
Banyak pasangan muda membayangkan drama rumah tangga itu bentuknya estetik kayak di drakor: konflik soal warisan, perebutan kekuasaan bisnis keluarga, atau hadirnya orang ketiga yang mukanya mirip artis papan atas. Padahal begitu kamu resmi menyandang status Kaum Emak dan Kaum Bapak, realitas kehidupan akan menamparmu dengan kenyataan yang jauh lebih absurd.
Penyebab pertengkaran paling hebat di dalam rumah itu jarang banget berupa perdebatan filsafat hidup. Pertumpahan emosi dalam ikatan suci pernikahan justru lebih sering dipicu oleh hal-hal yang saking konyolnya sampai tidak masuk dalam kurikulum Bimbingan Perkawinan. Mari kita bedah lima kerikil ajaib nan kocak dalam kebersamaan Emak dan Bapak yang sanggup menaikkan tekanan darah dalam hitungan detik!
1. Mitos "Bapak Lagi Nonton!" Padahal Sudah Ngorok 2 Jam
Ini adalah fenomena supranatural yang berlaku untuk 99% Kaum Bapak di seluruh penjuru negeri. Bapak bakal duduk di sofa setelah makan malam, menyalakan TV saluran olahraga atau berita, lalu dalam waktu lima menit matanya terpejam rapat dengan suara napas yang makin lama makin mirip mesin pemotong rumput.
melihat Bapak yang sudah melayang ke alam mimpi, Emak dengan niat baik dan hemat listrik mengambil remote lalu mematikan TV. Begitu tombol power dipencet dan layar menjadi hitam, secara ajaib mata Bapak langsung melek bugar!
"Lho, kok dimatikan, Mah? Bapak kan lagi nonton!"
Bapak bakal membela diri mati-matian bahwa beliau tidak tidur, melainkan cuma "meram sebentar sambil mendengarkan narasi berita". Padahal air liurnya sudah hampir menetes ke bantal sofa. Emak cuma bisa elus dada sambil mikir, sejak kapan tidur nyenyak berhadiah gelar "penonton setia"?
2. Skandal Gunting Kain Dipakai Buat Potong Kabel dan Kardus
Di dalam hirarki peralatan rumah tangga, ada satu benda yang kedudukannya lebih suci daripada mahkota kerajaan: Gunting Kain Milik Emak. Gunting ini biasanya berwarna perak tebal, disimpan di laci tersembunyi, dan hanya boleh menyentuh kain sutra, katun, atau bahan jahitan.
Lalu datanglah Kaum Bapak dengan proyek DIY-nya yang tidak terduga di hari Minggu. Bapak mau memperbaiki kabel kipas angin atau membuka paket kardus tebal. Daripada repot-repot mencari tang atau pisau cutter di gudang, Bapak melihat gunting kinclong tersebut tergeletak manis. Tanpa rasa dosa, KREK! KREK! Kabel tembaga dan kawat tipis pun dipotong pakai gunting keramat itu.
Begitu Emak mau pakai guntingnya dan mendapati mata pisaunya sudah tumpul serta bergerigi, jeritan Emak sanggup membuat burung-burung di pohon tetangga berterbangan. Bagi Emak, merusak gunting jahit itu dosanya setara dengan merusak masa depan keluarga!
3. Gunung Baju "Setengah Matang" di Atas Kursi
Di setiap kamar tidur Emak dan Bapak, pasti ada satu kursi tumbal. Kursi ini fungsinya bukan buat diduduki, melainkan buat menampung tumpukan baju dengan status hukum yang tidak jelas: Baju Setengah Matang.
Apa itu baju setengah matang? Itu adalah baju yang sudah dipakai Bapak selama dua jam buat beli pulsa ke depan, tapi belum bau keringat. Mau ditaruh di keranjang cuci, rasanya eman-eman karena masih bersih. Mau dimasukkan lagi ke lemari, rasanya haram karena sudah kena debu luar.
