang empuk adalah tempat terbaik untuk membaringkan tubuh... dan juga tempat paling strategis untuk menaruh handuk basah sehabis mandi. Logika Bapak simpel: "Ah, tumpukin dulu di kasur, kan nanti mau dipakai lagi sore."
Tapi bagi Kaum Emak, handuk basah di atas seprei yang baru diganti itu adalah sebuah deklarasi perang terbuka! Kasur yang tadinya suci dan wangi seketika berubah jadi zona radiasi jamur. Efeknya? Emak yang tadinya tersenyum manis bak permaisuri kerajaan, langsung berubah mode jadi naga api. Stres instan terbentuk hanya dari gumpalan kain lembap yang tidak berdosa.
Sebaliknya, Kaum Bapak punya trauma tersendiri dengan hobi kerapian ala Kaum Emak. Bapak punya kebiasaan menaruh kunci motor atau dompet di atas meja TV. Menurut Bapak, itu tempat paling logis di muka bumi. Tapi bagi Emak, meja TV yang ada kuncinya adalah sebuah kecacatan estetika tata ruang.
Maka digesarlah kunci itu oleh Emak. Pas Bapak mau berangkat kerja dan panik nyari kunci, terjadilah dialog legendaris:
"Mah, kunci motor di mana?"
"Ya di tempat biasa!"
Masalahnya, "tempat biasa" versi Emak adalah konsep abstrak multidimensi. Bisa di dalam laci paling bawah, di dalam mangkok prasmanan, atau di selipan rak piring. Bapak yang nyari kunci sambil keringatan akhirnya ngelesot di lantai sambil elus dada, sementara jam dinding terus berdetak. Burnout sebelum sampai kantor!
Ini adalah dinamika baru di era serba online. Bapak lagi santai-santai menikmati kopi hitam di hari Minggu pagi, tiba-tiba ada suara cempreng di luar pagar: "PAKETTT!"
Bapak dengan sigap keluar, bertransaksi COD seharga Rp7.500. Pas dibuka, isinya adalah cetakan es batu bentuk bintang.
Lima belas menit kemudian? "PAKETTT!" lagi. Kali ini isinya jepit jemuran warna ungu. Dalam sehari, Bapak bisa berubah profesi jadi resepsionis pribadi Emak sebanyak delapan kali. Setiap bel rumah berbunyi, adrenalin Bapak melonjak bukan karena takut begal, tapi cemas menghadapi paket kerajinan tangan berikutnya yang tidak jelas fungsinya.
Entah kenapa, ada hukum alam yang menyatakan bahwa Emak akan selalu memilih waktu untuk bicara panjang lebar saat beliau ada di dapur dan Bapak ada di kamar mandi sambil menyalakan keran air.
Emak berteriak dari dapur dengan kalimat sepanjang naskah undang-undang dasar. Bapak dari kamar mandi cuma bisa merespons dengan: "HAH? APAAN?"
Emak mengulanginya dengan nada naik dua oktav. Bapak tetap dengarnya cuma suara air bergemuruh. Setelah lima kali pengulangan dan volume teriakan sudah sanggup memecahkan kaca tetangga, Emak akhirnya nyamperin kamar mandi sambil berkacak pinggang. Padahal yang diomongin cuma: "Nanti kalau ke depan, beliin garam ya."
Kebiasaan Bapak yang satu ini sangat misterius dan belum ada penjelasan medisnya. Bapak bakal jalan ke dapur, membuka pintu kulkas lebar-lebar, lalu berdiri melamun di depannya selama lima menit penuh.
Nggak ada yang diambil. Tidak ada yang diminum. Bapak cuma menatap botol kecap dan potongan semangka dengan pandangan hampa, seolah-olah pintu kulkas adalah portal menuju masa depan.
Sementara di belakang, Emak memperhatikan sambil menahan emosi karena bayangan tagihan listrik bulan ini mendadak berkelebat di ruang matanya. "Cari apa sih, Pak?!" jerit Emak. Dan Bapak cuma menjawab dengan polos: "Nggak cari apa-apa, cuma pengen ngadem."
Rumah tangga itu memang unik. Kita tidak dibikin stres oleh masalah berat setiap hari, tapi dikikis perlahan oleh kebiasaan-kebiasaan "ajaib" pasangan yang bikin mengelus dada.
Burnout domestik ini nyata, tapi obatnya sebetulnya cuma satu: ketawa bareng. Mulai hari ini, Bapak tolong gantungkan handuknya di jemuran, dan Emak tolong kalau menyimpan kunci pakai petunjuk arah GPS. Biar kerikil-kerikil di sepatu rumah tangga ini berubah jadi kenangan kocak yang bisa diceritakan saat kumpul keluarga!
Your email address will not be published. Required fields are marked *