Akhirnya, baju itu dicemplungkan ke atas kursi. Hari Senin bertambah satu kaos. Hari Selasa bertambah celana jeans. Hari Kamis, tumpukan baju itu sudah membentuk struktur piramida yang sanggup berdiri sendiri tanpa bantuan tiang penyangga. Emak yang melihat kamar tidurnya berubah jadi tempat penampungan pakaian bekas cuma bisa menahan nafas sambil berdoa agar kursi itu tidak mendadak hidup.
4. Misi Navigasi "Kiri! Eh, Maksudnya Kanan!"
Saat naik mobil atau motor berdua, Kaum Bapak biasanya berperan sebagai pengemudi, sedangkan Kaum Emak memegang jabatan sebagai Navigator Eksekutif. Masalahnya, arah mata angin di dalam otak Emak itu sifatnya sangat fleksibel dan dinamis.
Saat mendekati persimpangan jalan yang padat, terjadilah dialog menegangkan:
"Mah, habis ini belok mana?"
"Kiri, Pak!"
Bapak dengan sigap mengambil lajur kiri dan memutar setir. Begitu kendaraan sudah belok, Emak melihat ke luar jendela lalu berteriak panik:
"Eh eh eh! Maksud Mamah kanan! Kiri yang jempolnya di sana itu lho!"
Bapak yang sudah terlanjur belok cuma bisa menginjak rem mendadak sambil menahan emosi yang bergolak. Belum lagi kalau Bapak tipe yang punya gengsi setinggi langit dan menolak pakai aplikasi peta online karena merasa "sudah hafal jalanan sejak tahun '90-an". Ujung-ujungnya, mereka muter-muter di kompleks yang sama sebanyak tiga kali sampai bensin mau habis.
5. Tragedi "Aku Nggak Punya Baju!" di Depan Lemari Berkapasitas 500 KG
Satu jam sebelum berangkat ke acara pernikahan kerabat, perang dingin jenis baru akan meletus. Emak bakal berdiri di depan lemari pakaian tiga pintu yang pintunya saja hampir tidak bisa ditutup karena saking padat relies isinya.
Emak bakal membalik-balikkan gantungan baju dengan raut wajah frustrasi, lalu berbalik ke arah Bapak sambil bilang dengan nada merana: "Pak, Mamah nggak punya baju buat kondangan nih. Bingung mau pakai apa."
Bapak yang sudah rapi dalam waktu lima menit—cuma modal celana bahan dan kaos kerah favorit sejak jaman kuliah—cuma bisa menatap lemari yang meluap itu dengan pandangan heran.
"Lho, itu baju merah yang kemarin baru dipake?"
"Ah, itu kan udah pernah di-post di Instagram bulan lalu! Masa pakai itu lagi?!"
Bapak pun langsung bungkam. Di mata Bapak, baju adalah penutup tubuh. Di mata Emak, baju adalah arsip digital yang tidak boleh berulang di media sosial.
Begitulah dinamika rumah tangga Kaum Emak dan Kaum Bapak. Kehidupan pernikahan itu memang bukan tentang mencari siapa yang paling benar, tapi tentang siapa yang paling pintar menahan tawa saat hal-hal konyol ini terjadi.
Kerikil-kerikil ajaib seperti gunting kain yang tumpul, navigasi arah yang tertukar, atau TV yang tidak boleh dimatikan padahal yang nonton sudah ngorok adalah bumbu-bumbu yang bikin hubungan jadi berwarna. Kalau semuanya berjalan lempeng dan sempurna, malah nggak ada cerita kocak yang bisa dikenang pas tua nanti.
Jadi buat Bapak-Bapak, tolong simpan gunting kain Emak di tempat yang aman. Dan buat Emak-Emak, kalau Bapak dibilang lagi nonton TV sambil merem, iyain aja... daripada beliau kebangunan terus malah minta dibuatkan kopi malam-malam!
Your email address will not be published. Required fields are marked *